
Malam begitu tenang mengiringi keindahan suasana rumah di malam hari, sayup-sayup terdengar suara jangkrik memecah keheningan malam, sesekali pula suara burung malam terbang penuh harapan. Udara terasa dingin namun menyegarkan. Langit cerah di hiasi bintang-bintang bertebaran menemani raja malam yang bersinar terang menebar cahaya berkilauan.
Nyamuk pun tak mau kalah, terbang ke sana kemari berhamburan mencari hamparan kulit untuk mengobati kehausan. Oh Tuhan, betapa malam ini penuh perasaan campur aduk. Kami saling berbincang dalam suasana hangat-hangat kuku, karena diserang rasa kikuk dan kaku, juga rasa haru. Untungnya, anak-anak hadir di saat yang tepat, tawa mereka menghangatkan keheningan antara aku dan Morgan sebelumnya.
Di teras Rooftop kami berkumpul bersama, nikmati indahnya suasana malam di tempat baru hari ini.
“Lihat! Bulan itu seperti kak Isabella. Sangat cantik dan terang.”
Erika menunjuk langit ke arah si terang di atas langit, “Waahh...” sambut yang lain berdecak kagum.
__ADS_1
“Ya, kan papa?”
Seketika tawaku menghilang saat Erika meneruskan kalimatnya pada Morgan. Begitu paniknya sampai Lidahku kelu, sulit berkata-kata untuk menghentikan Erika.
“Di langit itu, bulan itu bersinar terang sekali, bentuknya bulat penuh bagaikan sepotong lingkaran yang bersinar di malam yang gelap. Cahayanya sangat lembut membuat mata tak lelah memandang. Seberapa juta kalipun aku melihatnya, dia tak pernah menjemukan, tidak pernah mengecewakan. Senantiasa cantik di pandangan selalu mempesona. Walaupun dia berada di langit yang hitam, bukan berarti dia ikut menghilang dalam kegelapan tetapi dia malah menjadi penerang dan makin bersinar...”
Morgan diam sejenak menggantung kata-katanya, dia mengubah pandangannya menghadap ku yang berada tak jauh darinya.
Pupil mataku membulat saat ku tangkap sorot mata coklat milik Morgan yang memandangku begitu tulus seakan yang di ucapkannya itu memang benar berasal dari kebenaran hatinya. kami saling melempar senyum. Kemudian, kami saling memandang dan tersipu-sipu.
__ADS_1
Setiap kali aku merenungkan hubungan kami, aku tenggelam dalam keharuan, jiwaku terasa penuh dan segar. Aku selalu membayangkan bila kami berhubungan dengan penuh cinta, aku ingin terus bersamanya. Caranya tertawa dan mengejek, caranya bicara dan terdiam, begitu akrab dalam ingatan dan senantiasa menghantuiku dalam kesendirian. Aku ingin dia terus datang dan menetap di sisiku. Ku ingin menatapnya sepanjang waktu, sepanjang hayat bila perlu. Hingga ketika malam ini tiba, sesuai ekspektasiku ketika aku menyatakan cinta padanya, dia pasti akan menolak. Tetapi aku pun merasa lega dan berterima kasih karena dia mengizinkan aku untuk tetap berada dalam pilihanku, yaitu terus mencintainya.
“Hore..! Papa pasti sangat menyayangi kakak Isabella...!”
Tiba-tiba anak-anak bersorak kegirangan, mereka tegak dan lompat-lompat. Aku lantas kikuk dan salah tingkah meskipun hatiku pun sebenarnya ikut kegirangan karena Morgan memujiku begitu tulus di depan anak-anak. Ya memang jelas tidak bisa aku lupakan juga bahwa baru saja Morgan menolak cintaku.
Hidup memang tidak terduga, kemarin aku masih senang-senang dengan orang tua yang lengkap tapi tiba-tiba ayah meninggal, aku dulu adalah anak yang memiliki semuanya, lalu sekarang terancam bangkrut dan tidak memiliki apa-apa. Aku yang tidak memiliki teman dan tidak mudah berkomunikasi dengan orang lain rupanya sekarang mala tinggal bersama dengan seorang penjahat dan jatuh cinta padanya.
Nampaknya begitu pula dengan malam ini, tadi langit cerah terang tetapi sekarang tiba-tiba saja menjadi hitam mencekam menyongsong turunnya air hujan, hujan bergemericik berjuta kubik air jernih turun dari langit. Suara guntur juga terkadang menggelegar melengkapi datangnya air hujan, sesekali suara kilat menyambar-nyambar di langit dengan sinar yang begitu terang.
__ADS_1
“Masuk..! Masuk..! cepat Masuk!”
Kami berlarian menuju pintu di ujung rooftop untuk menyelamatkan diri dari guyuran air hujan yang datang keroyokan.