
setelah itu, Morgan mengantarku ke rumah asuh. bibi Rosy dan anak-anak menyambut ku hangat. aku sempat gugup saat morgan berbincang dengan bibi Rosy untuk menjaga ku dan Anak-anak.
"Yang penting, imbangi kemanjaannya dengan sikap yang keras, khususnya menyangkut hal-hal yang prinsipil," katanya pada bibi Rosy seraya matanya menatapku.
bibi Rosy tersenyum ramah dan aku diam saja pura-pura tak mendengar. di lubuk hatiku yang paling dalam, betapa aku mengagumi Morgan, padahal situasi sedang genting tapi dia masih menyempatkan untuk menitipkan aku sambil memberi nasihat pada orang yang di titipkan, dia berhasil membentuk karakternya menjadi begitu bijak dan tegar, tak sekadar karya di atas kertas tetapi juga ketangguhan dalam sikap dan tindakan.
Morgan datang mendekatiku.
menatapku dengan tatapan lembut penuh haru, tak ada kata yang mampu di ucapkannya padaku. namun aku memberanikan diri sebelum waktu memakan jejaknya dan kami terpisah untuk waktu yang lama.
"Jaga Stamina, tetaplah berjuang untuk kemanusiaan. sepulang dari negaramu nanti kita bertemu lagi, dan bersama seperti biasa. jangan lupa lanjutkan buku yang kamu tulis, aku penasaran untuk membacanya. jaga kesehatan selalu."
__ADS_1
"Kamu adalah cinta pertamaku, dan dapat ku pastikan bahwa kamu pula lah cinta terakhirku. hidup dan mati ku ini hanyalah kamu. aku sangat senang bisa mengenal tak ada penyesalan sama sekali bahkan dari sejak awal aku mengizinkanmu tinggal bersama. kamu adalah Isabella, gadis cantik yang di pungut oleh pria kesepian dan kriminal, dan kamu adalah cinta sejatinya." katanya.
tiap kata yang barusan dia ucapkan ini begitu bermakna, terlalu menyentuh sampai mampu masuk ke sanubari ku yang terdalam. akan ku ingat selalu Morgan, ini hanyalah perpisahan yang singkat, kan?
Morgan meraih tanganku dan menggenggamnya erat-erat, kemudian memelukku lagi.
"Selamat tinggal," ujarnya.
...****************...
Minggu pertama Morgan kembali ke negaranya, aku menderita kesepian yang pedih tak kepalang. aku melewati hari-hari bagai seekor burung terbang lepas sendirian di angkasa tak berbatas, tanpa kawan. hidupku nyaris tak ada bedanya dengan pohon ketapang yang tumbuh lebat di samping balkon rumah dimana aku tengah melamun; bedanya aku tumbuh lebar oleh khayalan-khayalan liar yang pedih dan menyakitkan, bukan dedaunan hijau.
__ADS_1
kesunyian mengubur ku dalam kesepian yang gelap bagaikan kegilaan. pada suasana seperti ini, di mana aku tengah melamun sendirian di beranda sambil menyaksikan awan berarak di langit dengan bulan bulat menyembul di antara mega-mega, dia selalu hadir menggodaku; saat-saat yang telah kami cipta bersama, hadir dan tenggelam bagai fatamorgana. senyum dan tawanya laksana mutiara gaib yang menyala-nyala dalam pikiranku, namun lenyap setiap kali hendak ku sentuh dengan tanganku. kesepian adalah neraka yang lebih panas dari api dan lebih dingin dari Es.
Tapi, aku harus mengalahkan ilusi ku. aku pun menekuni kembali kegemaran lama : memelihara kucing bersama Anak-anak. binatang pemakan daging itu kami biarkan hidup bebas di rumah dan di taman, mencakar-cakar pohon juga sofa, kadang juga mengencingi tanah dan bebatuan. oh, binatang yang cantik dan lucu, tetapi kami memelihara yang jantan berwarna oranye. dia bengal berlarian kesana kemari tak pernah takut untuk melawan jika ada kucing jantan lain yang datang. mirip benar kau dengan kekasih pujaan hatiku.
biarlah aku jadi ikan yang kau makan sampai habis, agar kau tetap hidup.
di ujung senja, dan di pertengahan malam ku selalu menantikan dirimu kembali Morgan, persis saat kau dan aku pertama kali bertemu...
...****************...
📌mampir ke sini kak
__ADS_1