
Dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya, dia hidup dan berusaha menjadi dirinya sendiri. Sungguh suatu usaha yang pasti tidak mudah selama ini. Banyak pilihan beresiko yang dia ambil, dengan menetapkan jalan hidup sebagai seorang penjahat, tukang rampok, dan pemberontak, banyak yang dia korbankan untuk itu semua, hampir sama banyaknya dengan yang dia inginkan dan yang dia dapatkan.
Aku memang baru mengenal dia, dan aku sadari bahwa aku memang tak sehebat dia. Tapi, sejak pertemuan pertama ku dengannya, dari bantuan yang diberikannya padaku dan orang-orang disekitarnya, dia menjadi salah satu pria paling penting dalam hidupku. “kamu adalah kehendakku, wujud dari keinginanku, dan tempatku beristirahat yang memberikan ketentraman dari penggambaran jiwa ku ini. Kamu adalah alasan aku harus merubah kepribadian ku yang seperti hewan peliharaan, yang biasa bermanja dan bergantung pada tuannya.”
“Sudah ku bilang Nama Om, siapa?”
“Morgan”. Jawabnya singkat
Aku tertarik padanya justru karena dia berbeda denganku. Bila dibandingkan dengan dirinya, pikiran, perasaan, perilaku dan cita-citaku jauh lebih sederhana. Dia adalah cermin yang belum pernah aku lihat sebelumnya. dia memiliki dunia yang belum pernah aku saksikan. Ku rasa aku jatuh cinta padanya, karena dia memberikan aku pelajaran bagaimana menyatukan berbagai unsur rumit dalam diriku ini ke dalam bentuk yang sederhana. Dia adalah visi yang selama ini aku cari.
Pagi-pagi sekali dia sudah ada di dapur, aku kecolongan waktu. Padahal dia pulang sudah larut sekali, ataukah dia memang tidak tidur? Di meja kitchen bar, dia sudah menyiapkan nasi goreng dengan omelette setengah matang di atasnya.
“Kamu memasaknya? Kenapa tidak bangunkan aku saja? Jangan rebut kewajibanku setelah di pungut!”
“Aku tidak mau mati cepat! Makanan kamu semalam sudah seperti racun”
Jawaban ketusnya itu membuat bibirku mengerut, “Morgan ya, cocok sekali. Ekspresi dan tindakan kamu benar-benar mencerminkan Morgan”
“Kamu ngomong apa? Makan Nasinya dulu”
Aku menyuap sarapan yang dibuatnya, ya.. memang seenak itu. Perasaan enak membuatku terbuai hingga aku sadari bahwa posisi ku bisa terancam, kalau dia yang memasak, dan aku tidak berguna, tidak bisa melakukan apa-apa, aku bisa terusir.
“Kamu pulang sudah larut malam, lalu bangun pagi-pagi begini. Buat sarapan yang tidak mudah begini, kamu tidak cukup istirahat tau”
Dia meletakkan sendok makannya kembali, mendarat ke piring. Hembusan nafas panjangnya begitu terdengar jelas di telinga. Aku lantas bangkit dari tempat duduk dan berjalan memutar ke arahnya.
“Hei. Mau aku hibur tidak?” bisikku padanya.
__ADS_1
Dia lantas menjawab, “Sudah ku bilang hentikan!! Aku bukan pria yang gampang terobsesi dengan hal begitu, aku tidak bisa di rayu oleh remaja putus asa seperti kamu”
“Kenapa harus merayu begini? Mau kamu apa? Kalau aku benar-benar kebablasan, bagaimana?” sambungnya
“EH.. Ya tidak masalah, aku belum pernah melakukan itu dengan pria lain kok, Cuma menawarkan dengan kamu saja”
Dia bangkit dan membalikkan posisi menekan tubuhku di meja makan, kedua tangannya memblokir tubuhku di sisi kiri dan kanan.
“Kamu ingin Main denganku?”
“Ti..tidak bukan begitu”
Oh, bodohnya.. aku yang pertama kali merayunya. Namun, sekarang aku malah kikuk begini. Jantungku langsung berdebar kencang begini. Seperti mau meledak jadi kepingan-kepingan bintang.
BRAK!!!
Aku meneguk saliva sedikit kasar, diam sejenak. Ku lingkarkan tanganku yang sedikit gemetar ini ke batang lehernya “Biar aku bertanya balik...” kataku menggantung sedikit ucapanku.
“Padahal di depan kamu ini sudah ada seorang perempuan yang merendahkan dan menyerahkan dirinya pada kamu, ada perempuan yang tidak menghargai dirinya sendiri hanya untuk merayu laki-laki, kenapa kamu masih berpikir untuk menghargainya? Kamu adalah seorang penjahat, lalu apa bedanya dengan menyerang ku juga?”
“Hah?”
“Kenapa ekspresi mu itu berubah? Yang aneh itu Kamu, Morgan. Sampai sekarang aku tak memiliki keahlian apapun untuk bisa bertahan hidup, aku minta di pungut oleh kamu dengan harapan bisa membantu kamu di rumah, tapi aku terlalu payah, aku tidak bisa memasak, beres-beres atau apapun untuk menyenangkan kamu. Memangnya kenapa kalau aku merayu kamu? Aku bersedia selama itu bisa membuat kamu senang, dan tidak mengusirku. Bagiku itu imbalan yang pas.”
Morgan menarik tangannya yang tadi menekan meja, dia meraih pundakku lalu mendorongku sedikit menjauh dari tubuhnya, mungkin risih atau apa.
“Kamu bodoh ya? Siapa namamu?”
__ADS_1
“Isabella”
“Kamu tinggal dimana? Pria yang kemarin memukulmu, apa kamu pernah melakukan ini juga padanya?”
Aku menunduk tak berani menatap matanya, “Aku tinggal mengontrak di apartement kecil pusat kota, pria kemarin itu adalah orang yang baru aku kenal beberapa hari, lalu saat bertunangan dia ketahuan bermesraan dengan perempuan lain. Aku menegurnya lalu dia marah dan memukulku begitu. Ya, memang saat awal aku mengenalnya dia memang sedikit sulit mengendalikan nafsu, tapi aku sedikit terkejut bahwa dia rupanya juga adalah seseorang yang kasar”
Maaf ibu, aku tidak bermaksud tidak mengakui keberadaanmu, hanya saja aku takut jika jujur dan dia tahu aku masih memiliki keluarga, dia akan benar-benar mengusirku dari tempat tinggalnya. Meskipun ada sedikit kebohongan, tetapi tentang David si hidung belang itu aku harus menceritakannya dengan detail.
“Kamu tidak bisa apa-apa, kalau Cuma bisa bermanja, lalu Tujuan hidupmu itu apa?”
“A..Aku, Aku akan berusaha...”
“Berusaha apa? Jangan coba-coba menbodohiku! Aku tidak tahu hubungan mu dengan kekasih-kekasihmu itu bagaimana, yang pasti kalau kamu mencoba merayuku hanya untuk bertahan dan menumpang hidup, ku katakan aku sama sekali tidak tertarik dengan tubuhmu, lalu bagaimana jika aku mengusir kamu sekarang?” tegasnya, dia menaikkan nada bicaranya membuat aku tertegun.
“Aku tidak tahu harus bagaimana...” jawabku dengan nada pelan.
Dia menegakkan tubuhnya sempurna, dagunya sedikit naik terlihat sedikit arogan, matanya menatapku tajam. Tak ada senyum sama sekali. mungkin ini caranya agar orang lain segan saat dia berbicara.
“Kamu harus belajar, bekerja!!”
Aku menegakkan kepalaku sekarang, pupil mataku membulat memfokuskan tatapan pada sosok bersahaja Morgan.
“Chiko, anak-anak di panti, dan anak kecil lain di luar sana mereka semua bisa bekerja dan mencari uang. Mereka belajar dan mencoba hidup berdiri di kaki nya sendiri”
“ta..tapi..”
“Tidak punya uang, tidak ada tempat tinggal, tidak memiliki kemampuan apapun, Cuma bisa menjual tubuh. Kamu terlalu manja dan berpikir terlalu dangkal untuk usia begini, biar aku benahi jiwa lemah kamu itu, ku izinkan kamu tinggal di sini!!” Sambungnya.
__ADS_1