
"biar saya ceritakan, Nona." ucap bibi Rosy, lalu ia mulai mengambil posisi untuk mulai bercerita.
"Saya masih ingat saat itu :... "
Saat itu malam, mungkin sekitar pukul 10 atau 11 malam. Anak-anak sudah tidur, aku terbangun saat ada suara ketukan pintu yang memanggil namaku dari bawah.
dari suara nya yang serak dan berat, aku meyakini bahwa itu adalah tuan Morgan. segera ku singkirkan selimut ke tepi kemudian bangkit dari tempat tidur.
suara itu semakin jelas saat langkahku semakin dekat dengan pintu depan. lantas segera ku raih gagang pintu dan membukanya secepatnya.
"Tuan?" kataku, saat ku dapati sosok tuan Morgan di depan pintu.
"Maaf bibi Rosy, ganggu malam-malam."
"Tidak, tidak. tuan tidak pernah mengganggu sama sekali. masuk lah dulu tuan."
ku persilahkan dia masuk, rambutnya sedikit basah karena basah terguyur air hujan.
__ADS_1
"Ada apa tuan? apa yang membuat tuan kemari malam-malam tidak biasanya?"
"Salah satu anggota kami tertangkap, dan sekarang mungkin tengah di interogasi. mau tidak mau, sudah pasti keberadaan kami pun telah terendus. karena itu, malam ini kami akan berkumpul untuk menyelesaikan semuanya sebaik mungkin. kalau situasi memburuk... mungkin aku akan kembali ke negaraku segera bi,"
aku hanya diam dengan mimik muka duka, ku pahami bahwa situasi tuan Morgan sekarang sedang tidak baik-baik saja, bahkan sangat genting, lebih genting dari kegiatannya di pasukan Mafia Araster.
"Tetapi, ku rasa tanpa perlu ku jelaskan pun bibi pasti paham bahwa rencana itu tak akan semudah dan berjalan semulus itu. pemerintah melalui angkatan Darat, laut dan udara pasti telah mengepung ketat batas batas wilayah. namun, yang lebih mengganggu pikiranku saat ini bukanlah ketakutan akan tugas dan nyawaku, tetapi Isabella. aku punya dia sekarang! dan dia selalu menungguku pulang. aku tak ingin dia mengkhawatirkan keadaanku, karena itu bibi Rosy aku butuh bantuanmu."
dia mendapatkan kedua tangan keriputku, tatapan matanya sendu seakan menyimpan kesedihan yang begitu dalam.
"Apa yang tuan butuhkan? pasti saya akan membantu sebisa saya."
"Jika situasi sulit yang ku khawatirkan malam ini terjadi, maka besok aku pasti akan mengantar Isabella ke sini. tolong rawatlah dia bibi, dia akan membantumu juga, dia jauh lebih mandiri sekarang. selama aku pergi, aku sudah menyiapkan dua buah surat untuk nya."
"Jika dalam waktu satu bulan sejak kepergianku, aku masih tak kunjung kembali ke sini untuk menjemputnya. tolong berikan surat yang ini untuknya." katanya kembali sambil memberikan surat yang depan amplop nya sudah di beri tanda bintik kecil di ujung kanan.
lantas ku ambil surat yang diberikannya itu, kemudian dia mengangkat lagi surat yang terakhir. "Dan ini, surat yang kedua dan terakhir bibi Rosy, jika aku tak kunjung kembali dalam waktu tiga bulan, tolong berikan ini juga untuknya. itu artinya, aku tak akan pernah kembali lagi. aku telah tiada, aku gugur dalam tugas dan telah mati... Sebab aku tak mungkin meninggalkannya begitu saja, semua akan ku lakukan hanya untuk bersama dengan Isabella, akan ku terjang apapun untuk kembali datang menjemputnya lagi, tetapi aku tak mungkin bisa melakukan itu semua, jika nyawaku ini telah terpisah dari raga."
__ADS_1
"Tuan... " kataku mulai terisak.
"Tenanglah bibi Rosy, jangan bersedih. sejauh apapun kita berpisah aku selalu mencintai kalian. sekali lagi aku mohon bantuan mu, berikan pula buku ini jika ia telah membaca surat dan menanyakannya padamu. aku sengaja tidak menulis tanggalnya, jadi aku mohon bibi sesuaikan saja waktunya."
"Aku harus pergi sekarang!" katanya bergegas.
namun sebelum ia pergi dengan motor nya. ku panggil dia sambil merintih.
"Tetaplah di sini tuan, jangan pergi. Anak-anak dan nona membutuhkan anda."
"Begitu juga aku, untuk melindungi kalian aku akan melakukan apapun. doa kan saja!" katanya dari kejauhan sambil memasang helm.
"Tuan... " timpal ku lagi sambil terisak.
dia hanya tersenyum kemudian pergi menerjang hujan.
...****************...
__ADS_1
📌 mampir ke sini juga yuk kak, semangat puasa bagi yang menjalankan ya! jaga kesehatan selalu, kami mencintai kalian.