Criminal : Aku Mencintai Penjahat!

Criminal : Aku Mencintai Penjahat!
Ketika Penjahat Di Usik


__ADS_3

“Trak!”


“Des!”


“Akh...!”


Andrean terpental ketika dadanya terasa nyeri di hantam suatu pukulan yang sulit dihindarinya. Pada saat itu telah berdiri sosok tubuh pada jarak dua langkah di depan Chiko. Aku langsung berlari saat genggaman kuat Andrean akhirnya terlepas. Ku dekap Chiko dalam pelukanku.


“Pa..pa....!” panggil Chiko dengan suara lirih. Rupanya Chiko masih memiliki kesadaran.


“Morgan...” Aku memekik memanggilnya.


Meski terselimuti ketakutan, namun kehadiran Morgan seperti lentera di malam penuh darah ini. Sedikit membuatku dapat bernafas sedikit. Aku seperti bernostalgia dengan masa lalu pertemuan pertama ku dengannya, saat Morgan berdiri tegap di depan kami seakan kami dapat berlindung di belakang tubuh gagahnya.


“Huh! Rupanya ada juga orang yang berisi disini! Kalau kamu tidak mau bernasib seperti mereka, katakan di mana Leandro..!” dengus Ben sambil berjalan ke depan.


Dengan langkah ringan dia mendekat pada laaki-laki berbadan tegap yang membentengi kami itu. Wajahnya tampak memandang rendah sekali terhadap Morgan.


“Pergilah kalian dari sini sebelum kuusir seperti anjing budukan!” bentak laki-laki itu yang tak lain adalah Morgan.

__ADS_1


“Ha ha ha...! sungguh lucu. Seekor kecoa busuk seperti kamu berani bicara begitu pada orang-orang Araster. Katakan saja dimana Leandro! Bed*bah itu harus mati di tangan kami malam ini! Kalau tidak tempat ini akan kami hancurkan termasuk orang-orangnya sekalipun, sampai dia keluar” Sahut Ben kembali.


Aku tak berhenti menyimak ucapan mereka, “Leandro..?” siapa dia? Apakah dia yang mereka cari? Apa hubungan Leandro dengan penduduk disini, mereka bahkan berani membunuh tanpa belas kasihan, menganggap kami seperti serangga tak berharga hanya untuk mencari seseorang yang bernama Leandro.


Morgan hanya diam, tak menjawab apapun. Namun, dia menarik Pistol dessert Eagle dari pinggang, yang tadi dibawanya pergi. Dia menodongkannya tepat di depan Ben, bersiap menarik pelatuknya. Meskipun tatapannya datar, aku tahu Morgan sedang marah. Marah yang sangat besar.


“Hmm... rupanya kau bernyali macan juga. Tapi sayang, hari ini kau musti mampus!” Ben bersiap ambil posisi, menberikan jarak pada kedua kakinya, lalu ikut menodongkan pistol di depan Morgan.


Walaupun dia berkata begitu namun aku tahu dalam hatinya terbesit juga perasaaan was-was, karena bila ku perhatikan dia danreannya yang bernama Andrean itu memiliki kemampuan bertarung yang tak jauh berbeda. Tapi dengan sekali serang saja, kawannya itu dapat dijatuhkan dengan mudah oleh Morgan. Tentulah Morgan bukan orang sembarangan bagi mereka.


“Yeaa....” Ben membentak ringan, aku langsung memejam mata dan memeluk Chiko erat. Saat Ben bergerak cepat menarik pelatuk pistol nya ke arah Morgan. Tapi entah apa yang terjadi, di saat yang berbarangan. Bunyi tembakan juga terdengar, Pistol yang di pegang Ben terjatuh ke tanah.


Mataku membelalak saat kulihat malah Ben yang jatuh ke tanah, di tengah-tengah dadanya keluar banyak darah segar. Aku mendongakkan kepala menatap Morgan, auranya menjadi menyeramkan, ini lah sosok penjahat sejati yang ada dalam dirinya, seperti seorang pembunuh ahli. Mungkin, ini keterampilan lain yang harus di miliki olehnya dalam menjalankan aktivitas kriminalnnya.


dengan sigap Andrean satu-satunya musuh yang tersisa bergerak ke kiri sambil menghunuskan pisau yang direbutnya dariku tadi. Tapi dengan memiringkan sedikit tubuhnya, Morgan dapat menghindarinya dengan manis. Kepalan tangan kirinya dengan cepat menghantam dada kanan lawan.


“Hiyaaat....!”


“Uts!”

__ADS_1


Tak ada ampun lagi, mungkin Morgan sudah sangat muak. Tubuh Andrean terjerembab sejauh satu tombak. Isi perutnya seperti diaduk-aduk tak karuan saat Morgan menendang ke arah perut.


“Des!”


“Akh....!”


Kali ini agaknya morgan betul-betul geram. Amarahnya meluap, maka tanpa berpikir panjang di raihnya Pisau Andrean yang terletak di tanah kemudian dengan cepat tubuhnya melesat ke arah Andrean


“Mampus Lah kalian! Berani mengusik kemarahanku....Yeaa....!”


Tidak, aku tidak sanggup lagi. Morgan tidak seperti mereka, Morgan bukan manusia tak berperasaan seperti musuhnya. Aku tak sanggup menyaksikan korban lagi, hingga sesaat ujung pisau itu menghunus dada Andrean, pada saat itu aku langsung memekik.


“TIDAK...! HENTIKAN...MORGAN” aku menangis sambil memeluk tubuh Chiko erat.


...****************...


Halo Ini Author 🙋😭☝


Terima Kasih kak untuk semua dukungannya, Terima kasih author ucapkan untuk semua dukungan kakak. selamat 🎊🎉 kita semua sudah sampai di bab 10 yeay, sebuah perjuangan yang tidak mudah.

__ADS_1


karena semua dukungan kakak, author beberapa hari ini jadi ikut semangat gencar memperkenalkan Mas Morgan dan mbak Isabella 😭🤝. yuk jangan lupa Follow instagram kita ya bunda dan abang sekalian : ( Unchiha.sanskeh )


__ADS_2