
Besok paginya, aku sudah siap di dapur, tadi sudah kulihat dia masih tidur di ranjang. Aku tidak tahu kapan dia pulang, sepertinya tidurku benar-benar nyenyak karena kasur baru. Lalu saat aku sibuk menata sarapan di meja makan, Morgan datang dengan mata berbinar-binar, membuatku langsung kikuk malu-malu. Aku seakan menyaksikan sosok jenderal perang dari kerajaan-kerajaan zaman dulu, sangat gagah dan bersahaja.
Dia tersenyum, mungkin agar jiwaku bergetar. Dia menatapku dengan cara setengah menyelidik, mungkin agar aku menangkap isyarat hatinya. Seandainya aku adalah seorang pemusik, akan ku mainkan irama paling murni dari seluruh ekspresi jiwa setiap insan; seandainya aku ini adalah seorang pelukis, akan ku goreskan warna terbaik dalam sketsa indah saat aku menyaksikan keajaiban dunia dalam bingkai seorang Penjahat. Tapi tuhan, aku bukanlah seniman. Aku hanya dapat menangkap kehadirannya yang penuh energi, membiarkan diriku hanyut dan mengikuti setiap kata hatinya yang liar dan misterius.
“Kamu pernah kepikiran untuk potong rambut tidak? Atau mencukur janggut dan kumis yang sudah menguasai wajahmu itu?”
“Tidak pernah, repot.”
“Sudah panjang dan lebat begitu. Apa ada arti khusus? Seperti biar kamu lebih terlihat sangar, dan memperdalam karaktermu sebagai seorang kriminal?”
“Tidak, kalau sudah tidak nyaman ya baru ku potong.”
“Berarti sekarang masih nyaman?”
“Bagaimana ya... rasanya aku sudah menua”
“Kenapa? Kamu tampan kok!”
“Bukan begitu! Saat masih usia dua puluh tahunan seperti kamu ini, aku kurang senang berambut gondrong apalagi brewokan begini. Pasti langsung ku rapikan. Aku teliti betul dengan rambut yang mulai memanjang. Ku pikir hanya orang tua yang sudah tidak memperhatikan penampilan, tapi sepertinya itu semua salah.”
__ADS_1
“Salah?”
“Berpikir repot memotong rambut itu pertanda sudah tua”
Aku diam sejenak, lalu tersenyum simpul padanya, “Mas Morgan... kamu tetap tampan dengan rambut panjang dan brewokan loh.”
“Berisik!” dia mendengus dengan suara yang dapat aku dengar.
Setelah selesai sarapan, kami melanjutkan aktifitas masing-masing. Morgan duduk di kursi depan balkon kamar sambil membaca Koran, dinyalakannya rokok dengan gaya yang khas : setengah menunduk, mendekatkan wajah ke pemantik, dan melindungi nyala api dengan menggunakan telapak tangan. Sementara, angin terus ribut mengganggu dari luar sana.
Aku sibuk merapikan kamar, menyusun buku-bukunya dalam suatu lemari Khusus. Buku-buku yang dia simpan dan tertumpuk dalam kardus itu, ku bersihkan lalu ku tata benar-benar.
“Aku sudah membaca semuanya, bahkan ada yang berulang kali aku baca. Kalau ada waktu senggang kamu juga boleh membacanya.”
Aku termenung menatapnya, lalu menjawab “Iya, akan ku baca kalau ada waktu senggang.”
“Sip. Jadi kamu tidak terlalu suntuk di rumah, setelah selesai beres-beres.”
“Hmm, Terima kasih”
__ADS_1
Morgan lalu memalingkan wajahnya kembali menatap panorama langit dari luar balkon. Aku termenung saat membuka loker di lemari, aku melihat lagi benda keramat yang membuat Morgan marah saat pertama kali aku datang ke sini. Benar, itu adalah pistol.
Sesekali aku menoleh ke luar memperhatikan gerak-gerik Morgan, saat sudah merasa aman, karena rasa penasaran yang tinggi, aku meraih kembali senjata mematikan itu. Rasanya aku ingin mengumpati benda hitam ini. Sebab, karena dialah Aku kehilangan ciuman pertamaku, aku di marahi Morgan, dan Morgan mengakui identitasnya sebagai seorang kriminal.
Kali ini senjata Api ini kembali menyentuh telapak tanganku. Ku perhatikan dengan seksama dan baik-baik.
“Dessert Eagle...” dari bentuknya pistol ini bukanlah pistol sembarangan yang bisa di miliki oleh seorang perampok gelandangan seperti Morgan. apalagi bukan Cuma mengenai desainnya saja, aku juga ingat saat Morgan menjelaskan detail senjata api ini. “Itu adalah Desert Eagle, pistol mematikan yang di buat di luar negeri. Dengan peluru magnum yang selain bisa menusuk juga bisa menciptakan ledakan pada target...”
buatan luar negeri, dan dampaknya... jelas saja ini bukan benda sembarangan dan Murahan, bagaimana bisa seorang Morgan bisa memilikinya?
Oh, Sial. Aku langsung cepat-cepat memasukkan benda itu kembali ke dalam loker. Saat ku dengar suara kursi yang di dorong Morgan.
...****************...
Hai, Apa kabar? Ini author hehe.
Sudah baca Novel author lagi...terima kasih. Author sangat senang karena Novel ini Author buat sedikit berbeda dari Novel-Novel sebelumnya, tapi masih enak di baca kan?! Hehe.
Apa yang paling di nantikan bulan ini? Bagi author bulan ini cukup berat, ada saja rintangan yang muncul terutama saat menulis, kadang author merasa sedikit gugup bahkan hampir ingin Ambil libur update bab karena merasa lelah, tapi sebaliknya ini menjadi pengalaman yang berharga untuk author. Karena dengan pemikiran seperti inilah, author bisa terus lanjut memikirkan ide ide dan menuangkannya kembali dalam tulisan. berusaha menganggap hal yang sulit menjadi lebih mudah ternyata bisa merubah pola pikir kita loh!
__ADS_1
Author akan berusaha sebaik mungkin! Tapi, seharusnya dalam kondisi apapun, kita harus tetap menghargai diri sendiri dan jangan menyerah terhadap hal-hal sulit.