Criminal : Aku Mencintai Penjahat!

Criminal : Aku Mencintai Penjahat!
Kembali Ke Negara Asal


__ADS_3

Malam begitu tenteram dalam keagungannya. sebuah bintang yang sendiri berjalan merapat ke arah kerumunan bintang di sekitarnya. bintang itu perlahan berbinar-binar dan tampak semakin tegar pada orbitnya di tengah alam semesta yang demikian luas dan gelap. mungkin kami manusia harus berbagi segala apa yang di rasakan, agar semakin kokoh dan kuat. berbagi dengan orang lain memang bukan berarti mengurangi kesendirian, melainkan sekadar agar tidak terlalu pengap dan berat menanggung nasib kesendirian. dan mungkin demikian pula dengan cinta. juga antara aku dan Morgan, berawal dari pertolongan yang diberikannya, kami jadi saling berbagi kesendirian dan saling melengkapi.


gumpalan awan dari tepian cakrawala kian mendekat, membentuk awan tebal.


sejak pemergiannya, aku terus berdiri di depan jendela kamar, ku pandangi langit sambil sesekali pula melihat ke bawah, jalanan. berharap sepeda motor yang di kendarai Morgan datang.


bulan mulai memudar tertutup kabut di atas langit sana, sayup-sayup terdengar pula suara burung berhimpit-himpitan di kabel listrik. begitu pula denting jarum jam dari jam dinding antik makin membuatku semakin gelisah, nampak nya malam akan tenggelam di telan fajar.


"Dia masih belum kembali," kataku pelan.


namun meskipun perasaan gelisah ini terus menyelimuti diriku, aku tak ingin meragukan Morgan. aku sudah mengenalnya lama, aku tahu Morgan bukan prajurit esek-esek, yah, yang namanya prajurit sudah pasti memiliki kemampuan dan pola pikir di atas rata-rata orang biasa, walaupun sedang dalam situasi genting mereka sudah paham strategi perang.


jadi, tugasku sekarang hanyalah mempercayai dan menunggunya pulang dengan tentram. ku hela nafas panjang berusaha memberi ketenangan dalam diriku, meskipun pikiran dan hati ini beradu aku akan selalu mempercayai Morgan, dia telah berjanji dan mengatakan akan pulang, begitu lah seharusnya.


Demikianlah ketika langit mulai membiru, aku terus berdoa memohon pada Tuhan semesta agar ketakutan ku ini tak menjadi nyata, agar kami di berikan jalan untuk merawat cinta ini tetap kekal. cinta adalah sumber energi untuk menepis kesepian dan memberikan kekuatan untuk terus berjalan dan hidup.


di suatu hari, aku sudah menyiapkannya, aku akan mengajak Morgan menikah. setelah itu setiap sore kami akan duduk bersama di beranda, membaca buku tulisannya dan menikmati kopi serta kue kayu manis yang ku buat, dia, Morgan yang tampan dan gagah, mengutip sebuah kalimat dari tokoh tokoh dunia yang di sukainya tentang sebuah cinta yang membuatku mengerti betapa cinta itu tak bisa di hindari. lalu, dia akan bernyanyi lagu Alexander Miraz, sambil memetik gitar untukku. romantis sekali, kan? tak apa jika aku harus ikut pergi dan tinggal di negaranya berasal, aku juga akan mengajak ibu ke sana.


Hanya itu saja yang ku inginkan.

__ADS_1


di tengah lamunanku, Tiba-tiba ku dengar suara pintu depan terbuka keras, lalu derap langkah kaki yang kuat dan cepat. aku langsung menoleh saat ku dengar suara memanggilku dalam jarak yang demikian dekat.


"Isabella!"


Mataku terbelalak, saat ku lihat sosok yang ku tunggu-tunggu kepulangannya akhirnya datang. bola mata ini rasanya sangat panas, ketika Morgan datang, kini ia menemui penantiannya. dengan mimik muka cemas keringatnya bercucuran membuat kaos hitamnya mengetat menonjolkan otot tubuhnya.


"Morgan... " aku berteriak dan berlari ke arahnya.


dia mendekap ku, dan aku memeluknya erat. ku cium pipinya bertubi-tubi dan kembali tenggelam dalam dadanya, menggambarkan gairah kerinduan yang sama hebatnya, padahal hanya berpisah tak sampai satu hari, tapi aku merasa kami seperti terpisah, jauh dan lebih jauh... seperti pisah alam. aku pikir Morgan akan.. tetapi syukurlah ketakutan ku itu hilang.


aroma tubuhnya yang coklat eksotis tercium di hidungku dan merasuk ke dalam diri. rasanya aku sedang mabuk oleh parfum murni yang langsung tercium dari sumbernya, dari bunga-bunga yang mekar di taman.


ketika hendak pergi, Morgan menarik pergelangan tanganku. dia menatapku dengan raut yang tak dapat ku pastikan apa artinya,


"Tidak Isabella, sudah tak ada waktu." dia diam sebentar, kemudian melanjutkan "Aku ingin mengatakan sesuatu."


"Sesuatu apa?"


"Situasi sekarang sedang memburuk, pengintaian kami telah terendus dan salah satu agen telah tertangkap. kami harus menyusun strategi secepatnya, sebelum dampak yang lebih besar datang. jadi karena itu, kita harus berpisah cukup lama."

__ADS_1


"Kamu akan pergi?"


"Ya."


ku tatap wajahnya lekat-lekat. kemudian ku alihkan pandanganku, hampa dan perih. kini, aku tak berani membayangkan hidup tanpa dia. tak bisa. dan seandainya bisa, aku belum tahu caranya.


"Ke mana?!" tanyaku, dengan nada sedikit marah.


"Kembali ke negaraku."


"Kapan?" timpal ku kembali


"Sekarang, sebelum seluruh jalur di tutup dan kami terkepung."


...****************...


📌 mampir yaa kack ke teman Morgan ini xixi ⬇️⬇️😚


__ADS_1


__ADS_2