Criminal : Aku Mencintai Penjahat!

Criminal : Aku Mencintai Penjahat!
Jangan Tinggalkan Aku, Morgan!


__ADS_3

...SEMINGGU KEMUDIAN...


“Kamu mau pergi lagi?” kataku saat melihat morgan sudah mengenakan kembali jaket kulit berwarna hitam yang biasa ia pakai.


“Ada rekan lama yang harus aku temui”


“Bagaimana kalau orang-orang kemarin datang lagi ke sini? Aku...”


“Tenanglah, kamu akan baik-baik saja. Dengar Bella, aku akan memindahkan lebih dulu anak-anak ke tempat lain yang lebih aman, kamu bisa ikut mereka saat aku berhasil menemukan tempat itu nanti.”


“Bagaimana dengan kamu?”


“Tak usah pedulikan itu, aku sudah terbiasa dengan situasi begini. Sedangkan kalian? Tidak sama sekali”


“Tidak mau!” tegasku, menolak keras. “Kamu sudah berjanji menerimaku dan mengajari aku sampai bisa mandiri, aku tidak terima kalau kamu tinggal begitu saja...!”


“Kamu bodoh ya?” katanya dengan nada sedikit tinggi.


Aku memalingkan muka, mulutku mengerucut kesal mendengar rencananya, “Kamu selalu menyebut aku bodoh..”


“Memang kamu bodoh, bodoh tiada tanding...! kehidupan ku ini tidak semudah milik orang-orang lain di luar sana, kamu tidak lihat Chiko? Daisy? Anak-anak lain? Kamu... jalan yang aku pilih ini akan beresiko juga untuk kalian yang memiliki interaksi dengan ku. Tinggal bersama mereka juga tidak buruk kok, kamu juga bisa berubah saat bersama mereka. Jadi lebih baik kita berpisah sampai di sini saja, kamu akan lebih aman jika tidak terlibat denganku lagi...”


Aku dapat memahami pendapat dan kekhawatiran Morgan. Memang sangat beresiko untuk tinggal dan hidup bersama dengannya, seorang penjahat. Bukan hanya berat untukku, tetapi jelas untuknya juga. Peristiwa naas yang kami alami kemarin, dan kematian Chiko tentu menggoyahkan dan menurunkan mental baja yang dimilikinya. Tetapi aku masih ragu jika harus benar-benar tak lagi bersamanya. Aku sudah merasa Morgan adalah takdir yang tak bisa aku lewatkan.


Dari luar angin malam terus menyerbu masuk. Kurapatkan selimut untuk menghindari hawa dingin yang menyiksa. Jam dinding menunjukkan malam sudah larut. Dari kaca jendela, langit tampak cerah dengan warna biru kelam. Ada beberapa bintang di sana, dengan cahaya sayup-sayup menyapa dari keetinggian, seakan ingin menemaniku memikirkan Morgan yang sudah pergi meninggalkan aku sendirian di rumah. meski dengan perasaan yang sulit dipahami, aku seakan merasakan kehadirannya disini, seperti sedang diawasi. Tetapi bukan untuk berbuat jahat melainkan untuk melindungi.

__ADS_1


Pertemuan kami memang berlangsung singkat dan terkesan kurang romantis jika menjadi sebuah kisah cinta.


Pada suatu malam, di acara pertunanganku. Ku dapati David berselingkuh bahkan saat acara masih berlangsung. Lucunya malah dia yang marah karena aku merendahkan perempuan selingkuhannya, dia memukuli aku di luar gedung tempat acara kami di adakan. Dengan tubuh dan mental yang lemah ini, aku tak berani melawanya sama sekali. Lalu, Morgan muncul dengan gagah. Seperti seorang pahlawan yang datang untuk menyelamatkan. Meskipun awalnya aku terkejut saat dia mengatakan bahwa dia adalah seorang kriminal tetapi cinta ku ini, kurasa bukan soal fisik, pekerjaan ataupun finansial. Saat itu aku merasa bahwa morgan telah merampok hatiku ini secara tiba-tiba hanya dalam waktu beberapa detik saja. Aku tidak tahu bagaimana cara dia melakukannya, memunculkan cinta dari hal-hal yang biasa saja.


Aku bangkit dari kasur, kali ini tekadku sudah bulat. Aku pergi ke dapur dan memasak kembali bihun kuah yang pernah dia minta dulu. Meskipun masih ada sedikit rasa trauma saat melihat pisau, aku mencoba untuk memberanikan diri.


Aku menghirup sedikit kuah bihun yang baru saja aku buat, “Bagus! Kali ini dia tidak akan mati kalau makan ini!”


Ceklek


“Bihun?”


Aku langsung berlari menyambutnya di pintu dapur saat kudengar suara beratnya keluar.


“Selamat datang, papa!” Kataku penuh semangat.


Aku tertawa kecil, senang sekali menggoda pria kaku sepertinya. Yah, paling tidak jangan terlalu tegang setelah dia berencana untuk menjauhkan aku dari hidupnya.


“Maaf, aku Cuma masak bihun kuah.”


Lalu dengan wajah malu-malu dia menyodorkan tangannya yang menenteng plastik putih besar


“Aku beli Nasi kepal dan rumput laut, kamu mau makan?”


“Mau...”

__ADS_1


Makan malam berdua dengannya, sangat sederhana tetapi sangat bermakna juga. Dia masih perhatian dengan membawakan aku makan malam.


Setelah makanan miliknya habis, Tiba-tiba dia berdiri. “Mau kemana?” kataku.


“Merokok”


“Kenapa harus keluar? Merokok di sini juga tidak apa.”


“Kan ada kamu di sini...”


Mataku membulat. Dia sangat baik, selama ini semua orang yang aku temui merokok saja tanpa memperdulikan aku. Aku tahu bagaimana caranya menangis, dan aku tahu bagaimana caranya berbohong, aku tahu cara berpura-pura, aku tahu malam semakin larut, dan aku tahu waktu akan berlalu. Aku memang takkan mengatakan padanya segala sesuatu yang hharus ku katakan padanya, namun aku tahu aku harus mencobanya, aku tahu semua aturan dan aku tahu bagaimana cara melanggarnya. Tetapi aku tak tahu bagaimana cara meninggalkan kamu, dan aku tak kan pernah membiarkanmu terjatuh.


BRAK


“Aku sudah memutuskan!” aku berteriak memukul meja, dia yang berdiri di balkon langsung menoleh ke belakang.


“Apa?”


“Aku akan selalu mengikuti kamu, tidak mau berpisah!” tegas ku.


“Bodoh! Siapa kamu yang ambil keputusan seenaknya. Aku menolak!”


“Kamu sudah janji loh!”


Morgan diam sejenak lalu menghela nafas panjang. “Dengar, aku bukan pria baik-baik. Hidup denganku tidak akan berjalan mudah, jadi kamu juga harus selalu siap dengan semua resikonya. Belajarlah menjadi berguna, kalau tidak kamu hanya akan menyusahkan aku saja”

__ADS_1


Aku sumringah, bukankah itu artinya dia menyetujui keputusanku?, “Siap, Pak!”


__ADS_2