
Pagi harinya, seperti biasa aku bangun lebih awal darinya. Aku bergegas melipat kasur, dan menyusunnya di lemari bersama dengan selimut dan bantal. Morgan masih tidur, terlihat nynyak sekali. Aku langsung turun ke bawah lalu membuka jendela satu persatu. Sinar matahari langsung masuk menerangi rumah kami. Sepertinya hari ini akan sangat cerah, atau malah bisa jadi biang hujan?
Sekitar satu jam berlalu, semua tugas rumahku selesai termasuk membuat sarapan, Morgan datang tepat waktu. Dia berdiri di muka pintu menatapku yang masih menata sarapan di meja makan.
“Sedang apa? Kenapa berdiri di situ? Kemari lah, aku sudah buat sarapan loh.”
Morgan menuruti perintahku, dia berjalan pelan memutar badan melewati ku yang berada di seberang tempat duduknya. Dia meneguk jusnya dan mengulum bibirnya yang kenyal. Merah dan sedikit kehitaman, di topang dagunya yang runcing dan lebat dengan rambut itu. Dia tersenyum , sambil matanya terus menatapku, seakan sedang menyelidiki pikiranku dengan berbagai pertanyaan tersembunyi di dalam kepalanya.
Aku yang merasa sedikit tertekan, entah karena memang dia seperti memang sudah mengetahui tujuanku dari gerak-gerik ku ini, atau karena aku yang terlalu sensitif berpikir yang berlebihan. Aku menghela nafas, akhirnya ku beranikan diri untuk mengutarakan kehendakku padanya.
Dengan sopan aku sedikit menunduk di depannya,
“Morgan...”
“Ya?”
Kali ini aku mmemberanikan diri menatapnya, ku dongakkan kepalaku agar kedua pasang mata kami bertemu. “Tolong izinkan aku bekerja!”
Lalu tanpa ragu-ragu Morgan menjawab, “Ya, boleh”
“Eh, serius di bolehkan?”
__ADS_1
“Kenapa? Memangnya harus sampai izin begitu?”
“Soalnya kamu memintaku mengerjakan tugas rumah.”
“Kamu sudah melakukannya lebih dari cukup, seharian di rumah pasti bosan, kan? Aku juga lebih lega kalau kamu bekerja. Tidak kepikiran kamu terus di rumah.”
“Apa benar begitu?”
“Begitulah. Terus kamu sudah menemukan tempat yang cocok?”
Aku mengangguk, lalu dengan hati-hati walau sangat ketakutan, aku mengeluarkan benda miliknya yang ku ambil diam-diam saat merapikan kasur di bagian bawah lemari tadi. Morgan langsung melotot saat benda itu ku letakkan di atas meja. Benar, itu adalah si hitam yang mematikan, dessert eagle.
“Hei! Aku kan sudah bilang jangan menyentuh barang ku sembarangan!”
“Memangnya tidak ingat ya, aku benar-benar marah kalau kamu sentuh barang begituan. Kenapa sekarang malah mencurinya dari ku diam-diam?”
“Nah itu, Morgan... aku ingin ikut kamu merampok!”
Tatapan tajam Morgan seketika berubah, melihatku penuh heran, dengan mulutnya yang sedikit terbuka. Dia meneguk lagi jusnya cepat-cepat.
“Maksudku bekerja di tempat yang cocok Isabella!”
__ADS_1
“Maksudku adalah bekerja sebagai asisten perampok, Morgan!”
Morgan menepuk jidatnya, matanya memejam lalu keningnya mengkerut. Dia sepertinya sangat frustasi karena asa pekerjaan ku.
“Sejak kapan mencurinya?” dia membuka sedikit matanya melirik pistol yang ada di pertengahan kedua telapak tanganku.
“Barusan...” jawabku pelan, “saat membereskan kasur, aku ke loker tempat kamu menyimpannya, lalu ku ambil.”
“Benar-benar gadis nakal!” katanya sambil mendengus dengan suara yang dapat aku dengar. Aku tidak berani menjawab, kepalaku yang tadi tegap menatapnya kini menunduk karena malu dan sedikit ketakutan.
“Kenapa mau jadi perampok? Biar bisa menempel terus? Kamu akan menyusahkan aku saja kalau Cuma untuk senang-senang!”
“Tidak, tidak sama sekali. Bukan karena itu kok. Aku ingin belajar dari hal yang terdekat dulu. Mengumpulkan keberanian dan kemampuan, aku pikir berkerja paruh waktu di tempat lain belum tentu mudah di terima. Jadi sebaiknya melakukan hal yang paling dekat dulu.”
Morgan diam sejenak, ketika mendengar penjelasanku, “Menjadi seorang kriminal itu tidaklah semudah yang kamu pikirkan Isabella. Kalau kamu lengah dan lambat, kamu bisa berakhir di penjara. Kalau tertangkap, tak ada yang bisa kamu perjuangkan. Negara tak akan segan terhadap kucing liar lemah seperti kamu, kamu akan di buang bahkan bisa di musnahkan.”
Aku mendengarkan dia dengan seksama, seperti mendapat petunjuk dan ajaran dari pendahulu, dialah sang perampok sepuh yang sudah menempah pengalaman bertahun-tahun. Dia memberiku arahan panjang lebar, tentang cara permulaan sampai ke resiko yang akan ku hadapi. Walaupun dia sudah menjelaskan semua hal yang buruk-buruk secara detail, tapi itu semua tak merubah pendirian dan keyakinanku di awal. Aku tetap ingin bekerja menjadi asisten perampok.
“Aku mengerti...” kataku, “Jadi Morgan, Mulai hari ini mohon bantuan dan arahannya, dan yang pasti tolong ajarkan aku pakai pistol seperti ini.”
Sekali lagi morgan tarik nafas panjang lalu membuangnya dengan kencang. Dia terlihat sedikit kesal, namun lebih di dominasi pasrah.
__ADS_1
“Baiklah, nanti aku ajarkan. Habiskan dulu makananmu.”
Beginilah kehidupan kriminalku dimulai, saat aku berani mengambil pilihan untuk keluar dari zona nyaman. Ikut terjun dan belajar menyelam di kehidupannya yang gelap. Semoga aku berhasil! Misi cintaku dan perbaikan mental, dengan lantang aku gemakan mulai sekarang.