Criminal : Aku Mencintai Penjahat!

Criminal : Aku Mencintai Penjahat!
Cium Aku


__ADS_3

Keesokan harinya, Pagi ini di minggu akhir Desember hujan kembali turun tetapi tidak begitu deras seperti semalam, lengkap dengan wangi tanah yang baru tersiram air. tak ada cahaya matahari yang menusuk mataku seperti biasanya, Cuaca pagi ini seperti mengajakku untuk tetap berlama-lama ditempat tidur.


mataku masih sangat berat untuk kelopaknya naik ke atas. tetapi aku bisa mendengar getaran ponsel ku di atas nakas.


aku mendengus kesal, notifikasi apa yang bisa mengganggu tidur ku di waktu dan suasana senyaman ini. lantas aku kemudian meraba nakas dengan malas.


Aku masih berada di pelukan selimut saat sebuah notifikasi pesan masuk di handphoneku.


Silau pijar layarnya membuatku memicingkan mata yang memang masih sangat mengantuk.


Dilayar handphoneku telah tercantum sebuah nama yang nomor telponnya satu-satunya aku simpan. Sosok laki-laki berzodiak ikan yang telah memungut ku dan pria yang aku cintai.


“Masih ingat dengan Lengan ku kan? Kamu meniduri nya! ”sebuah pertanyaan masuk tanpa basa-basi.


Dalam hitungan detik aku jadi teringat pada si pengirim pesan, dan sifatnya yang memang sering kebingungan untuk menentukan cara memulai pembicaraan. Dibawah pesan itu terlampir dua buah gambar. Gambar pertama, Wajahku yang tertidur. Gambar kedua, lengan kekarnya yang aku tiduri. Gambarnya tidak begitu terang, karna diambil dengan Posisi yang tidak pas.


aku sempat diam sebentar, kemudian langsung menoleh ke samping. ada Morgan yang menatapku, kedua pasang mata kami saling bertemu. jelas ini bukan mimpi, aku memang tidur bersama Morgan semalam.


"Ma-maaf, aku tidur terlalu nyenyak sampai tidak ingat meniduri lengan kamu." aku segera bangkit dari posisi tidur terbaring.


"Sstt! Pelan kan suaramu Isabella," Timpalnya mengikuti aku bangun, dengan suara pelan berhati-hati.


bola mata hitamnya mengarah ke bawah, seakan mengajakku untuk melihat arah objek yang dia maksud. Oh Lily, dia masih tidur nyenyak memeluk boneka kelinci kesayangannya.

__ADS_1


"Oh, maaf... "


Morgan turun dari ranjang, "Aku mau Cappucino dan roti panggang... " katanya menatapku, seperti isyarat agar aku segera menuruti perintahnya.


"Siap, boss!" Jawabku semangat lalu bergegas ke dapur


Bersamaan dengan langkahku, tiba-tiba semua ingatan soal sosok penjahat yang ku cintai itu bermunculan. ingatan tentang semalam yang ku katakan padanya, pernyataan cinta hingga tidur bersama.


semua tampil bergiliran seolah masing-masing potongan ingatan sudah berbaris sesuai nomor antrian. Semuanya tampil dengan detail hingga ke tiap kejadian terkecilnya. Terlalu detail, sampai-sampai rindu dibuatnya.


"Pagi-pagi bangun sudah ada Notifikasi dari pujaan, otot tangannya bahkan lebih nyaman di tiduri dibanding dengan Bantal bisa."


Aku bicara sendirian sambil menuruni tangga. Dalam waktu singkat aku jadi mengingat bagaimana rasanya pertama kali dibuat jatuh hati, lalu kemudian dipatahkan oleh orang yang sama. Sialan. Semanis atau segetir apapun, Morgan memang selalu punya daya tarik tersendiri, jadi aku akan berjuang untuk mendapatkan dan memenangkan cintanya.


"Maaf, aku membangunkan kamu lewat Ponsel. aku takut membangunkan Lily, karena kita berdua tidur di kamarnya. Sejujurnya, aku sedikit lapar perutku tiba-tiba sakit." ucap Morgan muncul di belakangku.


oh, baru ku ingat. Morgan dan aku belum sempat makan malam, karena sudah keburu hujan di rooftop. padahal anak-anak sudah datang bawa bagian makan malam kami.


"Tidak, tidak masalah. aku pun sedikit lapar, tunggu sebentar lagi ya, rotinya belum matang."


Morgan berbalik arah, lalu menarik kursi meja makan di belakang tubuhku. "Nanti malam, apakah masih mau ke swalayan?" tanyanya.


"Serius, Memangnya boleh?" jawabku.

__ADS_1


"Memangnya dari kemarin aku bercanda? aku sampai bawa kamu meninjau lokasi lo. Kalau masih mau, malam ini siap-siap oke?"


"Mau...! Siap Boss!"


"Kita pulang ke rumah, selesai sarapan, ya?"


"Siap!"


aku membawa roti yang sudah siap ke meja makan, Morgan langsung melahapnya, sepertinya dia benar-benar lapar.


"Enak?" tanyaku.


Morgan hanya menganggukkan kepala nya sambil terus menikmati roti bagiannya.


"Lebih enak lagi, kalau kamu mencium ku."


Morgan pun beranjak dari tempat duduknya untuk menghampiriku. dia tersenyum dan mengubah posisi duduknya. kemudian dia berlutut di depanku, meraih kepalaku yang sekarang sudah setara posisinya dengan dirinya sekarang.


"Terimakasih, ya. begini saja sudah enak kok. kalau mau dicium, berarti sudah mau diusir!" katanya lembut sambil mengusap-usap rambutku.


"Jangan... "


"Makanya berhenti menggoda, dasar gadis nakal!" timpalnya kembali, sambil menjentikkan jarinya di kening ku seperti biasanya.

__ADS_1


__ADS_2