
KRING! KRING!
Suara alarm pagi yang ku setel tiap malam berbunyi, agar aku bangun tepat waktu. Tanganku meraba-raba mencari alarm yang ku letakkan di atas nakas, atas tempat tidurku. Namun rupanya Alarm itu telah lebih dulu di raih oleh Morgan yang ada di sampingnya.
“Maaf, padahal biasanya aku bangun lebih dulu sebelum Alarmnya berbunyi. Tapi sekarang alarm nya belum ku matikan, membuat tidur kamu terganggu”
“Tidak apa, aku juga berniat bangun pagi. Aku mau cappuccino!” Kali ini dia melirikku, gayanya laksana seorang raja yang sedang memberikan perintah.
Aku bergegas menggulung karpet dan melipat selimut, menyusun mereka rapi dan tertata. Lalu turun ke lantai dua rumah menuju dapur untuk membuat cappuccino dengan cokelat. Morgan menyusul datang, mencuci tangan. Lalu
mengambil cappuccino yang sudah aku buat.
Dia meneguk cappuccino dengan bibirnya yang manis. Pagi ini sedikit mendung, anginnya berhembus menyentuh-nyentuh ujung tali celemek yang ku pakai.
Morgan membuka pintu balkon dan berdiri di sana, menyalakan rokok. dia belum terbilang perokok berat, masih normal-normal saja. Sementara aku duduk termangu, menikmati kentang goreng yang gurih dari resep yang di ajarkan Morgan, di campur saus berkualitas tinggi. Entah dari mana Morgan mendapatkannya, mungkin hasil merampok beberapa waktu lalu. Sesekali aku menatapnya dengan senyum kecil tergores di ujung bibir, mencuri-curi pandang kepada Morgan dan gemetar karena hatiku ini tersentuh oleh karismanya. Ulala.
“Aduh...” Rintihku pelan. Kupikir aku sudah terbiasa tidur di lantai, tapi tulangku langsung nyeri bukan kepalang saat angin kembali berhembus menyentuh kulit, seakan ia masuk langsung menyentuh benda putih keras dalam tubuhku ini.
Aku menatap ke depan, tidak sengaja kedua pasang mata kami bertemu.
“Maaf, Aku sedikit kedinginan...” kataku langsung salah tingkah.
“Pakaianku itu terlalu tipis kalau kamu kenakan!” jawabnya.
__ADS_1
“A..aku tidak apa-apa kok, pakaiannya nyaman. Lagipula aku tidak punya pakaian lain selain gaun panjang kemarin. Mau bagaimana lagi!”
Morgan menghela nafas, membuang asap rokok yang tadi dihisapnya. Ia lalu menisap kembali rokoknya pelan dan tenang. Seakan dia tak ingin kehilangan sedikitpun nikmatnya rasa tembakau.
“Bersiap-siaplah, kita akan pergi sebentar lagi”
“Hah? Kemana?”
Morgan tak menjawab, ia membuang sigaret yang di nikmatinya itu, menginjak-injak ujung nya yang terbakar sampai mati. Ia masuk mengambil jaket kulit andalannya dan segera turun ke bawah. Aku segera bergegas menuruti perintahnya.
Saat berada diluar, ku lihat sebuah mobil tua sudah terparkir di tepi jalan depan rumah. aku memutar kunci rumah. dan mencari Morgan di sekeliling.
“Aku di dalam sini, naiklah!”
“Mana seat belt-nya?”
“Tidak ada.” Jawabnya singkat.
“Nanti ketemu polisi bagaimana?”
“Makanya berangkat sekarang!”
Aku menggelengkan kepala pelan, mulutku terbelanga dengan pemikiran Morgan yang cemerlang dengan semua keterbatasan. Aku terus memegangi hand grip sepanjang jalan, beruntung masih ada ini untuk pengaman. Kami terus melaju sepanjang jalan raya yang masih basah dan licin. Dia mengendarai mobilnya lebih berhati-hati agar tidak tergelincir. Sambil membetulkan jaketnya berkali-kali karena selalu kacau di terpa angin.
__ADS_1
“Ini Mobil kamu? Kenapa aku tidak pernah lihat?” kataku merapatkan barisan gigi atas dan bawah menahan angin kencang yang masuk dari sebelah jendelanya yang terbuka separuh. Rasanya gigi ini sampai mengering.
“Kalau mencuri pakai mobil, pasti lebih sulit kan?” jawabnya
“Kenapa kita tidak pergi pakai motor saja?”
“Aku mau beli banyak barang, kalau pakai motor tidak muat.”
“Masalahnya mobilmu ini terlalu eksentrik,” Aku mengomentari kendaraannya yang tua ini.
Kami menyusuri jalan ini, sambil saling melontarkan keluhan-keluhan, aku yang terus mengomentari mobilnya, dan dia yang balik mengomeliku. Aku menggigil dan mengumpat-umpat lantaran jaket juga masih belum cukup menghangatkan badanku. Tapi dia terlihat baik-baik saja, mungkin karena sudah terbiasa. Syukurnya, mobil ini masih bisa memberikan sedikit hiburan, karena masih bisa menyetel musik yang cocok untuk telingaku.
Sesampainya di tempat tujuan, Morgan memarkirkan mobil, lantas menutup kembali jendelanya dengan memutar tuas yang ada di bawah kaca mobil. Rupanya dia mengajakku ke sebuah pusat perbelanjaan yang cukup besar. Kaki ku gemetaran saat keluar dari mobil, nyeri sekali rasanya lututku, karena lantai pijakan mobil tempatku rupanya ada beberapa yangbolong, sehingga beberapa kali air-air yang menggenang di jalan masuk dan mengenai kaki ku langsung.
...****************...
Halo ini Author 🙋
Tidak terasa kita sudah masuk di bab 12 ya kak, Terima kasih banyak untuk kakak sekalian yang sudah membaca Kisah Isabella dalam kehidupannya bersama seorang kriminal.
author tak berhenti mengucapkan terimakasih untuk semua dukungan yang kakak berikan, benar-benar jadi penyemangat kami di Novel Criminal ini. untuk kakak yang maraton baca, author ucapkan semangat ya kak 🤧, kalian hebat.
akhir kata, author pamit dulu sampai bertemu di bab selanjutnya ya kak. jaga kesehatan selalu, author sayang kalian semua.
__ADS_1
NB : FOLLOW INSTAGRAM AUTHOR YUK @UNCHIHA.SANSKEH