Criminal : Aku Mencintai Penjahat!

Criminal : Aku Mencintai Penjahat!
Dosa


__ADS_3

Malam semakin larut, keringat dingin bercucuran dari kening si kasir saat aku tiba-tiba datang dan mengeluarkan senjata laras pendek yang diberikan Morgan, lalu ku ancam kan senjata itu padanya.


“Jangan melawan, angkat tangan..! berikan semua uang di laci! cepat!”


Aku berdiri di depannya dengan gestur tubuh yang tegang namun siap menarik pelatuk jika target melawan. Aku memakai topi dan menutupi wajah dengan masker.


“Hei!!”


Morgan memekik dari ujung dan segera berlari ke meja kasir, dia cepat-cepat menarik kunci yang di angkat pria kasir dan membuka laci tempat uang. Semua uang itu di remas sampai kusut karena Morgan berusaha mengambil semuanya dengan segera.


“Tetap di posisi!” kataku membentak, membuat pria kasir yang ku ketahui namanya Thony itu semakin gemetar.


Petugas kasir itu membungkam. Aku pikir, mungkin dia sedang dalam dilema. Di satu sisi dia khawatir menyalahi etika sebagai pekerja, namun di sisi lain dia juga memikirkan keselamatan dirinya, keluarga yang menunggunya di rumah.


Akhirnya setelah selesai memasukkan semua uang ke dalam ransel, Morgan menarik ku keluar secepat mungkin. Jantungku berdebar kencang, tapi aku sangat lega karena sudah keluar dari zona menegangkan tadi.


Morgan tancap gas, sepeda motor melaju kencang sekali meninggalkan swalayan. Kami hening sepanjang jalan, sambil berpegangan yang kuat di perut Morgan. Pikiranku tidak lepas dari nasib malang si kasir bila di minta bertanggung jawab oleh boss-nya nanti.

__ADS_1


Sesampainya di rumah, aku segera berlari ke kamar mandi, berdiri di bawah shower. Ku biarkan seluruh tubuhku di guyur air, hingga air mataku tak tertahankan lagi. Aku merasa begitu kotor karena telah berbuat begini, belum lagi aku memikirkan nasib Thony, si penjaga kasir. Dia bukan orang kaya yang sanggup mengganti uang yang kami curi begitu saja.


Ku dengar suara Morgan memanggilku dari luar, “Isabella? Kamu baik-baik saja?”. aku hening tak menjawab, ku bungkam mulut agar Morgan tak mendengar suaraku yang lirih karena menangis.


“Kamu mandi ya? Tidak baik mandi malam-malam begini Isabella! Kamu bisa masuk angin.” Katanya lagi. Tetapi masih tak ku hiraukan.


Memang dingin, sangat dingin. Tetapi ini tidak cukup untuk membalas semua dosaku. Siksaan yang ku buat ini Tidak sebanding dengan siksaan yang akan menerpa penjaga kasir.


“Isabella!”


Tiba-tiba saja Morgan masuk, mendobrak pintu kamar Mandi. mungkin kali ini aku tidak salah mengira, dia mengkhawatirkan keadaanku, karena aku tak kunjung menjawab panggilannya. Sedangkan bunyi air terus mengucur bersentuhan dengan lantai kamar mandi.


Pluk


Dia mendekap ku lagi, untuk kesekian kalinya hingga aku tenggelam dan menangis dalam pelukannya.


“Sampai di sini saja, ya? Ini pertama dan terakhir kamu mengikuti langkahku begini.”

__ADS_1


Aku tak bergeming, tak ada kata yang mampu ku ucapkan karena rasa bersalah sudah menguasai emosi ku saat ini. Morgan terus mendekap ku, kencang dan semakin erat.


“Aku minta maaf, karena mengajakmu melakukan perbuatan kotor begini. Kamu memang tidak cocok dan tidak pantas melakukan hal rendahan ini. maaf, berkali-kali ku ucapkan maaf padamu.”


Dia berusaha menenangkan diriku, bahkan air mataku ini malah menjadi sumber rasa bersalah untuknya. Morgan mematikan keran shower Lalu mendapatkan kaki ku, dia menggendongku keluar kamar mandi.


...****************...


Hai ini Morgan 🙋


Terima kasih untuk semua dukungan kalian pada kami ya!! kami akan berjuang lebih baik lagi selanjutnya. jadi dampingi kami selalu, okay?


kami sayang kalian semua. aku berharap semoga kita bisa terus bersama-sama.


Aku mungkin belum jatuh cinta dengan Isabella, tetapi aku sudah mencintai kalian 👀❣️


oh, Selain mampir ke adik bungsu ku Damian. mampir juga ke teman ku yuk 🦾, di sini ⬇️⬇️

__ADS_1



__ADS_2