Criminal : Aku Mencintai Penjahat!

Criminal : Aku Mencintai Penjahat!
Aku Mencintaimu!


__ADS_3

“Kalian sedang apa? Sudah beres belum? Mobil angkut nya sudah sampai. Ayo cepat bawa barang masing-masing turun ke bawah!"


Lagi-lagi, nampaknya Morgan sudah sangat akrab dengan kebiasaan muncul tiba-tiba. Aku yang melamun lantas terkejut, lama-lama tinggal bersama Morgan, aku bisa terkena serangan jantung.


“Siap, papa!” sahut anak-anak serentak. Mereka bergegas menarik resleting tas dan berlarian turun ke bawah.


Supir membantu menyusun barang di dalam box belakang, setelah itu anak-anak naik ke dalam Mobil yang memuat penumpang cukup banyak di temani bibi Rossy. Sedangkan aku dan Morgan duduk di bagian depan mobil box yang mengangkut barang.


Mobil yang kami tumpangi terus melaju. Dia terus bersenandung. Suaranya sungguh sangat menghiburku. Bagaimana mungkin pria sebengal ini bisa selembut itu? Ah, seandainya... dan bagaimana mungkin dia ingin aku menemaninya makan malam romantis seperti David dan aku dulu? Itu tidak istimewa, karena aku dan dia sudah terbiasa makan bersama di rumah. tapi malam ini ya tuhan,aku harap bisa makan malam berdua bersama dia menikmati bintang-bintang di roof top, itu saja.


Kami kemudian berhenti di sebuah bangunan tiga tingkat dengan suasana tenang. Kami langsung membawa barang-barang kecil ke atas, karena lantai atas adalah kamar. Kami mengikuti langkahnya dari belakang. di lantai paling atas ada ruang terbuka yang dari sana pemandangan langit terbentang lebar. Semua sibuk berkemas, hingga tak terasa langit sudah menjingga, matahari mulai tergelincir ke arah barat, menuju tempat peristirahatannya.


Bibi Rossy memanggil dari lantai bawah mengajak kami untuk makan malam. Anak-anak kembali berhamburan menuju ruang makan. mereka sangat antusias, Sepertinya sudah sangat lapar, kehabisan energi karena seharian berkemas pindahan. Lantas dengan cepat ku raih tangan Morgan sebelum dia ikut pergi ke lantai bawah.


“Kenapa?”


“Kita makan malam di rooftop berdua, yuk! Ada yang ingin aku katakan.”

__ADS_1


“Soal Apa?”


“Ikut saja dulu.”


Morgan akhirnya menurut, dia mengikuti kehendakku. Ketika sampai di lantai atas panorama langit malam terbentang lebar, seakan pertemuan kami berlangsung di bawah restu bintang-bintang. Akan tetapi ruang terbuka ini membuat angin malam berhembus kencang menyentuh tubuh kami, aku sampai menggigil saat pertama kali bersentuhan dengan angin malam ini. Morgan yang begitu peka menanggalkan jaket kulitnya dan membentangkannya menyelimuti tubuhku.


“Disini dingin, lebih baik kita masuk saja dan makan malam bersama dengan yang lain.”


“Tunggu sebentar! Sebentar saja kita bicara berdua di sini malam ini.”


“Morgan, tadi pagi aku mendengar sebuah kalimat dari Anthony. Tentang cinta dari seorang tokoh dunia bernama Albert. Aku yakin kamu pasti tahu, tetapi yang lebih pasti, kalimat itu mewakili perasaanku ke kamu.”


Aku diam sejenak, membetulkan jaket yang tadi di pakaikan nya padaku, lalu kembali berkata,


“Bagimu mungkin ini sesuatu yang aneh. Bagaimana mungkin aku bisa jatuh cinta padamu? Aku Cuma seorang Isabella yang kesepian, tidak punya teman dan di khianati tunangan. Akhirnya, karena tertekan, dia lari kepada seseorang yang menolongnya saat teraniaya. Dia di pungut oleh seorang pria penjahat yang selalu telribat dalam tindakan kriminal. Lalu dengan begitu lancang dia jatuh cinta kepada si pria penjahat dan minta di rawat dengan gaya setengah memaksa. Tapi aku tak peduli dengan penilaian semacam itu. Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Aku tak lagi mampu memendamnya lebih lama. Jiwaku sudah tak kuat lagi menampung perasaan ini.”


Dia membisu terdiam kaku. Apa yang baru aku katakan kurasa masih sangat jelas di telinganya.

__ADS_1


“Aku mencintaimu,” tegasku. “ku nyatakan perasaan ini, karena seperti yang kamu jelaskan pada Anthony dan anak-anak bahwa cinta itu adalah kemampuan jiwa seseorang untuk merenungkan dunia yang menjadi objek renungannya, sampai jiwa itu menjadi penuh dan luas menjadi universal. Perasaan ini adalah milik kamu, jika kamu tanya mengapa aku bisa mencintai kamu, sebab cinta itu adalah sesuatu yang melebihi batas pengetahuan, dia lebih luas dari jangkauan otak. Jadi seperti apapun dirimu, aku tak menemukan alasan apapun untuk cinta ini.”


Dia memandangiku, lalu berkata,


“Isabella, cinta dalam pengertian Albert adalah cinta yang tidak mentah, melainkan yang matang. Dalam cinta, dorongan birahi merupakan kekuatan inti yang begitu kuat sekalipun segala sesuatu yang birahi belum tentu di landasi cinta. Cinta yang matang mampu mengalihkan dorongan birahi dari ppemuasan secara jasmani menuju pemuasan rasionalitas, sehingga daya kreatif seseorang menjadi kuat, seperti Albert.”


“Sekuat Bom Atom?” tanyaku.


“Kalau sekuat bom atom, aku ibarat kota H dan kamu kota N. Cinta akan membuat kita mati, rusak dan hancur...”


Angin berhembus semakin kencang, malam tiba-tiba terasa kian sunyi.ada sebutir bintang yang menyendiri. Di saat itulah rambutnya tergerai karena simpulnya terlepas dan kusaksikan ketampanannya yang alamiah, garis wajahnya begitu seimbang dengan pahatan anatomi yang sempurna.


Namun, di balik wujudnya yang penuh energi menyala-nyala. Terdedah ekspresi yang penuh duka. Ingin rasanya aku memeluknya, walau hanya malam ini saja, sekadar agar dia tidak terlalu berat memikul beban dirinya yang di simpan begitu baik, hingga tak ada siapapun yang boleh mengusiknya.


“Lupakan perasaanmu Isabella! Karena kita hanya akan berakhir hancur jika ada cinta. Seperti kota H dan Kota N yang mati karena bom atom Albert, hasil karya dari perasaan cintanya terhadap pengetahuan.”


Seketika bulir hangat berjatuhan membasahi pipiku, aku terisak dan tak berdaya untuk mengusap air mata ini. Morgan enggan menatapku, entah aku terluka karena penolakannya, atau aku terluka karena binar matanya yang menyimpan kesedihan, aku tersayat saat merasakan dia seperti kesakitan oleh luka di hatinya.

__ADS_1


__ADS_2