
“Hentikan Morgan, Aku mohon hentikan.. hiks!”
Morgan Tegak tak lagi mengunci tubuh Andrean yang terkapar di tanah. Di lemparnya pisau itu jauh. Lalu berbalik badan. dengan langkah pelan, Morgan berjalan ke arah kami yang berada di belakangnya. Dengan tanpa kata Morgan memeluk kami dalam dekapannya. Aku tahu saat ini Morgan merasakan kesakitan tiada terkira di hatinya, hatinya bercampur dendam setelah menyaksikan anak-anak tewas.
“Pa...pa” Chiko mengucap lirih, membuat Morgan melepaskan dekapannya. “Papa” Chiko meraih pipi Morgan yang di dominasi rambut-rambut tipis itu. “Papa, Chiko bisa lindungi kakak, seperti papa melindungi kami”. Morgan hanya diam, tak menjawabnya sekali.
“Chiko mau jadi anak hebat seperti papa, dan jadi anak yang cantik seperti kakak Bella. Tapi sekarang punggung Chiko sakit, seperti ada yang batu kecil yang masuk. Padalah besok Chiko mau tidur sama papa dan kakak. Chiko mau punya orang tua lengkap seperti yang lain. Chiko senang saat ka Bella datang, Chiko belajar jadi anak yang baik, bantu Kak Bella, biar kak Bella betah tinggal disini, tidak pergi tinggalkan kita. Tapi maaf sekarang malah Chiko yang mau pergi...”
__ADS_1
Aku menangis, tak terasa air mataku merembang di kelopak mata. Pandanganku mengabur, satu persatu setitik air bening meluncur dari kedua belah pipi. Aku bisa merasai saat tubuh Chiko semakin dingin, kulitnya yang cerah menjadi putih pucat.
“Papa... jaga kakak terus ya... Chiko mau tidur, Sakit... Chiko tidak tahan”
Tangan kecil itu lepas menyentuh pipi Morgan, Morgan menangkapnya kembali, lalu menggenggamnya erat-erat. Ia lalu mengambil tubuh Chiko, mendekapnya kuat sekali. Aku tak tahu setegar apa hati milik Morgan, tanpa air mata ia melepas kepergian Chiko, di keheningan malam yang suram ini, Chiko melepas kehidupan dunia dalam pelukan Morgan dan Aku, seperti keinginannya.
Diatas angkasa sana, bintang tak ada yang bermunculan. Namun kota tanpa penduduk ini menjadi terang karena Api yang membakar habis gedung Panti tempat tinggal Chiko dan yang lainnya. Mengapa mereka begitu tega. Ku tatap kembali dua orang di depanku ini, Lama sekali Morgan menundukkan kepala ketika hawa dingin mulai terasa merasuk ke tulang sum-sum. Namun Tiba-tiba....
__ADS_1
Kami langsung menoleh kebelakang, Andrean langsung tersungkur saat mendapat peluru tajam yang datangnya entah dari mana. Musuh yang kalap mata ini, rupa-rupanya masih menyimpan dendam. Baru saja lolos dari maut ketika Morgan mengampuninya, bukan nya mundur, tapi malah mengambil kesempatan untuk membunuh kami. Sampai tak kami sadari pergerakannya. Beruntung, ada sebuah pertolongan dari langit, sebuah tembakan menyasar tapi tepat sasaran mampu menumbangkan tubuh Andrean.
...****************...
Di malam hari ini, langit hitam berkabut, udara di penuhi kepulan asap. Angin yang berhembus meniup Api kesana kemari. Dedaunan pohon .... berguguran ketika angin menyentuhnya lembut. Tak ada bintang, hanya bulan yang cekung, siinarnya pasi, bentuknya kecil dan semakin mengecil. Rintihan kesedihan dalam hatinya diantara cahaya panas api dia memeluknya erat di malam perpisahan.
Aku menatap rembulan, ada banyak pertanyaan dalam diri ini siapa Leandro? Seseorang yang nampaknya memegang peran penting dalam kejadian malam merah ini. Mengapa dia tidak muncul? Tidakkah dia sadar atas perbuatannya banyak nyawa yang menjadi korban. Lalu peluru menyasar yang membantu kami, dari manakah datangnya? Siapa? Tentunya tuannya sudah menyaksikan kejadian pilu ini dari tadi. Namun Sayangnya, Morgan tak berekspresi sama sekali dengan adanya bantuan langit itu.
__ADS_1
Sebaiknya ku tepikan dulu pertanyaan-pertanyaan itu, aku hanya orang baru yang tak bisa ikut campur awal awal. Tetapi , Satu hal yang aku pahami, di pertemuan singkat ini, aku merasakan bagaimana rasanya cinta dari hati-hati yang murni, Chiko dan Anak-anak lain di sini, hanya demi keselamatanku mereka semua rela berkorban, mereka membuatku lebih berharga di atas nyawanya sendiri. Semua yang mereka lakukan adalah demi cinta mereka terhadapku. Chiko, Daisy dan yang lainnya, kita mungkin memang berkenalan singkat, tapi aku juga sangat mencintai kalian, aku mengerti bahwa keberanian maju untuk melindungi seseorang muncul bukan karena tekanan keadaan dan mengemis cinta. Namun yang sebenarnya adalah karena kita ingin menunjukkan betapa berharganya orang itu dalam kehidupan kita.
Aku Isabella, beberap hari di pelarianku ini, Morgan dan lingkungannya mengajarkan aku banyak hal, menempah perlahan diriku yang lemah. Pikiranku berubah, tinggal bersama penjahat memang tidak mudah, tetapi bila tidak dengannya maka akan lebih sulit.