
Di luar angin malam terus menyerbu masuk. Ku cari jaket kulit tebal untuk menghindari hawa dingin yang menyiksa. Jam dinding menunjukkan malam sudah hampir larut. Dari kaca jendela, langit tampak cerah dengan warna biru kelam. Ada beberapa bintang di sana, dengan cahaya sayup-sayup menyapa dari ketinggian, seakan ingin menemaniku menjalankan misi merampok pertama kalinya.
Akhirnya malam ini tiba, Kami pun berangkat menuju tempat yang sudah di targetkan sebelumnya. Sepanjang jalan hatiku di penuhi perasaan khawatir karena aku belum pernah melakukan hal nekat begini. Dimana aku akan mengambil sesuatu hak milik orang lain secara paksa, mengancam mereka menggunakan senjata agar mereka tertekan. Sedangkan pistol sediri? Aku masih asing dan ketakutan dengan senjata jenis ini, apalagi orang yang akan di todong nanti.
Kami pergi setelah selesai makan malam dengan mengendarai sepeda motor Morgan, yang kalau ku lihat secara fisik ini merupakan kendaraan mahal dengan harga selangit, berpuluh kali lipat dibandingkan dengan mobil kalengnya waktu itu. entah bagaimana cara ia mendapatkannya.
Jalan-jalan ramai dan udaranya pun tidak sedingin malam kemarin. Lampu-lampu jalan menyala terang, demikian pula demgan lampu di gedung tinggi di kota ini saat kami keluar dari distrik mati tempat kami tinggal. Sehingga kota ini terlihat seperti sedang berpesta. Morgan duduk tenang mengendarai sepeda motornya sambil bernyanyi-nyanyi kecil seperti kebiasaannya.
“Aku suka Miraz, Endless Love...” katanya, meniru bait dari penyanyi terkenal luar negeri.
“Alexander Miraz, maksudmu? Dia penyanyi dari luar negeri kan?”
“Ya, siapa lagi?”
“Kupikir ada Miraz yang lain. kamu selalu mendengarkan lagu-lagunya ya? liriknya dari bahasa asing tapi kamu fasih sekali, seperti pakai bahasa sendiri, eh.. tapi apa aku tidak salah mengira kalau kamu bukan seperti perawakan negara ini. seperti orang asing loh Morgan.”
__ADS_1
“Ha..ha Memangnya terlihat begitu ya?”
“Hmm... kamu begitu sulit ditebak Morgan.”
Sepanjang jalan, pikiranku melayang-layang tidak karuan, bertubrukan dengan semrawutnya bangunan kota yang riuh-rendah di tambah beberapa kendaraan orang-orang yang berlalu lalang. Mampukah aku melakukan keputusan yang aku ambil untuk bisa terus bersama Morgan? Mampukah aku memendam perasaanku sampai benar-benar membuat dia membalasnya, bila ternyata aku memang harus mengambil jalan yang dia lalui untuk membuktikan bahwa aku mampu hidup bersamanya dengan segala resiko yang ada?
“Berhenti sebentar!” seruku kepadanya.
Morgan berhenti di tepi jalan. Aku mengelus perut, meraba sekali lagi pistol yang ku selipkan di celana. beberapa kali ku sentuh sebanyak itu pula aku mendengus.
“Kalau kamu ragu, kita batalkan saja. jangan terlalu dipaksakan. Kamu memang tidak cocok ada di jalan kriminal begini.”
Apapun yang akan terjadi akan aku terima. Aku mencintainya dan aku pun harus juga mencintai resiko masuk ke dalam hidupnya, demikian pula. Tapi, bagaimana dengan kelanjutannya? Adakah kami selamanya akan menjadi perampok? Mencuri hanya untuk bertahan hidup, membunuh hanya untuk melindungi diri. Tuhan maha pengasih, khusus untuk kami, mohon berikan jalan yang lebih baik untuk kami ke depannya. Jangan biarkan kami selamanya terjebak dalam kesalahan begini.
“Ayo, kita kembali berangkat.” Kataku.
__ADS_1
Motor berputar pelan dan kembali lagi lagi hatiku berdebar-debar hebat. Apa yang akan terjadi? Aku melihat beberapa anak jalanan baru pulang dari jalan raya, tetapi mereka masih bernyanyi berjaja suara di perempatan warung kecil sambil memukul jimbe-jimbe. Seorang perempuan yang tak bisa menyembunyikan aura lelakinya melintas di antara mereka dengan anggunnya, rambut palsunya yang panjang dan bergelombang berkibar diterpa angin malam. Pemandangan nyata memilukan yang belum pernah ku lihat sebelumnya, ternyata begini kehidupan dengan strata sosial. Yang di bawah tahu dengan kehidupan yang di atas, tetapi tidak semua yang di atas tahu dengan yang di bawah.
Tapi astaga, sejauh aku mengalihkan perhatian, aku tetap saja merasa cemas dan gelisah jantungku berpacu cepat dan hebat, seperti genderang perang. Bukankah aku tidak sendiri? Ada Morgan yang menemaniku, dia akan melindungiku, jika ada dia bersamaku semua akan baik-baik saja.
Perasaan berdebar itu kian kencang ketika kami sudah di depan swalayan. Rasanya jantungku mau copot. Tapi, ah, ternyata swalayan tidak terlalu ramai. Aku harus tetap tenang, tidak gugup; meski kenyataannya aku hanya bisa berpura-pura tenang dan berpura-pura tidak gugup.
Kami kemudian memasuki bagian dalam swalayan, bertingkah seperti para pembeli pada umumnya. Kami melihat-lihat beberaoa produk makanan di rak. Sambil sesekali mengawasi situasi. Sampai akhirnya beberapa pelanggan yang tadi berkunjung sudah bergiliran pergi.
Hingga akhirnya Tinggal kami berdua lagi pelanggan yang tersisa, Morgan mulai memasukkan beberapa produk rumah tangga ke dalam tas ransel yang kami bawa, dia mengendap-endap, gerakannya pelan hati-hati sambil mengawasi sekitar. pun aku juga mengambil beberapa barang, namun aku sedikit merasa longgar, karena nampaknya tak ada pegawai lain dan orang lain selain aku, Morgan dan Kasir pria yang kemarin.
Ku tarik bagian bawah kaus yang ku pakai, ku pandangi sekejap pistol yang menyelip di depan perut. Lalu tanpa ragu ku tarik pistol itu dan berjalan ke arah si kasir.
“Jangan melawan, angkat tangan..! berikan semua uang di laci! Cepat...!!” pekik ku pada kasir membuatnya ketakutan saat ku todongkan pistol di depannya.
...****************...
__ADS_1
📌 Halo bunda kakak abang kesayangan author, info penting!! author mau kasih spoiler adik Morgan nih 👀. mampir yak nanti ke lapaknya, kita kenalan sama adik kesayangan Morgan. nih ⬇️⬇️⬇️