
Aku di buat kecewa dan sedih habis-habisan. tak ada siapa siapa di kamar ini. yang ada cuma seekor kucing yang menggosok-gosokan kepalanya ke kaki atau tanganku dengan manja, ku pandangi lagi surat yang masih dalam genggaman tanganku, seolah ingin meyakinkan bahwa surat ini bukanlah milik Morgan. kalaupun ini benar, pastilah ada penjelasan mengapa bibi Rosy bisa memilikinya.
Dengan wajah masygul dan langkah ragu ku tinggalkan kamar dan kembali ke halaman samping menemui bibi Rosy.
Namun, belum sampai aku meraih gagang pintu bibi Rosy telah muncul dengan wajah keriputnya yang teduh.
dia tersenyum sambil membawa kotak obat. Oh! astaga aku sampai lupa dengan tujuan pertamaku ke sini, yaitu untuk mengambilkan obat merah untuk lily.
"Ma-maaf bibi Rosy, aku tidak menemukan obat merahnya! ma-maaf maksudku maaf karena aku terlalu lama mencarinya." kataku terbata-bata.
bibi Rosy tersenyum.
"Bibi lupa kalau kotak obatnya ada di ruang tengah, maaf ya. ah, bawaan sudah tua ha ha!"
dia lalu masuk ke dalam kamar sambil meletakkan kotak obat ke papan tatakan di dinding samping lemari.
surat ini terus ku remuk dalam kuasa telapak tanganku, meskipun ragu aku harus menanyakan ini padanya. sebab, ada yang dia ketahui tentang Morgan tetapi tidak denganku.
"Bibi... "
bibi Rosy menoleh, "Ya?"
__ADS_1
lalu matanya yang kecil tertutup kelopaknya yang turun ke bawah karena keriput, melebar. dia terdiam ketika aku menunjukkan surat dari Morgan yang ku ambil dari laci mejanya.
"Nona, bagaimana anda bisa menemukan kertas itu?" katanya dengan langkah pelan mendekatiku.
"Jelaskan tentang surat ini bibi Rosy, ini milik Morgan kan? tapi mengapa ini ada di bibi? tolong katakan padaku! bibi mengetahui sesuatu, kan?"
susah payah ku tahan air mata, namun segala tentang Morgan tak pernah mampu ku tahan, ia begitu sentimentil, selalu mampu mengetuk dan menyentuh dasar hatiku yang paling dalam. ia memiliki kekuatan tersendiri dalam mengendalikan perasaanku, entah karena kerinduanku padanya yang teramat dalam atau mungkin pula karena cintaku yang telah ku berikan sepenuhnya padanya.
air mata menumpuk memenuhi kelopak mataku, sehingga pandangan ku jadi sedikit kabur. sosok bibi Rosy yang berdiri di depanku ini jadi terlihat samar.
"Nona, bersabarlah ini semua bukanlah akhir!"
aku tak paham maksud ucapan bibi Rosy, aku meminta penjelasan. tetapi dia malah menyuruhku untuk bersabar. apakah maksud semua ini? pikiran buruk ku semakin menjadi-jadi.
"Apa maksudnya bibi Rosy?" kataku.
kemudian bibi Rosy melepas pelukannya, lalu meraih kedua tanganku dan menggenggamnya erat dan lembut.
"Surat ini seharusnya saya taruh di meja luar nanti sore, karena sudah tepat batas waktu yang di perintahkan tuan Morgan. namun nona telah lebih dulu menemukannya."
bibi Rosy diam sejenak, ia terisak-isak, "Nona... "
__ADS_1
"Tuan Morgan telah tiada... tuan gugur sebelum kembali ke negara asalnya... " katanya sambil merintih.
aku mematung, benar-benar terdiam. candaan macam apa lagi ini? kejutan apa lagi yang di siapkan Morgan? ku coba menerka-nerka apalagi yang disembunyikan Morgan.
"Malam sebelum tuan pergi bersama anggotanya, dia datang ke sini, dan memberikan dua surat ini pada saya. tuan mengatakan, jika sampai besok pagi tugasnya tak berjalan baik dia akan mengantar nona kemari... dan tuan kembali ke negaranya sementara waktu. seketika itu pula, untuk pertama kalinya saya berharap nona dan tuan tidak datang ke sini. saya sangat berharap tugas tuan berjalan dengan baik, tetapi nampaknya situasi malah jadi lebih pelik. hingga tuan datang bersama anda, dan berpamitan."
Malam? berarti sebelum pergi berkumpul dengan anggotanya waktu itu, Morgan datang ke panti asuhan untuk menemui bibi Rosy. rupanya ia telah mempersiapkan ini semua jauh sebelum saat ini tiba.
jadi inikah alasanmu, sehingga kamu menunda untuk menikahi ku. inikah alasanmu sampai menunggu kembali dari negaramu baru mau menikahi ku? karena kamu tak tahu nyawa mu akan sampai mana.
sakit sekali hatiku Morgan, kamu adalah pria yang paling menyakitkan yang pernah ada. kamu adalah pria yang ku cintai, namun mencintaimu juga memberikan aku rasa sakit yang tak akan pernah terobati. kamu lah gambaran rasa sakit dan kamu pula lah gambaran obatnya.
"Nona, berat hati saya sampaikan bahwa tuan tidak akan pernah kembali lagi. tuan telah gugur dalam tugasnya."
dengan kesakitan yang ku rasakan ini ku coba untuk berusaha tegar, "tolong ceritakan padaku, lengkapnya bibi Rosy."
...****************...
📌 Mampir ke karya teman kami juga yuk kak
__ADS_1