Criminal : Aku Mencintai Penjahat!

Criminal : Aku Mencintai Penjahat!
Firasat Buruk Morgan


__ADS_3

“Pertama, kerjakan tugas rumah, itu pekerjaan kamu. Prioritasnya, selama kamu tinggal disini kamu harus menurut atas semua aturanku, kalau kamu bertindak sesuka kamu. Aku yang repot”


“Siap!”


“Kalau sudah bisa mandiri, cepat pergi”


“Boleh sampai saat itu?”


“Ku izinkan tinggal disini sampai sifat manja mu itu hilang”


Aku mungkin sangat membuat dia kerepotan, tapi ini lebih baik dari pada kembali ke rumah lalu ternyata masih harus menikah dengan David. Seperti Simalakama, jika untuk menyelamatkan perusahaan harus menikahi David yang brengsek itu, rasanya lebih baik menjadi perawan tua. Tapi jika tidak menikah dengannya, aku adalah sebab yang paling masuk akal untuk kehancuran keluarga, menyaksikan perusahaan yang di bangun ayah mati-matian hancur dimakan kebangkrutan. Sejak kecil aku ini hanya tau menikmati tapi tidak tahu bagaimana rasanya mencari. Sejujurnya aku mengikuti Morgan, bukan hanya karena aku menyukai dia, tapi ini adalah bentuk kelemahanku yang tidak mampu menghadapi pilihan, jadi aku memutuskan untuk pergi dan menghilang, memulai hidup dalam lembaran baru yang belum pernah aku saksikan. Dengan Morgan, pasti ada cara hidup yang lebih sehat.


“Tapi!!! Kalau kamu menggoda ku lagi, akan langsung ku usir” Katanya berbicara lantang


“A...aku mengerti!”


BEGITULAH KEHIDUPAN ANEH ANTARA PEREMPUAN MANJA BERUSIA 20 TAHUN DAN PRIA PENJAHAT PUN DIMULAI. TAPI DIRIKU SAAT ITU TERLALU MENGANGGAP REMEH BETAPA SULITNYA HIDUP BERSAMA SEORANG KRIMINAL.


...****************...


Pagi ini suasana di sekitar rumah ini tampak mendung. Burung-burung di tiang listrik bercuit sahut-sahutan. Biasanya fajar telah merekah di ufuk timur, namun kabut seperti tak tersibak sehingga membuat malam terasa lebih panjang.


Aku bangun, badanku pegal-pegal tulang-tulangnya terasa nyeri karena sejak kemarin Malam, Morgan tak lagi tega-tegaan terhadapku, sedihnya. Dia tidur di atas kasur besar itu, sedangkan aku tidur di bawah hanya beralas karpet. Aku meregang-regangkan badan, kulihat dia sudah duduk di kursi depan balkon rumah sambil memandang jauh ke depan. Koran pagi mesih juga tetap dibiarkan berada di dekatnya tanpa di sentuh. Kopinya telah habis di hirup, namun tampaknya dia belum makan, mungkin menunggu aku untuk memasak.


“Kamu mau dibuatkan sarapan apa?” tanyaku sambil duduk mendekat.


Morgan Cuma menoleh sekilas padaku, perempuan yang di pungutnya untuk menumpang hidup, kemudian kembali memandang jauh ke depan sambil duduk mendekat.


“Entahlah hari ini rasanya malas sekali, aku tak berminat melakukan apapun. Kamu baru bangun?”


“Eh, itu maaf aku akan berusaha bangun lebih pagi lagi lain kali” kataku sedikit merasa bersalah.


Aku bangkit dan menuju ke dalam sambil berkata dengan penuh semangat.

__ADS_1


“Aku buatkan sarapan ya, aku bisa kok buat sandwich. Takut Chiko juga kemari dan belum ada sarapan sama sekali. Sambil mau beres-beres juga”


“hmhhh....” Morgan menghela nafas.


Aku turun ke bawah mulai melaksanakan semua tugas dalam pekerjaan rumah-tanggaku. Tak lama ada suara ramai anak-anak memanggil dari lantai 1, aku langssung tahu bahwa itu adalah suara Chiko dan anak-anak lain di panti. “CHIKO, KAKAK DI ATAS. LANGSUNG MASUK SAJA!!” teriakku dari dapur, sambil mencuci piring wastafel.


“Chiko sudah disini ya?” kataku saat ku dengar langkah kaki berhenti di depan meja kitchen bar,


“Kakak sudah buatkan sandwich untuk Chiko dan yang lain sarapan. Chiko bisa ambil sendiri? Maaf ya kakak masih mencuci piring” timpalku kembali.


“Kakak!! Chiko dan teman-teman mau bantu kakak beres-beres rumah!!”


Aku langsung menoleh, mataku membulat saat kulihat Chiko dan anak-anak lainnya berdiri tegap, masing-masing diantara mereka sudah membawa senjata sendiri, ada yang pegang sapu, sekop, kain pel, kemoceng, kain lap Dan lainnya. Aku tersenyum, tenggelam dalam suasana penuh keharuan saat Chiko dan lainnya bekerja begitu keras hanya untuk membantu ku, pertama kali aku melihat ketulusan orang lain, di sini aku meyakini betapa banyak nilai moral yang bisa aku petik yang tidak aku dapatkan selama ini.


“Jadi, dibantu orang ya? Memangnya tidak bisa kalau bekerja sendirian?”


Tiba-tiba suara khas milik pria yang aku sukai itu terdengar lembut, Morgan. Dia berdiri di muka pintu dapur. Wajah brewok nya yang tampan itu menatap kami sambil senyum tipis, tangannya menyilang santai di depan dada.


Ketika malam menjelang, aku di ajari Morgan membuat makan malam. Hal yang belum pernah aku pelajari sebelumnya. Namun sayang, aku malah fokus menatap Morgan, aura karismatiknya begitu luar biasa. “Malam ini akan merampok lagi? Jam berapa?” kataku.


“Entahlah, hari ini rasanya sangat malas sekali untuk pergi keluar”


Dia mengulangi jawabannya lagi seperti tadi pagi. Aku merasa ada yang aneh pada Morgan hari ini, tidak seperti dia biasanya. Namun, Dia kemudian meraih jaket hitamnya dan mulai melangkah ke depan. Tapi baru berjalan berapa tindak dia balik lagi dan masuk ke dalam meraih pisau sedang yang biasa di pakai oleh bandit-bandit kalau beraksi yang tergantung di dinding dekat dapur. Kemudian dia mematung beberapa saat lamanya di depan pintu.


“Jangan dipaksakan kalau kamu sedang tidak enak badan, nanti kamu sakit!” larangku padanya.


Morgan Cuma diam dan kembali duduk di kursi depan meja makan, aku mendampingi dan duduk di sebelahnya, ku pandangi dia beberapa saat, kemudian bertanya dengan suara hati-hati.


“Apa yang sedang kamu pikirkan?”


“Tak ada...”


“Hmm... jangan berbohong. Kamu bisa mempercayai aku”

__ADS_1


Morgan menoleh dan memandangi wajhku agak lama. Kemudian terdengar hela nafasnya yang berat sambil memandang lurus ke depan.


“Aku merasa tak enak, aku mendapat kabar tak sedap...”


“Kabar?”


Morgan mengangguk.


“Kabar apa?”


“kabar inilah yang sangat mengganggu pikiranku. Semalam aku mendapat kabar dari rekan, kalau musuh tiba di kota ini...”


“Memangnya perampok punya musuh?


Jangan-jangan korban perampokan kamu ya?”


Dia menggeleng pelan, “Bukan, sudahla kamu tidak akan mengerti. Hanya saja, karena sekarang ada beberapa orang yang harus aku lindungi, aku tak sendiri, karena sekarang ada kamu. aku tak nyaman bergerak...”


Aku memberanikan diri meraih tangannya, lalu menggenggamnya erat. “Jangan dipikirkan, semoga ini bukan hal yang buruk. Kalau kamu mau pergi merampok, tak apa pergilah. Jangan mengkhawatirkan aku. Aku pasti baik-baik saja”


Mataku terbelalak saat pertama kalinya Morgan mendekapku, dia melingkarkan tangannya ke punggungku. Kemudian katanya dengan suara lesu. “Aku pergi sebentar saja, hanya sebentar. Ada seseorang yang harus aku temui. ingatlah! Selama bukan aku yang mengetuk pintu, jangan pernah membukanya, dan jangan pernah keluar rumah. tolong jagalah diri kamu sebaik mungkin. Sampai aku kembali lagi”


“Aku mengerti!”


“Aku akan berangkat sekarang!” kata Morgan melepas pelukannya dan kembali berdiri.


Aku tersenyum meski sejujurnya agak sedikit khawatir, menatap punggunggnya yang perlahan menghilang dari jangkauan mataku. Mengapa dia begitu cemas? Apakah perampok gelandangan bisa punya musuh yang membahayakan? Entahlah. Yang pasti Aku akan menuruti perintahnya. Mengunci semua pintu rumah baik-baik.


Namun kemudian tiba-tiba terdengar suara bising, teriakan dekat rumah. membuatku langsung gugup setengah mati. Teriakan itu semakin kencang, banyak bunyi anak-anak menangis. Aku memberanikan diri untuk mengintip dari jendela kamar. Aku melihat api menyala di rumah ujung jalan, disusul kembali dengan teriakan yang gegap gempita.


“Tolong...! toolooongg.....!”


Aku tersentak kaget, Bibirku langsung gemetar, saat kulihat bahwa rumah itu adalah panti asuhan. Tempat Chiko dan yang lainnya tinggal.

__ADS_1


__ADS_2