
“Duduk disini sebentar, ya? Aku ambilkan handuk untuk kamu.”
Dia bicara begitu lembut setelah menyandarkan aku di kursi putar miliknya. Aku masih terisak, bahkan setelah dia kembali lagi membawa handuk. Morgan lalu berlutut di hadapanku, dengan tatapan bersalah Morgan mengelap tubuh ku hati-hati.
“Bella, aku minta maaf ya. Aku menyesal, seharusnya memang tidak mengajarkan kamu begini. Cukup, aku janji, ini pertama dan terakhir kalinya untuk mu. Isabella maaf jika aku tidak mampu menepati janjiku padamu.”
Mataku membelalak, apa yang di maksud Morgan? Lantas aku meraih tangannya. Menggenggamnya erat-erat. Lalu berkata,
“Apa maksudmu Morgan? Tolong jangan berpikir macam-macam. Ini pengalaman pertama untukku, jadi wajar saja kan kalau aku masih memiliki rasa bersalah seperti ini? mengertilah Morgan jika aku sudah sering melakukannya, aku pasti akan terbiasa. Sama seperti kamu.” Tegasku meyakinkannya. Aku menatapnya tajam agar dia mampu melihat kesungguhanku ini.
__ADS_1
Morgan menatapku balik, matanya membulat menatapku sedikit menekan, “Isabella, diamlah sebentar! Mengapa kamu jadi keras kepala begini? Kamu tidak lihat seperti apa kamu sekarang? Aku tidak akan pernah membawa kamu melakukan tindakan kriminal seperti ini lagi! Jujurlah padaku mengapa kamu begitu ingin mengikuti langkahku?”
Aku terdiam, nafasku jadi sangat berat. Jarum jam berjalan beriringan dengan air yang menetes dari rambutku, “Aku hanya ingin belajar Morgan, Belajar jadi berani dan mandiri seperti yang kamu harapkan.”
“Selain itu?” timpal Morgan.
Aku kembali hening, Morgan memang bukan orang yang tepat untuk beradu pendapat, dia terlalu peka. Aku pun tak mampu berbohong lebih jauh lagi, sebab aku tak akan mampu melawan kecerdasannya.
Aku tersentuh saat ku tangkap sorot mata Morgan yang berbinar penuh penyesalan, dia menelungkupkan wajahnya di pahaku. Tanganku yang masih menggenggam tangannya menjadi basah, entah air dari mana, apakah dari tubuhku sendiri yang masih basah, atau dari mata Morgan? Mungkinkah pria sangar ini menangis?
__ADS_1
Seorang perampok yang menangis, terlihat begitu menyentuh. Seorang pria itu, dari kata-katanya bisa membuatku bahagia dan menangis, meski terkadang aku menangis diam-diam karena merindukan ibu. Sungguh aneh Morgan, ketika aku memikirkan tentangmu, mengapa aku mau dan bisa bertindak sejauh ini hanya untuk seorang pria sepertimu? Entah kenapa aku merasa seolah diriku ini sanggup melakukan apapun juga, itulah yang aku rasakan.
Perasaan yang begitu indah dan suci, aku ingin tumbuh bersamamu, selalu berada di sisimu. Apakah kamu tidak ingin dicintai oleh seorang gadis?
Walau terkadang aku ini tidak kuat dan tidak bisa di andalkan, tetapi kamu benar bahwa aku tidak bisa terus-terusan manja dan di lindungi, karena perasaanku padamu juga takkan pernah kalah dari siapa pun. Morgan, itulah isi hati dari seorang gadis yang mencintai kamu.
Morgan lalu mendongakkan wajahnya ke atas, tak ada lagi air mata tetapi bola matanya memerah dan sembab. Dia memandangiku lagi dan berkata, “Isabella, hatiku sangat sakit melihat kamu begini, karena perbuatanku kamu bersedih hati dan sangat menyedihkan.”
...****************...
__ADS_1
Morgan balik bawa temen gais, mampir yak ke sini ⬇️⬇️⬇️