
Sepulang dari panti asuhan kami langsung pulang ke rumah. sepanjang jalan memeluk tubuh Morgan mengingatkan aku saat pertama kali aku menyentuh tubuhnya setelah kejadian di pesta pertunangan antara aku dan David, tak ada yang berubah suhu tubuhnya selalu hangat.
Baru sehari kami meninggalkan rumah, aku sudah merasa sangat merindui suasana di bangunan tiga tingkat ini. Aku berbaring di ranjang dari kisi-kisi jendela, angin bertiup sepoi-sepoi basah, mengusik tubuhku. Ku ambil buku yang terakhir kali aku baca. Tapi, mataku tak lagi mampu membacanya. Rasa penat hampir memadamkan seluruh seleraku. Masak malas, makan malas, apalagi buku. Aku hanya bisa bermalas-malasan, dikutuk kesunyian yang mematikan.
Nanti malam aku akan menemani Morgan merampok di swalayan. Apakah aku bisa melakukannya dengan baik? Ku pikir dia akan ragu-ragu untuk mengajakku.
“Minggir! Itu tempat tidurku,” tutur Morgan yang baru masuk ke dalam kamar. “Kamu baru sampai langsung ke kamar dan tidur di kasur orang lain.”
“Memangnya kenapa? Tidur di kasurmu bagiku itu biasa saja,” kataku. “Kita kan suudah pernah tidur bersama, meskipun baru sekali sih. Dan ada Lily juga.”
Morgan mengisap rokoknya pelan dan tenang seakan dia tak ingin melewatkan sedikitpun nikmatnya rasa tembakau.
“No! Yang begitu tidak bisa disebut tidur bersama ya.” Katanya meyakinkan. “Oh, ya. Ini!” Morgan melempar sesuatu kepadaku.
Hap
__ADS_1
“Pistol?” tanyaku padanya.
“Kamu ingatkan malam ini kita akan melakukan apa? Belum satu hari aku mengatakannya tidak mungkin lupa.”
“Tidur bersama?” kataku menggoda.
“Dasar Bodoh..! masih kecil, tapi pikirannya mesum terus.”
Aku tertawa saat melihat Morgan marah sambil salah tingkah, wajahnya sedikit memerah meski sedikit tertutup janggut dan kumisnya yang lebat. “Ha..ha..ha, Morgan salah tingkah tuh.” Morgan mengerutkan kening meski samar ku lihat senyum tipis di bibirnya.
“Tidak bisa! Pakai itu saja. kamu harus menyadari pengalamanmu yang masih sangat miskin dalam hal kriminalitas, apalagi pakai pistol,” tegasnya. “Dalam hal ini ku pikir aku sangat peka terhadap kamu. pistol itu namanya glock, sama saja kok dengan deagle. Tapi ini lebih mudah di gunakan. Di lihat dari kemampuanmu sekarang, kalau pakai deagle Cuma akan menyusahkan ku saja nanti. Kamu harus ingat analisaku ini.”
“Oh, ya?”
“Hei, kamu mau apa?”
__ADS_1
Morgan angkat tangan saat aku menodongkan pistol dari ranjang kepadanya. “test..!” kataku sengaja menjahilinya. “jangan main-main ya, aku juga bisa.”
“DOORR” aku memekik meniru suara tembakan saat peluru lepas dari pistol membuat Morgan langsung memejamkan matanya karena terkejut.
“Isabella...! kemari kamu.”
Morgan kembali mengisap rokoknya, kali ini apinya sudah hampir mencapai pangkal rokok. Lalu dia membuang pangkal rokok ke lantai dan menginjak-injak apinya sampai mati. Aku yang masih tertawa karena merasa berhasil menjahilinya tidak menyadari bahwa Morgan menghampiriku yang masih berada di kasur. “Awas ya kamu,” Morgan mengangkat kedua tangannya sudah siap menyerang ku.
Kemudian langsung digapainya perut ku, jari-jarinya sangat lincah menggelitik tiap inci tubuh bagian atas. Aku menggeliat menahan geli, tertawa hingga mengeluarkan air mata. Tanganku pun tak mau kalah lincah berusaha menghalangi tangan Morgan yang semakin kiat meluncurkan serangan gelitik.
Terlalu asyik, pun tubuh kami. Satu berusaha menyerang dan satunya lagi berusaha menahan. Aku dan Morgan tertawa penuh suka ria, hingga kelincahannya tanpa sadar malah menyentuh dadaku. Kami langsung terdiam, suasana yang tadi ramai, mendadak jadi sunyi kikuk. Morgan langsung menarik tangannya dan bangkit dari ranjang.
“Ma-maaf, aku tidak sengaja.” Tanpa menatap wajahku, dia menyembunyikan si pipi merah jambu.
Begitu juga aku, berpaling muka sedangkan kedua tanganku sibuk melindungi dada yang baru saja di sentuh olehnya. “Ngh, tak apa aku mengerti.” Jawabku malu-malu.
__ADS_1