
Jantungku berdetak kencang, seakan dadaku ini penuh dengan gelembung yang membuatku sesak. apakah maksud dari ucapan Morgan ini? dia menangis untukku dan bicara seakan aku ini sangat berharga untuknya.
lantas ku raih kedua pipi Morgan, dan ku dongak kan wajahnya ke atas agar dia dapat melihat diriku dengan jelas.
"Morgan, bisa kamu jelaskan apa maksud dari yang kamu katakan barusan?"
tetapi Morgan hening, dia hanya menatapku sambil merapikan beberapa helai rambutku yang menyentuh wajahnya ke belakang telinga, dia menatapku sangat lembut seakan ia ingin menyampaikan isyarat dalam hatinya. aku tak ingin berharap lebih... tetapi tatapannya seakan dia menginginkan aku malam ini.
kedua mata kami saling bertemu, dan suasana di antara kami menjadi sunyi dan khidmat. sampai akhirnya Morgan membuka mulut dan berkata,
"Isabella, apakah cintamu begitu besar sampai ingin menyalahi aturan moral dalam hidupmu sendiri?"
"Apa maksudnya?" tanyaku padanya.
"Kamu memiliki prinsip hidup kan Isabella? Kamu memiliki hati nurani, dan kamu memiliki zona nyaman. tetapi mengapa kamu rela melewati batas yang kamu ciptakan? mengapa kamu mau keluar dari zona nyaman kamu? apakah itu semua murni karna kamu ingin belajar, atau kamu memiliki alasan lain? seperti cinta."
"Morgan, sekarang aku balik bertanya padamu. apakah kamu tahu cinta itu apa? apakah kamu pernah merasakannya?"
lagi dan lagi Morgan diam. dia membisu sebab tak tahu apa jawaban dari pertanyaanku barusan. baru kali ini ku lihat sosok pria tegas ini tak mampu memberi jawaban dengan kecerdasannya.
"Cinta itu adalah perasaan di luar nalar yang di rasakan oleh seseorang. perasaan yang tak bisa di atur dan di tentukan, dia hadir secara alami dan di bina dengan kelembutan. meskipun dia lembut, tetapi dia mampu menjadikan seseorang yang merasainya kuat. dia akan membuat seseorang rela berbuat apapun demi bisa bersama orang yang dia cintai dan perasaan itu akan mengalir seperti apa yang di rasakan oleh orang yang di cintainya, jika dia bahagia maka kita akan ikut senang, begitu juga sebaliknya."
"Jadi maksudmu, aku sudah mencintaimu, Isabella?"
"Aku tidak mengatakan tentang kamu, karena yang tahu perasaanmu hanya kamu sendiri Morgan. aku hanya menjelaskan tentang cinta dan bagaimana cinta itu. tetapi mengapa kamu sampai mengira begitu? apakah kamu merasakan perasaan yang aku katakan?"
Malam semakin larut, langit pun jadi lebih berkabut. angin berhembus masuk melalui ventilasi jendela. malam ini langit tak berbintang, meskipun sayup-sayup ku dengar suara cicak di luar, berisik sekali. mungkin karena sudah masuk musim kawin.
__ADS_1
"Isabella, sebesar apa cintamu padaku?"
pertanyaannya sangat singkat sehingga sangat lantang bisa ku jawab, "Aku tidak tahu Morgan, sama seperti pengetahuanku tentang berapa lama usiaku di dunia. cintaku ini hanya sepanjang aku hidup hingga aku mati."
"Aku dapat mempercayainya Isabella, aku percaya jika cintamu sebesar dan sedalam itu. karena kamu rela melakukan sesuatu di luar nalar dirimu hanya agar layak di sampingku. tetapi aku... aku tak mempercayai diriku sendiri, apakah mampu melindungi mu melewati resiko dalam mahligai cinta yang mungkin kita bangun."
"Bagaimana jika aku mempercayai mu Morgan? aku sudah mengikuti mu begini jauh dan kamu lihat? kamu bisa melindungi ku sampai detik ini kan?"
"Masalahnya, perjalanan kita tidak hanya sebatas di sini-sini saja Isabella. jalan kita masih sangat panjang dan dapat ku pastikan akan sangat berliku. seperti apa kita akan menjalaninya, aku sangat mengkhawatirkan keselamatanmu."
aku menangkap mata Morgan, bola matanya berlinang berkaca-kaca. meskipun nada bicaranya tegas seperti biasanya tetapi aku memahami bahwa dia terharu, inikah alasanmu selama ini menolak ku Morgan? apakah bagimu resiko hidup dengan seorang kriminal se-berbahaya itu? bukankah kita sudah berjalan sejauh ini, apakah itu tidak cukup untukmu memahami bahwa kita bisa melewati ini bersama, Morgan?
ataukah ada hal lain yang mengejutkan? misteri macam apa lagi yang tersembunyi di antara kami? dan adakah sesuatu yang kami sembunyikan?
bagi ku, memang ada. aku menyembunyikan identitas ku yang masih memiliki keluarga, aku berbohong mengatakan bahwa aku hidup sendirian dan mengontrak. tetapi aku merasa berat hati untuk mengungkapkannya kepada pria yang aku cintai ini, aku tak sanggup jika itu berarti dia akan mengembalikan ku ke ibu dan menghilang dari hidupku.
perasaan diriku berdebar-debar, rasanya seperti jantungku mau copot. ketika Morgan bangkit bersamaan dengan menarik tanganku juga, jadi tubuhku ikut berdiri bersamanya. kami saling tatap, dalam sekali.
hingga kemudian Morgan melingkarkan tangannya di pinggang ku, sehingga dadaku merapat di dadanya. aku jadi gelisah terutama saat dia tanpa ragu, serupa seekor kuda yang lepas kendali. dia menekan tubuhku semakin rapat di tubuhnya dan menciumiku bertubi-tubi. sekali lagi, bolehkah aku berpikir bahwa gunung es dan pertahanan diri Morgan telah mencair.
"Mor-Morgan... " kataku kecil,
tetapi Morgan tak menghiraukan aku, dia terus menciumiku. bibirnya sangat lembut dan kenyal, namun juga penuh tenaga dan semangat. aku merasai kembali sentuhan Morgan.
"Morgan... " kataku saat aku mulai merasa kehabisan nafas, "Cukup, cukup."
"Tatap aku, Isabella."
__ADS_1
aku menuruti perintahnya, ku tatap dia. dia terlihat serius tetapi juga sangat lembut.
"Maukah kamu hidup bersama seorang pria seperti ku, Isabella? maukah kamu menjalani hari-hari mu bersamaku?"
hatiku pecah, sesaat Morgan secara tersirat mengatakan bahwa dia menginginkan aku di hidupnya. lantas aku tak mampu membendung air mata, bulir bening itu menumpuk di pelupuk mataku.
aku mengangguk, inilah buah dari penantian panjang dan perjuangan cintaku selama ini. haru sekali. lalu Morgan mendapatkan kaki ku, mengangkat tubuhku seakan ingin menunjukkan bahwa dia sekarang sangat bersuka hati.
dia menidurkan ku di ranjang dan dia di atasku. kami pun saling berciuman lagi, awalnya dengan bibir, kemudian masuk ke lidah. kami berciuman dengan lembut, dalam gairah malam berkabut menuju fajar.
"Aku mencintaimu Isabella."
Oh, aku lantas menangis. Kata-kata ini yang selama ini aku nantikan dari mulutmu Morgan. kata-kata ini yang ingin ku dengar saat aku bersamamu. seandainya mulutku ini dapat berbicara Morgan, aku ingin sekali berteriak pada dunia bahwa akhirnya aku mendapatkan cinta dari seorang pria yang ku suka.
"Aku juga sangat mencintai mu Morgan, sangat mencintaimu." kataku dengan nada bergetar, karena tak kuasa menahan haru.
malam menjadi panjang, dan kami melewatinya di atas ranjang. saling terbenam dalam rasa cinta tak terhingga, ku nikmati tiap detik ketika setiap inci tubuhku disentuhnya. kemudian Tiba-tiba aku teringat ucapan Morgan saat awal aku tinggal bersamanya dulu :
Aku hanya akan bercinta, dengan wanita yang ku suka
...****************...
Mampir kelen ke sini ea ⬇️⬇️ author maksa 🪓
follow instagram author sayang : unchiha.sanskeh
__ADS_1