
Aku terus menatapnya, meski kali ini tidak membara seperti sebelumnya. Sementara dia kembali terdiam seperti semula, hanya kali ini tampak lebih santai.
“Seandainya kamu mencintai karena sesuatu hal yang ada pada diriku ini, bukankah itu berarti kalau sesuatu dalam diriku sudah kamu ketahui perasaan cintamu itu bisa memudar? Bukankah rasa kagum pada kelebihan yang dimiliki seseorang telah menodai kemurnian cinta itu? Sama seperti kenyataan kamu masih berstatus sebagai tunangan orang lain, bukankah menodai perasaanmu terhadapku?”
“Mengagumi kelebihan orang bukanlah alasan, begitu juga jika aku mengenal kamu lebih dalam, bukan menjadi sebab aku akan meninggalkan kamu karena sudah tak ada rasa penasaran lagi. Mencintai itu justru menjadi sebab untuk kita saling mengenal lebih dalam. Karena apalah arti bersatu sedangkan jiwa kita saja tak menyatu? Begitu juga statusku yang masih menjadi tunangan David, bukan sebuah noda terhadap perasaan. Karena setelah dia menyakitiku dan aku pergi darinya, saat itu lah pula aku tak ada hubungan apapun lagi dengannya.”
Aku menghela nafas panjang sambil terus mengusap-usap kening Lily, agar dia tidak terbangun.
“Sifat alamiah cinta yang hadir tanpa disadari itu lahir berdasarkan sebab akibat, sebab aku mengenalmu berakibat aku mengagumimu, sama seperti kelahiran Makhluk di dunia ini.” Jawabku diplomatis.
__ADS_1
“Ya. Tapi menurutku, tanpa mengurangi rasa hormat terhadap cintamu, kamu lebih baik tidak usah mencintaiku, pertama, karena dunia kita berbeda. Duniaku terlalu keras dan beresiko jika kamu masuk menjadi bagian diriku. Kedua, karena pribadi kita berbeda. Kamu yang ingin dicintai dan aku yang tidak bisa mengekspresikan cinta.”
“Hmm,” aku diam sebentar. “Sia-sia aku panjang lebar menjelaskan semua ini, karena tidak memperjelas jalan pikiranmu. Aku tahu kamu memberikan tawaran begitu agar hidupmu tetap berjalan dengan baik tanpa gangguan dari seorang gadis berisik seperti aku, agar aku bisa segera menjauh dari kamu setelah aku mandiri. Sudahlah, itu semua tidak akan mengubah pilihanku, biarpun suatu saat kamu mengusirku, aku pasti akan terus berusaha mencarimu dan berda di dekatmu selalu. Ku katakan sekali lagi, aku mencintaimu dan di rooftop tadi kamu mengizinkan aku untuk berjuang, titik.”
Mendadak langit kembali memutih, lalu halilintar besar datang. Aku memeluk tubuh Lily secepatnya dan Morgan melakukan yang sama, tetapi bukan hanya pada Lily, dia memelukku juga. Di bawah selimut yang sama, dia melindungi kami lagi dari ketakutan. Aku tidak mau dia melepasnya, bisakah kami tidur begini sampai pagi besok?
“Ya, aku di sini.”
“Di atas segalanya, pada dasarnya aku juga menaruh simpati pada dirimu, mungkin sejak pertemuan kita yang pertama. Tapi ku sadari aku belum bisa membuka hati dan mempercayai apakah aku bisa membawamu melewati lika-liku kehidupan ku, karena diriku ini bukan hanya sekedar pencuri berandalan. Ku sadari kita memiliki dunia yang jauh berbeda, dan aku seharusnya tidak mengenal kamu sampai sejauh ini. aku tidak terlalu peka terhadap perasaan seseorang, karena hatiku ini dari dulu memang sudah di latih untuk tak mudah jatuh hati. Begitulah ketika kamu menyatakan cintamu kepadaku, aku tahu aku telah menaruh simpati padamu ketika aku sering memikirkan keadaanmu setiap waktu. Aku terjaga dari pikiran itu dan tersadar bahwa dirimu telah menjadi bagian yang begitu penting bagiku.”
__ADS_1
Air mata langsung memenuhi mataku. Aku menundukkan kepala sambil mengusap kelopak mata dengan tangan. Sementara hujan terus menderas, saksi mata sebuah sejarah baru yang akan segera terwujud.
“Jangan menangis.”
“Tidak... aku Cuma terharu.” Jawabku.
“Morgan, tolong jangan lepaskan. Aku ingin terus tidur begini dalam pelukanmu sampai aku terbangun. Sekali ini saja, aku ingin menyimpan detail malam ini dalam ingatanku, aku ingin terus mengingat bagaimana rasanya dekapanmu yang memberikan kehangatan sehingga aku merasa aman. Aku ingin terus mengingat ini, bahkan jika suatu saat aku tak bisa melihat bahkan menyentuh kamu lagi.”
Morgan diam sejenak, tetapi tangannya mendekap tubuhku erat, “Ya. Tidak akan ku lepaskan. Tidurlah, sudah malam.”
__ADS_1