
"Pisah negara... jauh sekali," ujarku sambil membayangkan betapa jarak akan memisahkan kami. kota ini dan kota di negaranya, aku belum pernah ke sana, hanya ku dengar kehebatannya dari bayang-bayang Morgan.
"Berapa Lama?"
Morgan sejenak menundukkan kepalanya, kemudian mendongak lagi.
"Dua sampai Tiga bulan."
"Ku pikir akan seumur hidup."
"Kalau seumur hidup, aku mungkin akan mati tanpa kamu." Katanya sambil tersenyum simpul.
"Aku juga akan mati tanpa kamu. pergilah, aku merestui mu, bahkan mendukung mu, karena kamu tahu sedang menghadapi apa dan mengatasinya bagaimana. aku ikut bangga karena tujuan mu yang mulia. kamu bukan cuma milikku, tapi sudah menjadi milik dunia dan manusia di alam semesta ini, dengan jiwa kemanusiaan dan keberanianmu."
dia kembali memelukku.
"Terima kasih banyak, Isabella. aku tak punya kata-kata untukmu. tetapi ku pastikan aku akan mengirim surat Untukmu, selalu."
__ADS_1
saat dia melepaskan pelukannya, segera ku seka air mata yang mulai merambang di pelupuk mata.
"Aku begitu berat membayangkan hidup tanpamu Morgan, tiga bulan itu lama sekali. tidak bisa kah aku ikut denganmu? a-aku tahu, aku tidak minta untuk menguntit mu kemanapun terutama saat kamu bertugas, tetapi tidak bisakah bawa aku ke negaramu? kita bisa hidup seperti ini, aku tinggal di rumah, dan kamu menjalankan misi... "
ku hirup nafas paksa, ketika saluran pernafasan ku jadi tersumbat karena terisak.
"Paling tidak kita tetap dekat, dan tidak terpisah jarak." kataku lagi.
dia menatapku dengan matanya yang berkaca-kaca, beberapa kali dia menghempas pandangan, karena tak kuat menjawab keinginanku. saat dia mengatakan akan kembali ke negaranya dengan tiba-tiba seperti ini, bohong sekali bila kami kuat dengan perpisahan yang sudah di depan mata.
"Andai bisa, Isabella. tanpa kamu pinta pun aku pasti sudah membawa kamu kemana pun aku berada." dia diam sejenak, memegang bahu ku begitu kuat dan tatapannya sekarang lebih dalam.
"Suatu hari nanti, mari kita menikah?! Aku ingin kau menunggu Sampai saat itu tiba. tetapi, kau juga tak harus melebih-lebihkannya. Jika selama masa itu, kau jatuh cinta dengan orang lain... aku tak akan... " Morgan diam sejenak menggantung kata-katanya dengan ekspresi yang tak dapat ku duga, namun mata nya yang tajam kembali nampak kokoh dengan binarnya yang menyala-nyala.
"... Tidak, Tolong tunggu Aku!" katanya kembali.
saat mendengar penegasannya, bohong bila aku tak terharu. aku telah jatuh cinta padanya, dia adalah cinta pertama ku, tentu saja tak akan ada orang lain yang akan menggantikan posisinya, sebab dia terlalu sempurna dan telah meraja di singgah sana lubuk hatiku.
__ADS_1
ajakan pernikahan yang begitu ku nantikan, akhirnya keluar darinya sebelum mulutku ini yang meminta. maka tak ada lagi alasan untukku, untuk enggan menunggu kepulangannya.
ia kembali memelukku lagi, lebih erat. aroma parfum lelaki nya lebih menonjol walaupun tertutup keringat yang mengalir deras membasahi pakaiannya, entah apa yang tengah di hadapinya di belakangku, namun aku akan selalu berdoa pada Tuhan dan semesta agar kamu selalu di lindungi. ku elus-elus punggungnya dengan hangat, sementara dia terus menciumi pipi dan rambutku bertubi-tubi.
kemudian, ku angkat wajahnya dan ku tegakkan lagi tubuhnya yang menunduk.
"Tegap dan tegar lah, kamu seorang prajurit dan kamu memimpin anggotamu yang lain. jangan lemah, bukan kah kamu yang mengatakan bahwa hanya sebatas raga kita yang berpisah, tetapi selama kita saling mencintai, hati kita akan selalu terikat. aku akan menunggu kamu pulang, pimpin anggotamu dan menangkan lah kebiadaban ini." ujarku menguatkan.
dia tersenyum manis, lalu ku kecup bibirnya dengan lembut. dan ku pegang erat kedua belah pipinya, akan ku ingat selalu janggut tebal ini, akan ku ingat selalu tiap inci wajah ini, hidungnya, bibirnya matanya, bahkan rambut juga otot tubuhnya.
"Sementara ini, tinggal lah bersama bibi Rosy dan anak-anak di bangunan baru. bila situasi mulai membaik, kamu boleh kembali ke sini lagi. Ayo segera pergi! kita tak punya banyak waktu lagi!"
akhirnya dengan langkah cepat dan perasaan berdebar, ku ikuti langkah kaki Morgan, di belakang punggungnya sudah menggantung senjata laras panjang yang tertutup di balik jaket kulitnya. dia menggenggam tanganku erat sepanjang jalan.
...****************...
📌 Pokoknya mampirr ke teman kami hayukk kak, di jamin bakal candu xixi. tidak lupa, noted : Author, Morgan dan Isabella sayang kalian semua ❤
__ADS_1