
Saat malam hari, apa yang biasanya di lakukan orang tua untuk menidurkan anak? aku mungkin sedikit kebingungan tetapi tidak dengan Morgan. Dia tidur di samping Lily sambil membacakan dongeng Beauty and The Beast, kisah seorang putri yang tinggal dengan seorang pangeran yang di kutuk menjadi buruk rupa. Berawal dari menggantikan ayahnya yang di tawan oleh si Buruk kemudian ia jatuh cinta padanya, cinta sejati darinya itu akhirnya mampu mengakhiri kutukan pada si buruk dan istananya.
“Kutukan itu akhirnya musnah, dan Beast kembali menjadi pangeran tampan begitu pula dengan istananya. Beast dan Belle menikah dan hidup bahagia selamanya.”
Morgan menarik selimut menutupi tubuh kami, Lily tidur di tengah dan aku di sampingnya. Suatu moment langka yang seandainya bisa ku abadikan. Ingin rasanya ku hujani Lily dengan ciuman bertubi-tubi, terima kasih wahai anak baik.
“Papa dan kaka sudah tidur di samping Lily, Boleh tidur sekarang?” kataku.
Lily mengangguk semangat. “Ngh, terima kasih Papa..Mama”
Dongeng Morgan berakhir disusul Lily yang sudah tertidur.
“Tidak ku sangka, seorang kriminal seperti kamu bisa menghapal dongeng anak-anak sebelum tidur. Terakhir aku di bacakan begini waktu masih Sekolah Dasar lo,” kataku.
__ADS_1
“Ya wajar saja, namanya juga dongeng anak-anak, Kamu pikir Lily sudah dewasa seperti kamu sekarang?”
“Santai saja, jangan pakai nada tinggi begitu!” aku mengubah posisi tidur menjadi ke samping, menghadap Morgan. “Morgan...”
“Apa?” Jawab Morgan sambil membalikkan tubuhnya menghadap ku, sekarang kami saling berhadapan di batasi oleh Lily yang tidur di tengah.
“Kalau kita punya anak nanti mungkin akan begini ya? Dia tidur di tengah-tengah kita dan kita berada di sampingnya, kamu bacakan dongeng begini lalu aku mengusap-usap keningnya. Romantis sekali, kan?”
“Ha ha, kamu berpikir terlalu jauh! Memangnya sangat ingin ya?” jawabnya sambil tersenyum.
“Kenapa kamu mencintaiku?”
“Tak tahu kenapa. Seandainya perasaan ini memang aku yang sengaja membuatnya, aku bisa menangguhkannya, dari pada membuatmu terganggu. Tapi masalahnya, bukan aku yang membuatnya. Aku hanya menerima dan tak kuat menanggungnya sendirian. Cuma kamu yang bisa membantuku, menyelamatkan jiwaku.”
__ADS_1
“Hmm.. jawabanmu itu terlalu umum. Aku perlu jawaban yang lebih khusus.”
“Memang kesannya begitu? Tadi sebelum aku menyatakan perasaanku padamu, aku berpikir mengapa aku menaruh simpati kepadamu, bahkan sejak pertemuan kita yang pertama. Ku pikir, awalnya aku kagum pada dirimu, penampilan dan pikiran, kecuali dalam pekerjaan, tapi, itu bisa di reka ulang. Lagian Cuma permukaan. Aku kagum kepadamu, ketika kamu melawan penjahat lain di panti asuhan yang lama dulu. Kamu sangat keren, bisa bertarung sehebat itu menumbangkan dua orang bersenjata yang sadis.”
Aku berhenti sebentar meneguk saliva, kemudian melanjutkan.
“Belum pernah sebelumnya aku melihat aksi seperti itu. Kebanyakan orang Cuma bisa pukul-pukulan saja, lalu tarik pelatuk, entah tepat sasaran atau tidak. Oh, ada juga yang malah Cuma berani lawan perempuan seperti David. Aku suka sekali dengan pemikiran kamu, kamu seorang penjahat yang melawa moral tetapi kamu malah berpikir untuk memperbaiki pola pikir seorang gadis manja dengan tidak mau menyentuh tubuhnya. Aku suka dengan kecerdasanmu, di luar batas perkiraanku, bahkan pengetahuan kamu mungkin jauh lebih hebat dari orang tercerdas yang aku temui selama aku hidup, bisa ku katakan bahwa kamu jauh lebih cerdas dari profesor Andreas...”
“Sampai akhirnya kamu jatuh cinta, karena itu semua?” tanyanya padaku.
“Tidak sepenuhnya. Ada hal lain yang membuatku ingin terus masuk ke dalam jiwamu.”
“Apa? Aku tidak mengizinkan kamu untuk masuk lebih jauh ke dalam jiwaku.”
__ADS_1
“Nah itu, tepat sekali. kamu begitu misterius! Hmm, itulah kira-kira alasan mengapa aku mencintaimu.”