
“Ayo, hancur leburkan tempat ini!”
“Sikat....!”
“Hancurkan dia, dan komplotannya sampai ke akar-akar! Cari dia, kita harus memusnahkan mereka semua!”
“Aaaaa....!”
Hatiku langsung bimbang, tak tahu harus berbuat apa. Teriak kematian beberapa anak begitu menyayat hati. Penduduk yang tinggal disini masih sangat sedikit, hanya ada beberapa ruko kosong. Memang seperti kota mati. Tak ada yang bisa dimintai pertolongan. Jantungku berdegup kencang. Apa yang harus aku lakukan? Aku harus menghubungi Morgan, tapi aku tak punya akses, tak ada ponsel, atau semacamnya. Aku begitu frustasi, tak mungkin aku hanya terus berdiam diri begini, orang-orang itu begitu kejam dan tak berperikemanusiaan.
“PAPA....!!!”
“MOAN....!!! KAKAK....!!!”
Dengan wajah pucat, ku beranikan diri keluar rumah. setidaknya aku tak boleh hanya berdiam diri menyaksikan nasib Nelangsa Chiko dan anak-anak yang lain, mereka memekik, merintih, memanggil nama kami, berharap di berikan bantuan.
__ADS_1
“Hey....! Hentikan!”
Dengan cepat aku menodong pisau dan bersiap menghadapi segala kemungkinan. Walau harus mati sekarang, setidaknya diakhir hidupku ini aku telah melakukan sesuatu yang sedikit berguna unutk orang lain. Terlihat dua orang bertubuh besar dengan baju di bagian dada terbuka. Dari wajah mereka yang seram, jelas bukan orang yang baik-baik. Dengan hati-hati aku menegur mereka
“Siapa kalian? Dan apa yang kalian inginkan dari kami?!”
“Ha..ha...ha, kau lihat Ben, tikus ini agaknya bernyali macan juga. Sepertinya dia belum tahu siapa kita!” kata salah seorang pada kawannya.
“Sudahlah, Andrean. Jangan banyak bicara. Lekas kita bereskan mereka!” sahut Ben sambil mendengus sinis.
Setelah berkata begitu Andrean langsung menodong pistol lalu menarik pelatuk menembak salah satu anak di belakang ku. “Daisy!!1” teriak kami cemas saat melihat dadanya bolong dan jatuh tersungkur. Aku langsung membalik badan mendekat pada Daisy. Tapi Malang, sebelum aku berhasil mendekatinya, salah seorang dari pria besar tadi telah mencekal pergelangan tanganku.
“He he he...! perempuan ini cantik juga. Bagus aku tidak langsung menembaknya. Kau uruslah kecoa-kecoa kecil itu biar perempuan ini bagianku!” kata Andrean.
“Tapi sisakan sedikit untukku!” Sahut Ben sambil terkekeh.
__ADS_1
Sementara aku berusaha memberontak dengan sekuat tenaga. “Baj*ngan! Lepaskan aku! Lepaskan...!”
“Kalian jahat lepaskan kakak Isabell” Teriak anak-anak panti marah. Tanpa memperdulikan keadaan dirinya, mereka langsung menerjang Andrean sambil memukul-mukul tangannya. Sayangnya pisau yang tadi kupegang sudah direbut oleh pria yang bernama Andrean ini.
“Sial, kalau kalian ingin mampus terimalah bagiannya!” geram Andrean sambil menghujam pisau yang sudah direbutnya dariku.
“Aaaa...!!” anak-anak memekik nyaring, saat menyadari apa yang terjadi, tiba-tiba ujung pisau sudah tertusuk di perut salah satu anak yang membela ku. Tubuhnya langsung ambruk, membuat anak-anak yang lain mundur ketakutan.
Aku menjerit keras, bersamaan dengan itu dari belakang badanku terdengar jeritan yang sama. Chiko telah menyerbu keluar sambil mengayunkan Pisau dapur kecil di tangannya. Tak ku sadari bahwa Chiko kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil senjata. Dengan tubuh kecilnya Chiko maju di depanku, membela ku dengan mempertaruhkan nyawanya.
“he he he! Bocah celaka, rupanya kau ingin menyusul teman-temanmu? Nih, makan bagianmu!” dengus Andrean sambil mengayunkan pisaunya pula.
Chiko bukanlah anak yang memiliki kepandaian bela diri, dia hanya anak kecil dengan jiwa yang begitu besar. Tapi ketika melihatku terancam, rasa takutnya yang dalam berubah menjadi kemarahan yang meluap.
Begitu pisaunya bergerak, aku langsung menghadangnya. Sehingga serangannya pada Chiko meleset. Sehingga Chiko langsung cepat melayangkan pisau dapur dalam genggamannya itu ke arah perut Andrean. Namun sayang, tiba-tiba... DORR, Ben menembak tubuh Chiko dari belakang. Bisa di pastikan Chiko akan tewas saat itu juga. Tapi pada saat yang kritis itu juga, tiba-tiba melesat sesosok bayangan yang langsung menendang Ben, membuatnya jatuh tersungkur.
__ADS_1
“Hiyaaaat...!”