Criminal : Aku Mencintai Penjahat!

Criminal : Aku Mencintai Penjahat!
Rindu


__ADS_3

Semua penjelasan dari bibi Rosy menghipnotis ku, menusuk jantung.


begitulah Morgan mempersiapkan semuanya, dia kembali menipuku dengan pura-pura baik-baik saja. dimana kamu sekarang, penjahat? jika kamu benar-benar telah tiada datang lah padaku walau hanya sebagai arwah, biarkan aku memelukmu erat untuk terakhir kalinya, biarkan kita melakukan salam perpisahan dengan cara yang benar.


Momen ini membuatku gila, seperti aku berhadapan dengan mimpi yang tak ku harapkan datang, membuatku ingin secepatnya bangun. meskipun ini nyata, bolehkah jika aku tetap berharap?


"Morgan... " aku Merintih...


bibi Rosy mengusap lembut punggungku untuk menguatkan, kemudian ia bangkit mengambil sesuatu di lemari.


"Ini Nona, Tuan menitipkan ini semua pada saya."


sebuah kejutan yang ku lihat kembali menusuk jantungku, ketika bibi Rosy memberikan satu buah buku tulis dan buku tabungan.


"Itu masih menggunakan nama saya nona. nanti kita ajukan perubahan kepemilikannya ke bank. tuan, tidak bisa memakai namanya karena pekerjaan yang pasti akan membuat urusan semakin runyam. Tuan berharap, agar nona mampu bangkit dan mandiri."


sulit ku percaya, dia memberikan uang dalam jumlah yang besar. dia sungguh-sungguh ingin aku melaksanakan keinginan ayah sesungguhnya, yaitu melanjutkan kembali tahta perusahaan. Morgan telah menyiapkan ini semua sangat matang. inikah tanda cinta mu Morgan?


satu lagi tentang buku yang ia tulis, Isabella : Cinta yang lara. ku buka lembar demi lembar bukunya, semua di tulis dengan tangannya langsung. sehingga nilai memories nya sangat kental dan kuat. bisa ku bayangkan bagaimana ia menulis ini saat senggang dan saat aku tertidur, di bawah cahaya remang dia duduk bertelanjang dada dengan ujung pulpen yang sesekali ia gigit ketika kehabisan kata-kata.


aku tak mampu menyembunyikan kesedihan yang teramat dalam, tak mampu ku bendung air mata yang terus merambang di pelupuk mata.


malam itu, aku menangis sejadi-jadinya dalam dekapan bibi Rosy.

__ADS_1


...****************...


hari demi hari berlalu, ku jalani waktu tanpa kehadiran Morgan lagi di sisiku. menyibukkan diri agar tak terus larut dalam kesedihan, namun masih saja ku rindui kehadirannya di setiap hembusan nafas.


sesekali, saat aku benar-benar merindukannya, aku kembali ke rumah lama kami. ku nikmati tiap sudut ruangan sambil membayangkan kehadiran Morgan. terkadang, bayang-bayang kenangannya hadir begitu kental membuat air mataku kembali mengalir. pahit sekali rasanya saat mengenang wajahmu, Morgan...


aku duduk di beranda kamar, seperti kebiasaan Morgan dulu. saat sore hari sambil menikmati kopi, dia membaca koran. bedanya aku tidak membaca surat kabar, melainkan buku yang di tulis olehnya. buku tentang perjalanan cinta kami yang penuh duka.


hingga ketika aku hampir hanyut di kata pembukaan, datang Lily dan Anthony tiba-tiba muncul di depan rumah. mereka memanggil-manggil ku dari bawah.


"Kak?! kak Bella?!"


"Ada Apa?" kataku bangkit dari kursi balkon.


"Bibi Rosy suruh kakak pulang, ada tamu!"


"Siapa?" kali ini aku memekik lagi.


"Tidak Tahu kak!"


baiklah, aku cukup penasaran. siapa tamu yang datang sore-sore begini? lagi pula sudah beberapa lama ini tak ada yang pernah mengunjungi panti. mungkin bibi Rosy membutuhkan bantuan ku untuk menghadapinya.


aku segera merapikan barang-barang dan menutup semua pintu.

__ADS_1


"Morgan, aku pulang dulu ya?!" kataku. kemudian aku turun menghampiri Anthony dan Lily.


kami berjalan pelan menyusuri jalanan yang sepi dan berdebu. ku genggam tangan kedua anak itu, hingga sampailah kami kembali di panti. sudah ada satu mobil terparkir di luar. jantungku jadi berdebar setelah ku ingat-ingat nomor mobilnya yang familiar.


ku percepat langkah masuk ke dalam rumah, sampai ku dapati bibi Rosy dan tamu itu duduk berdua di ruang depan.


mata ini membulat sempurna kala ku ketahui siapa tamu yang di maksud itu, perempuan tua yang bersahaja, yang ku lupakan kehadirannya.


"Ibu?"


Ibu menghampiri ku dan memelukku.


"Isabella! ibu sangat merindukanmu, ibu fikir kamu benar-benar di culik oleh penjahat seperti kata David! syukurlah ibu bisa bertemu lagi denganmu!" ibu merintih sambil mendekapku. perasaanku campur aduk, aku juga merindukan ibu.


"Aku juga merindukan ibu." jawabku "Bagaimana ibu bisa tahu aku di sini?"


"Seseorang menelpon ibu tadi siang, mengatakan bahwa kamu tinggal di sebuah panti di kota sepi ini. ibu begitu terharu, hampir tak percaya. tapi ibu berusaha untuk lebih baik mencoba dahulu, dan untunglah kamu sungguh berada di sini."


"Seseorang?" kataku dalam hati, ku alihkan pandangan ke bibi Rosy, namun bibi Rosy menggeleng. berarti bukan ia pelakunya, lalu siapa?


"Kita pulang ya? kembali ke rumah." ucap Ibu kembali.


...****************...

__ADS_1


📌 Mampir ke sini ya kak.



__ADS_2