Criminal : Aku Mencintai Penjahat!

Criminal : Aku Mencintai Penjahat!
Berlatih Menembak dengan Penjahat Ahli


__ADS_3

Selepas makan siang, Morgan menepati janjinya padaku. Dia membawaku pergi ke sebuah lapangan terbuka tak jauh dari rumah. Meski sedikit ragu-ragu, namun dia mengizinkan aku untuk berkenalan terlebih dahulu dengan senjata hitam menawan ini. Ku raba-raba dengan tangan sedikit gemetar, ku kenali setiap incinya. Nampaknya Morgan mengetahui keragu-raguan ku, tangannya yang besar dan berurat langsung memegang tanganku, membantu menopang si senjata.


“Rasa takut itu hal yang merepotkan yang bisa menggerakkan dan menghentikan langkah seseorang. Kalau kamu tenggelam dalam rasa takut sampai kapanpun tidak akan bisa bergerak.” Katanya padaku. membuatku teringat dengan kata-kata yang di ucapkan kak Maya waktu itu.


Di saat itulah seluruh bagian diriku seperti disihir oleh kekuatan gaib yang memancar dari aura kelelakiannya yang menyala-nyala. Pandanganku berpusat pada pria tangkas yang berdiri di depanku ini dengan sikap jantannya seperti Gambaran jelmaan Garuda pembawa dewa.


Aku terdiam.


“Kamu tahu bagaimana handgun yang sempurna? Jawabannya singkat yaitu ringan, ringkas dan akurat. Lebih bagus lagi kalau pelurunya banyak. Tapi apakah pistol yang kamu pegang itu masuk kategori ini?”


Aku hanya bisa menganga, mataku naik turun melihat wajahnya dan pistol yang aku pegang.


“Dalam kebanyakan kasus, Pistol ini bisa membunuh lawan hanya dengan satu peluru. Sehingga banyak orang yang senang memakainya. Bagi sebagian orang, Deagle adalah senjata terbaik. Saat melihat kilas luarnya, ini tampak sangat mematikan. Tapi apakah kenyataannya begitu Isabella?”


Morgan melepas tanganku dalam genggamannya, dia meraih Deagle dari peganganku dan aku pun melepasnya dengan sukarela.


“Dessert eagle ini adalah handgun yang oversize dan pakai peluru berkaliber besar, daya rusaknya pun jauh lebih hebat dibanding cartridge pistol biasa. Tapi karena ukurannya yang besar, recoil yang di hasilkan pun akan sangat hebat dan tidak jarang juga orang yang memakainya akan nyeri, jadi untuk memakainnya tidak bisa takut-takut. Karena inilah, deagle ini umumnya bukanlah pistol terbaik in a practical sense. Seperti yang aku bilang tadi, pistol yang baik adalah pistol yang mudah di gunakan dan tambahan pelurunya tidak sulit di temukan. maksudnya di jual di mana-mana.

__ADS_1


Dessert eagle dengan recoil dan berat tidak bisa di bilang “Mudah di gunakan”. Bahkan orang yang sudah biasa menembak pun, belum tentu bisa mengembalikan posisi bidikannya setelah menembak dengan cepat dan jitu. Oh ya, penggunaan waktu lama bisa buat cedera. Dan peluru yang di pakai Deagle ini sangat mahal, bisa 10 kali lipat dari harga peluru biasa. Makanya karena harganya yang mahal ini, tidak banyak orang yang pakai, karena tidak bisa sering-sering latihan. Dengan jumlah uang yang sama, orang bisa latihan menembak 10 kali lebih banyak dengan menggunakan pistol standar seperti glock, contohnya. Kesimpulannya, Deagle ini bukan pistol terbaik, seperti yang kamu kira. Tapi ya, aku akui sih Deagle ini terlihat sangat keren dengan ukuran dan daya rusaknya.”


“Kamu mengerti?” sambungnya.


Aku semakin melongo, kepala ku menggeleng-geleng mendengarkan ocehan Morgan. Dia seperti professor Andreas saat mengajar. Seperti istilah baru, yang tidak mudah masuk ke dalam sisi cerdas otakku. Aku menangkap pandangan matanya yang tajam dan khidmat menyerupai warna temaram buah anggur. Cahayanya berpijar pada kelopak yang mungil di bawah alis yang tebal dan lebat. Auranya terpantul pada caranya menatap, sebab dia tak pandai menyembunyikan rasa ingin melindunginya di balik pembawaannya yang tegas.


“Haish, sudahlah. Intinya, kelebihan yang di miliki dessert eagle ini malah menjadikan kelemahannya. Sebagai seorang penembak, kamu harus tau karakteristik senjata kamu. Sebagai seorang perampok kamu harus tau situasi dan kondisi barang dan lokasi incaran kamu, karena hanya itu cara kamu untuk bertahan hidup sampai misi selesai.”


Kini aku sadari, bahwa Morgan bukan sekedar penjahat Miskin biasa, dia bukan sekedar perampok yang tahu tentang mencuri, uang dan barang. Tetapi dia memiliki pemahaman di luar jangkauanku. Dia memang orang yang tersusun, semua di atur serapi mungkin, termasuk rencana dan semuanya. Namun, kecerdasannya yang alamiah itu sengaja di tenggelamkan, seakan ia tak ingin menonjolkan apa yang ada pada dirinya. Dia orang yang terorganisir, seperti mendapat pelatihan khusus, bukan belajar otodidak biasa. Umumnya tentara yang mendapat pelatihan militer. Dari caranya menjelaskan, dan pemahamannya tentang senjata, kemampuan berstrategi, Dia menenggelamkan kebenaran tenatang dirinya, entah apakah ada bagian dari dirinya yang tidak terjamah belum terlihat olehku. Namun Semua itu tertepis ketika aku memperhatikan pahatan hidungnya yang bagus di atas garis bibir yang sempurna, di topang dagu yang agak tumpul sehingga membentuk padanan yang seimbang dengan latar jakun besar yang menonjol di leher eksotisnya.


Pada penghabisan pipinya dengan pembataas rambut-rambut lebat, daun telinganya terlihat tegas berada di belakang rahangnya yang kokoh. Sementara, rambuutnya yang gelap kecoklatan di tariik kebelakang dan memusat pada ikatan simpul bergaya seperti pemburu di dongeng snow white. Sebuah pembawaan yang bersahaja dalam keseluruhan dan detail, dengan gaya hidup membina setiap gerak-geriknya dari dalam, seakan ada kekuatan gaib yang mampu menyihir lingkungan di sekitarnya.


Dia balik menatapku. Oh malunya aku, dia tahu aku sedang melamun memandangnya dan tekesima menyaksikan penampilannya, dia menunjukkan sisi kecerdasannya yang belum aku lihat dan dia tonjolkan sebelumnya. Dia memutar badan lalu berada dibelakangku, dengan aura kelelakiannya dia menyimpan tubuhku di dalam kuasanya. Hembusan nafasnya terdengar jelas saat wajahnya mendekat di samping pipiku, rambut-rambut halusnya menyentuh pipiku lembut, oh aku merinding. Tangannya yang panjang dan betotot menutup sisi kiri dan kanan tubuhku. Tidak lupa, dia mendapatkan tanganku, meletakkan telunjuk di pelatuk pistol yang di bantu todongkannya ke depan.


“Tatap ke depan, fokus. Pegang yang kuat dan jangan pernah ragu.”


“Dalam hitungan ketiga, ikuti perintahku tarik pelatuknya!” sambungnya.

__ADS_1


Dia membisik lembut, suaranya sopan sekali masuk ke dalam gendang telingaku. Bola hitam mataku bergerak kesamping, mencuri pandang menatap tiap goresan tegas tulang wajahnya. Aku meneguk saliva kasar, jantungku berpacu kebut sekali.


“...1”


Berulang kali aku menghebuskan nafas cepat. Aku tak bisa berbuat apa-apa, sebab tidak mudah bagiku menghadapi penjahat secerdas ini. Dengan keluasan wawasan dan ketajaman pikirannya, dia mampu menangkap batas terjauh dalam otakku, bahkan menangkap setiap detil perasaanku. ini adalah jalan yang aku pilih. Dan Morgan adalah mentor terbaik.


“...2”


Tak ada pilihan selain mengikuti arahannya, sebab kemanapun aku melarikan diri, dia yang lebih tahu jalan yang ku tempuh, memergoki ku sambil tersenyum hangat. Kecerdasan yang tergambar jelas sekarang, adalah senjata paling mematikan untuk menghadapi seseorang, terlebih bila kecerdasan itu bersumber dari kepekaan dalam menangkap setiap gejolak dan gejala, seperti yang dimiliki olehnya.


“...3”


Satu-satunya yang bisa ku lakukan adalah agar merasa nyaman dalam rengkuhan kekuasaannya, dengan mencoba bersikap seperti yang dia minta, sehingga meskipun jalan kami meleset, ketakutan itu sudah ku patahkan setelah mencobanya.


“Tembak..!!”


DORR!!!

__ADS_1


Mataku refleks memejam, kelopaknya cepat turun ke bawah menutupi bola mataku yang melihat ke depan, saat tangannya membimbing jemari telunjukku menarik pelatuknya. Beruntung ada tangannya, sehingga posisi tanganku mampu bertahan. Benar yang dia katakan di awal, bahwa pistol ini sangat berat saat menembak, bahkan penembak jitu pun belum tentu bisa mengembalikan posisi bidikan. Hah? Tapi mengapa Morgan kelihatan biasa-biasa saja? Posisi tangannya pun tegas, tak ada yang berubah. Sehebat inikah perampok biasa?


__ADS_2