
Lupakanlah Morgan, Isabella.
Hubungan kalian tak akan berhasil, Isabella. hidup Morgan tidak se-sederhana yang kamu pikir. dia adalah orang kompleks dengan segala masalah. Morgan yang kamu kenal, bukan lah dia yang sebenarnya.
Saat sampai di rumah, aku mengacak-acak kamar mencari buku yang masih ku ingat seperti apa bentuknya, sampulnya berwarna merah dan tidak terlalu tebal. selain itu aku juga mencari buku tulis yang jadi tempat Morgan melanjutkan karya nya. tetapi tidak kunjung juga aku temukan,
"Apakah Morgan yang menyimpannya? tetapi di mana?"
aku berkeliling sampai ku cari di loker tempat dia sering menyimpan barang yang jarang ku pegang. satu persatu ku buka, tetapi tak pula ku temukan. aku malah bertemu kembali dengan Dessert Eagle, si hitam elegant yang mematikan.
kalau ku ingat-ingat pistol ini benar-benar sangat sakral, melekat sekali dengan cerita pertemuan aku dan Morgan. lantas ku ambil pistol itu dan ku pandangi tiap incinya, hingga akhirnya di kepalaku langsung terhubung situasi yang satu dengan situasi lainnya.
“Dessert Eagle...” dari bentuknya pistol ini bukanlah pistol sembarangan yang bisa di miliki oleh seorang perampok gelandangan seperti Morgan. apalagi bukan Cuma mengenai desainnya saja, aku juga ingat saat Morgan menjelaskan detail senjata api ini. “Itu adalah Desert Eagle, pistol mematikan yang di buat di luar negeri. Dengan peluru magnum yang selain bisa menusuk juga bisa menciptakan ledakan pada target...”
buatan luar negeri, dan dampaknya... jelas saja ini bukan benda sembarangan dan Murahan, bagaimana bisa seorang Morgan bisa memilikinya? dan lagi aku kembali teringat saat Morgan mengajariku cara menembak. dia mampu menjelaskan senjatanya dengan sangat detail, seakan dia benar-benar memahami seluk beluk senjata miliknya. padahal, siapalah Morgan sampai memahami soal begitu. bukan kah seorang penjahat tidak memerlukan pemahaman begitu, yang penting bisa menembak dan mengancam. begitu saja, kan?
Dessert eagle dengan recoil dan berat tidak bisa di bilang “Mudah di gunakan”. Bahkan orang yang sudah biasa menembak pun, belum tentu bisa mengembalikan posisi bidikannya setelah menembak dengan cepat dan jitu. Oh ya, penggunaan waktu lama bisa buat cedera. Dan peluru yang di pakai Deagle ini sangat mahal, bisa 10 kali lipat dari harga peluru biasa. Makanya karena harganya yang mahal ini, tidak banyak orang yang pakai, karena tidak bisa sering-sering latihan. Dengan jumlah uang yang sama, orang bisa latihan menembak 10 kali lebih banyak dengan menggunakan pistol standar seperti glock, contohnya. Kesimpulannya, Deagle ini bukan pistol terbaik, seperti yang kamu kira. Tapi ya, aku akui sih Deagle ini terlihat sangat keren dengan ukuran dan daya rusaknya.
saat mengajariku menembak, Morgan mengatakan bahwa Peluru dari dessert eagle ini sangat mahal karna ukuran dan daya rusaknya, lebih dari harga 10 peluru biasa. jarang orang yang pakai untuk latihan, tetapi mengapa Morgan malah melatih ku pakai dessert eagle? padahal saat praktek merampok langsung di swalayan dia malah memberikan aku pistol revolver lain. dia tampak biasa saja saat senjata api laras pendek itu ku pakai terus menerus untuk latihan. hingga ku sadari bahwa pelurunya tak pernah kosong. dari mana Morgan mampu membeli dan menyetok peluru itu? apakah perampok gelandangan sepertinya mampu membeli peluru yang katanya mahal itu?
__ADS_1
jantungku berdebar kencang sedangkan ribuan pertanyaan memenuhi otak ku, diriku jadi kalut seperti di terpa ribuan sembilu. kini ku sadari sesuatu, ketika pandangan ku beralih menatap sekeliling, tiap sisi sudut kamarnya. tak ada barang murahan, semua barang bermerk.
dari awal aku pernah mengatakan, saat pertama kali aku datang ke rumah ini. ranjangnya besar sama dengan milikku di rumah. hal lainnya lagi yaitu saat dia menerima untuk memungut ku, dia mengajakku berbelanja keperluan, seperti kasur, pakaian, sampai handphone. semua itu tidak murah. kalau cuma merampok dari tempat-tempat kecil seperti swalayan dan lainnya tetap tidak mungkin cukup untuk berbelanja sebanyak itu.
Belakangan ini, Morgan tidak pernah pergi malam-malam untuk mencuri. aku mengalihkan pandangan ku ke samping, tepat di dua belas tangkai mawar merah yang ku susun di atas meja belajar Morgan. mawar ini sangat mahal, sedangkan Morgan beberapa hari sebelumnya tidak pergi mencuri. atau jika dia mencuri bunga ini, mengapa bisa ada kartu ucapan dari tokonya langsung.
Selamat Hari Kasih Sayang, Isabella.
semoga kasih diantara kita tak pernah mati, bunga cintaku...
aku membisu, sedangkan ribuan sesal berkecamuk di hatiku. mengapa aku tidak memiliki kepekaan terhadap dirimu, Morgan? mengapa aku tidak menyadari semua kejanggalan ini dari awal? aku terlalu memperhatikan dirimu saja, aku terlalu fokus pada caraku mendapatkan cintamu hingga tak ada lagi yang ku pedulikan selain dirimu seorang. jantungku seperti mau lepas, bukankah kita sudah sedemikian dekat, Morgan? selain Identitas ku, misteri macam apa lagi yang tersembunyi di antara kita?
gelisah menguasai ku. Namun, aku tak bisa berbuat apa-apa selain berdiri mematung di depan loker kamarnya, di panggang rasa cemas dan kesedihan.
"Maaf ya, aku lama." katanya berbisik di telingaku.
aku diam saja, lalu membuka rengkuhan telapak tangannya di mataku. aku balik ke belakang, dia tersenyum, manis sekali. mengenakan pakaian seperti yang ku saksikan saat pertama kali bertemu dengan nya, saat dia menolongku dari David. kaos hitamnya terlihat Macho sekali. inikah pakaian andalannya?
"Kenapa kamar berantakan begini, Bella? apa terjadi sesuatu?"?
__ADS_1
"Tidak, tidak ada. aku hanya sedang mencari sesuatu!"
"Apa? mau aku bantu carikan?"
dia menatapku, tersenyum. dan aku balik menatapnya, tapi dengan mimik muka yang dingin, untuk melihat reaksinya.
kemudian dia membalikkan badan dan mengambil sesuatu di balik badannya. dan tiba saatnya dia mengeluarkan benda rahasia itu, di keluarkan layaknya pesulap yang memberikan kejutan pada penonton.
"Lihat! Benda yang kamu minta, Oven listrik." katanya dengan wajah sumringah.
aku terus menatapnya, meski kali ini tidak sedingin sebelumnya. sementara dia jadi terdiam dan tampak kebingungan, "Isabella? apakah ada yang salah? kamu tidak menyukai ini? mau diganti? atau kamu sudah memiliki pilihan oven lain yang kamu suka? beri tahu padaku, biar aku belikan lagi, ya?"
sejujurnya aku tak tega melakukan ini padamu Morgan, mendiamkan kamu begini sama saja dengan melukai diriku juga. aku seperti di tusuk, di pukul, dan di Palu. ku turunkan pandanganku ke bawah, pada oven yang ada di tangannya.
oven dengan merk terkenal, dengan teknologi canggih yang baru di promo kan bulan ini. bahkan lebih baik dari milikku di rumah. dari mana kamu mendapatkan uangnya? mencuri? Ha..ha jelas bukan, kan?
"Morgan, seandainya kamu sungguh mencintaiku. maka aku harap tak ada kebohongan di antara kita, jadi tolong katakan padaku, siapa kamu sebenarnya?" kataku.
...****************...
__ADS_1
📌 Ada Rekomendasi lagi nih, Karya ini bagus Sekali, Author jamin. Mampir deh 🥰☝