Criminal : Aku Mencintai Penjahat!

Criminal : Aku Mencintai Penjahat!
Tidur, Yuk!


__ADS_3

Hancur pertahanan diri Morgan, untuk kedua kalinya kedua permukaan bibir kami kembali bertemu. Morgan, sadarkah kamu dengan yang kamu lakukan ini? Cintaku langsung membara begitu hebatnya ketika kamu memberikan sentuhan limit yang tidak di berikan kepada sembarang orang. Sekali lagi Morgan, Aku sangat mencintai kamu dan aku tidak akan pernah mundur untuk itu.


Rupanya di luar sudah mendung tebal di langit, awan hitam di langit itu kemudiam pecah dan hujan turun bagai kristal. Angin menghambur dari jendela laksana amukan maut yang menghantam kami dari luar dengan hebatnya, karena rupanya Morgan tidak menutup jendela kamar sama sekali. Sanggul rambutku di bagian belakang jadi mengendur dan terlepas, hingga helai nya berjatuhan menyentuh wajah Morgan.


Kota basah oleh hujan dan kami basah oleh hati kami yang rasanya ingin meledak. Begitu amukan angin mereda, Morgan melepaskan ciuman bibirnya di bibirku. Lalu tanpa melihatku, telapak tangannya langsung menutup batas di kening, sehingga aku yang berada lebih tinggi dari posisinya tak dapat menatap ekspresi wajahnya sekarang.


“Ma-maaf, aku ambil minum dulu di dapur.” Katanya.


aku terdiam, masih terhipnotis olehnya.


Ku tatap punggungnya yang pergi meninggalkan aku di kamar. Lalu setelah dia pergi pandanganku berubah memandang keluar jendela, melihat langit yang temaram penuh awan kelabu. Mendung memenuhi malam, bintang-bintang tenggelam di balik kabut yang menebal. Udara dingin kian menusuk. Aku berjalan cepat ke dekat ranjang untuk menutup jendela. Hanya lampu-lampu kota yang menyala memberi citra yang terang pada kegelapam. Di tengah semua itu, dan semua yang baru saja terjadi ini, ketenangaanku terganggu, aku merasa sangat gelisah, karena belum menemukan kejelasan dari apa yang di lakukan Morgan padaku. Aku tidak menemukan kepuasan dari kalimat yang pertama kali dia ucapkan ketika dia melepaskan ciumannya.


Setelah menutup jendela, aku hendak pergi ke dapur lalu di samping pintu kamar ku lihat buku di atas meja yang tadi di pakai Morgan. Ku pandangi cukup lama buku memo bersampul kuning itu, dia sangat menarik perhatianku. Lantas ku ambil, lalu ku buka lembar per lembarnya. Hatiku kembali bergejolak, setiap ku baca kalimat hingga paragraf yang di tulis tangan oleh Morgan. Ini seperti bukan rencana perampokan, tetapi sebuah tulisan panjang yang ceritanya seperti aku kenali. Aku seperti bernostalgia dengan sesuatu tapi entah apakah itu.


Lama aku memikirkannya, hingga akhirnya aku teringat dengan buku yang aku baca minggu lalu, buku bersampul merah yang menceritakan tentang seorang agen penyelidik yang tak wajar, gara-gara misterinya bukan dalam rangkaian pembunuhan. Melainkan sebuah permainan politik yang menyangkut ilmu pengetahuan, dimana seorang ilmuwan misterius, menyeludupkan sebuah teori menyesatkan dengan melakukan perdagangan manusia, di dominasi anak-anak, genosida terhadap kelompok tertentu di negaranya, untuk membantu pemerintah melalui sebuah terobosan dengan mengurangi jumlah dan pertumbuhan penduduk yang menjadi beban negara. sedangkan sosok ilmuwan itu sendiri tetap menjadi teka-teki.

__ADS_1


“Ini seperti lanjutan dari buku kemarin, tapi ini masih tulisan tangan? Apakah Morgan Penulisnya?”


Aku kembali terdiam. Pikiranku melayang-layang jauh meninggalkan batas wajar otakku. Morgan, orang seperti apakah dia sebenarnya? Benarkah dia hanya seorang kriminal biasa, seorang penjahat yang sesungguhnya, seorang pencuri dan tak mudah di tebak.


“Kamu kenapa?”


Tiba-tiba Morgan muncul dengan suara beratnya, dia berdiri di muka pintu tepatnya di samping tempatku berdiri sekarang. Aku kebanyakan melamun sampai tak sadar Morgan sudah kembali dari dapur.


“Ah, Maaf. Aku mau menyusul ke dapur tadi. Tapi aku kebetulan melihat buku ini, maaf aku sedikit penasaran, jadi ku buka.”


Kening Morgan mengerut, sepertinya dia akan marah seperti saat aku pertama kali memegang dessert eagle miliknya.


“Ngh! Bagus sekali, ini cerita lanjutan dari buku sebelumnya kan?isinya cukup menggairahkan dan teori oleh tokoh ilmuwan yang menyesatkan di sini benar-benar bisa menguasai alam pikiran pembaca, aku sangat kagum dengan buku ini terutama kemampuan penulisnya yang mampu membahasakan tulisannya dengan gaya yang mudah di pahami namun tetap segar. Seperti sebuah pengalaman pribadi. Tapi sayangnya ini masih tulis tangan.”


“Sip, Baguslah”

__ADS_1


“Morgan, kamu penulisnya?”


“Begitulah... sudah ah, tidur yuk. Sudah malam.”


“Serius, aku tidak menyangka kalau kamu punya bakat begini? Kenapa tidak bilang? Ceritakan lagi lanjutannya, aku penasaran. Ceritakan di meja makan yuk! Aku belum makan.”


“Jangan berlebihan. Tidur yuk, ngantuk. Besok pagi tugas kita berat lo!”


“Morgan...!”


Dengan tingkah santainya, Morgan mengambil buku yang ku pegang. Dia berjalan pelan menuju ranjang tanpa memperdulikan permintaanku. Wajahnya sedikit menyebalkan seperti mengejekku, tetapi sialnya aku malah jadi tergoda. Chiko...Papa kamu seindah ini ya!


“Morgan...”


“Apa?” jawabnya, setengah kepalanya keluar dari balik selimut yang sudah ia tarik sebelumnya.

__ADS_1


“Mau aku temani di sampingnya tidak?"


Morgan menarik selimut lebih tinggi hingga kepalanya tersembunyi di dalamnya, “Bodoh!” jawabnya singkat.


__ADS_2