Criminal : Aku Mencintai Penjahat!

Criminal : Aku Mencintai Penjahat!
Tolong Temani Aku


__ADS_3

Kami kembali terdiam dan tenggelam dalam perasaan masing-masing. Malam kian meraja dengan bintang-bintang yang berkedipan. Angin malam berdesir kian kencang. Tubuhku sedikit menggigil karena memakai dress merah ini. Aku menatapnya sambil menggigit bibir dan bertopang dagu, dan dia menatapku sambil menyilang tangan di dada. Kami saling bicara lewat mata, sementara mulut kami terkunci.


“Kamu tahu?” Morgan membuka omongan, dengan senyum simpul dia bicara padaku.


Tatapannya pun begitu lembut terlihat sangat tulus. “Kamu bilang kalau kamu tidak berguna untukku, dan hanya menyusahkan aku saja, itu tidaklah benar. Sejak kamu datang, aku sedikit merasakan perubahan.”


Ku tatap matanya lebih dekat untuk memastikan bahwa dia tidak main-main dengan kata-katanya. Tatapannya nanar dan sangat tulus, seperti bersyukur memungut ku disini.


“Makan sambil bercerita, aku tidak lagi tidur sendirian, aku tidak tinggal disini seorang lagi. Berkat kamu, rumah ini terasa lebih ramai dan lebih nyaman. Aku jadi merasa harus pulang, karena ada seseorang yang menungguku. Keseharian ku juga jadi lebih menyenangkan berkatmu, Isabella.”


Aku langsung terisak, kelopak mataku terasa panas. dia membuatku merasa lebih berharga hingga aku hanyut dalam suasana haru yang diciptakannya.


“Makanya, aku tidak akan meminta apapun lagi. Karena aku ini Cuma berandalan yang kesepian.”


Benar, seharusnya kami membicarakan ini dari awal. Aku minta di pungut dan numpang hidup padanya secara sepihak. Aku merasa senang karena dilindungi olehnya, senang karena dia yang justru berpikir untuk membimbingku jadi mandiri, dia sadar akan kelemahanku namun tidak mengambil keuntungan di atasnya. Semua itu menjadi niat tulusnya. Tapi tidak adil rasanya karena aku malah salah paham pada niatnya, aku malah jatuh cinta karena kebaikannya, sampai jadi egois begini. biarlah, aku memperjuangkan dia dengan cara yang benar, Dengan cara yang direstui waktu.


“Isabella. Sampai saatnya tiba kamu ingin pulang, dan memulai hidup sendiri. Apakah kamu bersedia tinggal di sini?”


Rasanya aku semakin menjadi-jadi untuk melepaskan perasaan haru, “Apa boleh?”


“Iya, kamu boleh tinggal di sini.” Jawabnya dengan ekspresi santai, kedua ujung bibirnya naik membentuk senyuman di bibirnya.

__ADS_1


“Kalau aku tidak ingin pulang dan mulai hidup sendiri, bagaimana?”


“Bodoh! Ku usir sekarang saja kalau begitu. Padahal tadi aku sudah berusaha untuk baik.”


“Haa... Jangan..”


“Ha Ha ha..! sudahlah. Intinya sekarang kamu sudah mengerti kan?”


“Ng, Iya” aku mengangguk senang.


“Baguslah kalau sudah mengerti. Cepat ganti pakaian, kamu bakal kedinginan kalau pakai itu semalaman. Dan langsung turun ke bawah, kita makan malam. Aku lapar!”


Dengan penuh gairah, setelah tenggelam dalam situasi haru biru. aku berlari ke lemari mencari pakaian tidur baru. Morgan pun sepertinya sudah memutuskan pakai kaus yang mana, dia lalu turun lebih dulu ke dapur. Ini lebih lega dari yang aku bayangkan. Di balik sosoknya yang sangar, Morgan adalah pria yang sangat baik.


“Cu, cuci dulu tanganmu!” katanya sedikit gagap.


Ku perhatikan wajahnya. Wajahnya yang coklat eksotis, begitu dekat dengan wajahku. Dia terlihat malu-malu, karena langsung memalingkan muka. Beberapa helai rambutnya terkeluar dari simpul yang mengikatnya ke belakang. Aku terus meliriknya, seperti isyarat agar dia segera melepaskan tanganku.


“Kalau kamu pegang terus begini, bagaimana aku bisa pergi ke wastafel?”


"Oh. Ma, maaf”

__ADS_1


Dia melepaskan tanganku. Lembut sekali. Seakan dia menarik bukan hanya untuk memperingatkan, melainkan jadi ikut salah tingkah. Aku memang sedikit gemetar begitu dia menyentuh bagian pergelangan tanganku, seperti tengah menguji gairah perasaanku padanya. Sungguh mengejutkan.


“Sudah, sekarang nikmati ikan mu. Aku sudah panaskan sup nya. Makan pakai nasi, ya?”


katanya, setelah aku kembali duduk di depannya.


Tanganku masih sedikit lembab, karena aku mengelapnya cepat-cepat. Perutku sudah sangat keroncongan. Aku mengangguk semangat, dan melahap makan malamku dengan lahap. Sedangkan dia membetulkan kembali dandanannya yang sedikit rusak, terutama ikat rambutnya.


“Morgan... terima kasih ya!”


“Untuk apa?”


“Kita sama-sama menyedihkan ya?”


Morgan hanya menatapku heran, dia sampai berhenti membenarkan simpul ikat rambutnya.


“Karena kasihan, aku akan menemani kamu.” Timpal ku kembali.


“Ya, tolong temani aku.”


Cinta itu memanglah sebuah misteri, saat diriku merintih oleh dia yang menyakitii. Lalu dia hadir luluhkan hati, dan memupuk bunga-bunga cinta lewat ketangkasan, kebaikan dan karismatik yang dia miliki. Tidak pernah aku sangka dan aku duga, kami yang baru berjumpa, kini malah menaruh rasa dan tinggal bersama. Berjanji untuk saling menemani, indah memang. Tapi kerikil itu pasti ada, tapi percayalah, bahwa cinta tidak terbatas hanya pada raga dan dunia. Karna sesungguhnya cintaku ini tak terbatas.

__ADS_1


Di hari itu, kala itu. Akhirnya kami saling mengerti arti sesungguhnya hidup bersama.


__ADS_2