Criminal : Aku Mencintai Penjahat!

Criminal : Aku Mencintai Penjahat!
Tidur Bersamanya di Bawah Langit Jingga


__ADS_3

Angin sore berhembus mengelus tengkukku. Sepanjang jalan aku memegang jaket Morgan dari belakang. namun jalannya berubah, bukan arah jalan pulang ke rumah. kemudian di tepi jalan yang sepi, Morgan menunjuk jauh ke depan. Sebuah swalayan kecil di tengah-tengah lorong.


“Besok malam aku ajak ke sana, itu adalah tempat incaran kita. Ku ajarkan caranya, jadi kamu pun berusahalah untuk tidak menyusahkan aku.”


Mataku menerawang jauh, jauh sekali... ke tempat di mana yang ia tunjuk, pikiranku melayang membayangkan apakah aku bisa, dan akan berakhir kemana aku jika gagal? Morgan duduk manis di depanku dan tampak bersahaja, mengenakan pakaian sederhana namun pantas. Dia menoleh ke belakang tersenyum padaku wajahnya seakan berisyarat, jangan takut kamu pasti bisa. Kemudian dia menarik tanganku dengan gerakan tak terduga, dia menarik tanganku hingga dadaku merapat di punggungnya, lalu di lingkarkannya tanganku di perutnya.


“Aku mau ngebut, mau ke toilet. kita mampir ke swalayan itu lalu kamu coba pahami dan pelajari kondisi lokasi. Mengerti kan?” katanya padaku.


Aku mengangguk saja, dia bergerak cepat sekali. Setelah mengajarkan cara pakai pistol, dia juga langsung ajari praktek kerja lapangan merampok. Walau masih di sebuah swalayan kecil.


Angin berhembus cepat sekali, dengan suara yang bisa di dengar oleh telinga. Wash wush lewat begitu saja, hingga akhirnya kami sampai dan Morgan memarkirkan sepeda motornya.


Morgan masuk lebih dulu dan aku menyusul di belakangnya. Aku membuka pintu swalayan dengan hati-hati agar tidak mencolok. Suasana hening, karena ternyata swalayan ini sedang sepi pengunjung. Ku perhatikan setiap sudut swalayan, sementara dia santai-santai saja langsung masuk mencari toilet. entah kenapa angin berdesir lebih hebat dari biasanya, di tambah lagi karena suhu dingin yang di keluarkan oleh mesin di sudut ruangan ini. mengepungku dengan hawa dingin yang menusuk. Rasa gelisah mulai menguasaiku , menghempaskan aku di antara alunan musik yang dimainkan oleh kasir melalui ponselnya dan tatapan Morgan yang menyiksa. Seakan aku sudah menjadi seorang terdakwa yang sedang diadili di sebuah swalayan kecil di jalanan sepi. Pengadilan yang salah tempat.

__ADS_1


“Bersikaplah tenang, seperti biasanya,” ucapnya.


Rasanya dia melihat sikapku yang gugup. Namun aku lebih terkejut saat dia kemudian malah menyapa hangat si kasir, mereka sama-sama pria mungkin obrolannya jadi nyambung. Aku hanya masuk lebih dalam untuk berkeliling. Tidak lama tiba-tiba sebuah tangan menepak bahuku, aku tersentak saat orang itu ternyata adalah Morgan.


“Aku mendapat informasi loh, dari si pria kasir. Nanti kalau sudah sampai rumah, aku beri tahu. Aku ke toilet dulu.”


Dia lalu pergi ke jalan sampingku, dan masuk ke dalam sebuah bilik kecil di ujung rak-rak ini. Aku terus celingak celinguk sekalian menunggu Morgan keluar. Lalu sekitar beberapa menit kemudian, Dengan senyum simpul Morgan kembali menghampiri aku yang mulai terlihat mencurigakan karena dari tadi hanya berkeliling ke sana dan kemari.


“Lama...!!” gerutuku padanya.


“Iya...”


Sepanjang jalan aku terdiam lama, memikirkan betapa beratnya mendayung di antara dua karang. Begitu beratnya, hingga seakan aku harus membagi persoalan hidupku dengan memikirkan makan malam nanti. Aku mulai kehabisan ide untuk memasak apa.

__ADS_1


“Morgan, mau makan malam pakai lauk apa?” kataku dengan suara yang tersapu angin, namun rupanya masih dapat di dengar olehnya. “aku mau ikan bakar dan perkedel kentang”


Sepulang dari swalayan, seperti biasa, aku masak di dapur dan dia duduk santai di beranda rumah, membaca koran yang dia abaikan sejak pagi. Suasana tenang menyelimuti kami. Suasana tenang yang tercipta dari udara sore yang ramah. Cahaya tajam matahari mulai surut dan hawa sejuk mengalir di sekelilig, mengusap-usap punggung dan pikiran yang penat. Ku seduhkan kopi untuknya untuk melawan rasa kantuk yang sedikit terlihat olehku di sini. Sehingga barangkali dia bisa perlahan-lahan kembali segar.


Aku keluar membawa segelas kopi, namun rupanya dia sudah tertidur. Matanya tak bergerak sedikitpun, sepertinya sangat lelap. Tangannya menyilang di dada seperti biasa. Angin sore berhembus lagi sejuk dan sepoi-sepoi. Ku turunkan kopi, dan meletakkannya di atas meja, Koran yang masih mendekap di pelukannya berusaha ku ambil.


“Jarang-jarang sampai ketiduran begini, anginnya kencang bisa masuk angin.” Kataku pelan.


Ku buka tangannya pelan-pelan dan hati-hati agar tidak membangunkan dia, namun belum selesai ku ambil koran dalam dekapannya, dengan gerakan yang tidak terduga, tiba-tiba tangan besar Morgan begitu cepat meraih pergelangan tanganku, hingga aku kehilangan kendali tubuh dan jatuh dalam pelukannya. aku sangat terkejut saat Morgan juga melingkarkan tangannya di punggungku, sehingga aku kesulitan untuk lepas.


“Morgan.. Hei bangun! Tidurlah di kamar, di luar anginnya kencang sekali kamu bisa masuk angin.” Kataku sambil mendorong-dorong tubuhnya.


“Hangat.. aku kedinginan. Aku pasti akan selalu melindungi kamu” kata Morgan pelan, sepertinya dia sedang mengigau.

__ADS_1


Aku mencoba memberontak meskipun sebenarnya aku pun merasa nyaman dengan posisi kami sekarang. Tubuh Morgan sangat hangat, dan irama denyut jantungnya sangat indah seperti nyanyian pengantar tidur yang harmonis, ketika aku menelungkupkan wajahku di dadanya. Entah apa, semakin lama aku jadi pasrah dan senang ketika Morgan malah makin erat memelukku. Dia memberikan aku kedamaian yang langka di pematang senja yang indah. Sayup-sayup kicau burung yang mulai bertengger bersahutan berebut tempat di sepanjang kabal listrik ketika langit mulai menjingga, sebuah keharmonian alam yang damai. Aku mulai mengantuk. Ku benamkan pandangan mataku dan tidur di dalam pelukannya, tubuhnya jauh lebih nyaman di banding kasur lipat yang dia beli waktu itu. Saat matahari menghilang, di depan balkon, Morgan dan aku tidur berpangkuan sambil berbagi kehangatan. Selamat istirahat Morgan.


__ADS_2