
Demikianlah, akhirnya ketika hari esok yang dia katakan tiba. Kami berkemas di panti, membantu anak-anak merapikan dan menyusun barang mereka bersama-sama. Tak terasa perpisahan berada di depan mata, aku tiba-tiba teringat dengan Chiko dan Daisy. Dua anak hebat yang memiliki keberanian dan rasa cinta yang luar biasa. Cinta menjadi sumber energi dan motivasi bagi kami untuk saling merangkul dan melindungi, dan menjadi tenaga baru bagiku untuk mengendalikan Nilai diriku.
Ada waktu, ketika aku dan anak-anak duduk bersama di lantai kamar melipat pakaian, sambil menikmati kue yang di beli oleh Morgan tadi pagi. Anthony, si jagoan kecil yang manis, menyeletuk dari ujung barisan kami. Kalimat yang di celotehkannya membuatku semakin mengerti betapa cintaku pada Morgan tak dapat dihindari, tetapi harus dimuliakan, di rawat dan dipertahankan; walau cinta itu juga yang membuatku harus meninggalkan identitas ku di keluarga, gelisah karena sikapnya, dan merasa sunyi tiada tara ketika dia pergi meninggalkan aku.
“Kak Isabella pasti tahu Albert,” Ucap Anthony membuka percakapan di antara kami semua yang berada dalam ruang kamar.
“Penemu Teori Relativitas,” sahutku.
“Banyak orang yang sinis dan benci kepadanya karena dialah orang yang menyetujui pembuatan bom atom yang menghancurkan Kota H dan N pada perang dunia II. Kedua kota itu hancur lebur setelah di jatuhi bom, muncul awan gelap di langit selama berhari-hari, lalu tak lama kemudian turun hujan hitam yang mematikan. Dunia, saat itu tak membayangkan bahwa akibatnya akan separah itu, begitu pula dengan Albert.”
__ADS_1
“Kemudian, begitu tahu dampaknya yang luar biasa mengerikan itu, Albert menyesal bukan kepalang. Itu adalah peristiwwa yang paling disesalinya seumur hidup.” Ia berhenti sebentar sambil kembali mengambil kue di piring. “Tapi, apakah kakak tahu apa arti cinta bagi Albert?”
“Tidak. Memangnya Albert itu adalah orang yang peduli pada cinta?”
“Kata Albert, tanpa cinta, mustahil dia mampu menemukan salah satu teori paling revolusioner dalam sejarah ilmu pengetahuan. Cintalah yang akan membuat seseorang mampu menekuni sesuatu tanpa henti-hentinya dan merindukan hal-hal yang baru, maka dengan itulah dia sanggup menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak terbayangkan. Cinta itu adalah energi kreatif dan sebuah motivasi yang tiada habisnya, yang batas-batasnya melampaui ilmu pengetahuan insan itu sendiri.”
“Teori dalam ilmu pengetahuan itu sifatnya Universal, semua akan sama dimanapun tempatnya. Tapi, semenjak Albert menemukan teori relativitas seperti yang kakak katakan tadi, universalitas ilmu pengetahuan itu ternyata hanya isapan jempol belaka. Semuanya itu jadi relatif. Nah, cinta memiliki posisi yang unik bila di bandingkan dengan pengetahuan.”
“Satu-satunya yang universal itu adalah kemampuan jiwa seseorang untuk merenungkan dunia yang menjadi objek renungannya, sampai jiwa itu menjadi penuh dan luas menjadi universal. Kemampuan jiwa itulah yang orang-orang awam seperti kita sebut dengan : Cinta...”
__ADS_1
Aku tersenyum menatapnya dengan mata berbinar-binar penuh kekaguman, “Kamu belajar dari mana pengetahuan seperti ini Anthony? Kamu begitu cerdas untuk usiamu yang masih sangat muda. Bahkan kakak pun tidak mengenal tokoh dunia seperti Albert sedalam ini. Termasuk teorinya tentang cinta.”
“Kami mengetahui ini dari Moan, papa yang mengajarkannya pada kami!” jawab Anthony dengan senyum menyengir.
“Oh, ya? Morgan mengajari kalian pengetahuan yang sangat luas.”
“Emm, no! no! lebih tepatnya Papa mengajari kami tentang cinta. Papa mengatakan bahwa cinta itu akan membuat kita menjadi menyeluruh, membaur dan membersamai. Saat itu, ketika pertama kali papa menyelamatkan lalu mengumpulkan kami bersama dalam satu tempat. Kami berasal dari latar belakang yang berbeda, tak ada satupun di antara kami yang saling mengenal. Kami memikirkan diri sendiri, dan berkompetisi merebut hati papa agar kami tidak di buang. Tetapi papa mengatakan seperti yang aku jelaskan barusan. Cinta... sebuah kemampuan jiwa menyeluruh yang memiliki posisi unik di banding pengetahuan. Suaru energi tanpa batas yang membuat seseorang mampu merasakan kerinduan.”
Langit pagi begitu teduh, dengan awan putih menggantung. Sementara matahari terus naik, menuju tempat paling tinggi di atas sana. Di dekat beranda, pada pohon ketapamg yang rimbun. Mataku menangkap satu atau dua daun yang menua oleh musim dan cuaca, di kelilingi rimbunan daun yang hijau sepenuhnya. Daun itu seperti kamu, Anthony : jiwamu terlalu tua untuk usiamu yang masih demikian muda dan hijau.
__ADS_1