Criminal : Aku Mencintai Penjahat!

Criminal : Aku Mencintai Penjahat!
Harus Tegar, Demi Kamu


__ADS_3

Dia bilang tidak akan pergi, tetapi malamnya setelah aku berpura-pura tidur, nyatanya dia malah keluar mengambil jaket dan yang tak biasa adalah ketika dia mengambil Dessert Eagle dari lemari loker di dekat meja. apa yang akan di lakukan Morgan sampai membawa senjata laras pendek elite itu?


saat melihatnya bersiap itu, beberapa kali batinku berbisik untuk; bangun...bangun.. bangun..


karena itu lah ketika Morgan hendak pergi, aku tak bisa merelakannya begitu saja sambil berpura-pura lelap. ada sesuatu yang mengganjal di hatiku, ketakutan, kecemasan, dan kekhawatiran saat kami berjauhan.


"Kamu mau kemana?" kataku tiba-tiba bangkit, membuatnya sedikit terkejut.


"Kamu mengagetkan aku! kamu terbangun? apakah mimpi buruk?"


Morgan berjalan ke arahku dan langsung duduk di samping ku di ranjang, dia memandangku sambil tersenyum hangat. sambil menggenggam kedua tanganku, dia berusaha menenangkan.


"Kamu akan pergi kemana? bukan kah tadi kamu mengatakan akan tetap di sini? kalau hanya menemui kak Maya, kenapa harus bawa pistol elit itu?"


"Aku harus menemui rekanku malam ini, sayang. tak bisa di hindari, ini sedikit genting karena menyangkut misi jadi tidak bisa melepaskan senjata."


ku pandangi dia dengan tatapan dingin, kemudian menatap ke luar jendela. langit malam semakin temaram di temani awan kelabu yang menutupi bintang. tak ada bulan, nampaknya langit tak memberikannya ruang untuk menghiasi malam. lalu ku alihkan lagi pandangan pada kekasih yang sangat ku cintai ini.


"Aku gelisah, perasaanku tidak enak Morgan."


"Jangan Khawatir Isabella, ini hanya misi biasa lagipula aku bersama rekan yang lain mereka semua ahli. tenanglah semua akan baik-baik saja."


Aku kembali merenung, meskipun dia menegaskan untuk tenang dan ucapannya dapat ku percaya. tetapi, ada sesuatu hal yang begitu mengganjal dan mengganggu ku. setiap dia mengatakan akan pergi dan kami jadi terpisah jarak, ada hal yang menahan ku untuk tak rela melepaskannya pergi, bahkan hanya untuk keluar ke swalayan sekalipun.

__ADS_1


"Kembalilah tidur, saat kamu bangun nanti aku pasti sudah pulang!"


dia menatapku tersenyum dan aku balik menatapnya, tapi dengan mimik yang dingin, untuk melihat reaksinya.


"Apa yang kamu lihat?" tanyanya.


"Kamu."


"Ada apa denganku? lucu, ya?"


"Tidak."


"Atau Jelek?"


"Tidak juga."


di tengah pembicaraan, telpon genggam Morgan berbunyi. panggilan masuk dari rekannya mungkin. mimik muka Morgan tiba-tiba berubah, dia kemudian berdiri dan pergi keluar untuk mengangkat telpon, karena penasaran ku ikuti dia dari belakang.


"Aku mengerti kumpulkan semua anggota, aku akan memimpin..."


"Agen Louis..? apa kau mendengar ku?"


"Brengsek!"

__ADS_1


BUK


Morgan memukul tembok sangat keras, dia sangat marah. hingga ketika dia berbalik, sepertinya hendak kembali ke kamar, aku segera mendahului sebelum ia menyadari kehadiranku.


ku ambil posisi di ranjang, sambil minum kopi yang ada di meja. kopi ini sudah dingin dan aku tak mampu merasakan kenikmatannya lagi. aku berusaha untuk tenang meskipun jantungku berdebar seperti memompa darah empat orang sekaligus. tidak lama setelah itu, Morgan datang.


dia berusaha tersenyum meskipun dalam tatapannya tersimpan sejuta misteri kesedihan.


"Izinkan aku pergi, ya? Sebentar saja. pulang nanti aku akan bawakan hadiah, kamu mau apa? Mawar? Emas? Perhiasan?" katanya sambil mengelus kepala ku lembut.


Aku diam sejenak, meskipun rasanya sangat berat, aku sadar bahwa Morgan juga mengemban tugas untuk tujuan yang mulia. ku tahan air mataku, dan berusaha tegar.


"Aku hanya ingin kamu pulang dengan selamat, itu lah hadiah terindah yang paling aku inginkan."


Morgan terus memandangi ku, suasana menjadi sedikit haru, kemudian dia menarik punggungku dan mengecup keningku lembut.


"Aku pasti berikan itu untukmu, aku akan pulang. tunggu aku dengan baik." katanya.


dia bangkit dan pergi meninggalkan aku, aku hanya bisa memandangi punggungnya dari belakang. entah apakah aku masih bisa merasakan menyandar di punggung itu lagi atau tidak. tak bisa ku pungkiri, aku gelisah... terutama saat mendengar percakapannya di telpon tadi..


... tapi mereka yang mencoba membunuh warga sipil dan anak-anak tak berdosa untuk kepentingan negara, itu tidak bisa di maafkan. kita harus segera menyingkirkan bedebah itu, tak ada waktu yang banyak karena agen Rolland pun telah ditangkap....


...****************...

__ADS_1


πŸ“Œ mampir ke sini ya kak pokoknya β˜ΊπŸ€›β¬‡οΈ



__ADS_2