Criminal : Aku Mencintai Penjahat!

Criminal : Aku Mencintai Penjahat!
Terungkapnya Identitas Sang Penjahat


__ADS_3

"Lihat! Benda yang kamu minta, Oven listrik."


wajah sumringah nya begitu berseri seperti berlian yang terpantul cahaya, begitu murni dan indah.


aku terus menatapnya, meski kali ini tidak sedingin sebelumnya. sementara dia jadi terdiam dan tampak kebingungan, "Isabella? apakah ada yang salah? kamu tidak menyukai ini? mau diganti? atau kamu sudah memiliki pilihan oven lain yang kamu suka? beri tahu padaku, biar aku belikan lagi, ya?"


aku diam sejenak, sambil memandangi oven yang di belikan oleh Morgan.


"Aku, sangat menyukainya Morgan. ini adalah barang mahal, tentu saja aku suka." kataku.


Morgan langsung mematung, dia menatapku seperti menekan, seakan mencari-cari yang ku pikirkan dalam alam otakku. padahal sebenarnya tak ada yang salah dari ucapanku, hanya saja mungkin dia merasa ada yang salah di antara kami, dari caraku menatapnya, menyambutnya dan bicara padanya. ada apa dengan Isabella? sejak kapan dia terkesan materialistis, dan menyukai barang barang mahal? mungkin itu yang ada dalam benaknya sekarang. dan aku pun sama denganmu, Morgan. aku bertanya-tanya tentang dirimu, siapakah kamu? apa yang kamu sembunyikan dariku?


"Oh, be-begitukah?"


suasana di antara kami jadi sunyi terselimuti tegang yang menusuk hati. ku tatap matanya, dapat ku tangkap kegundahan dan kesedihan sebuah kemurnian dari caranya menatap ku. andai Morgan tahu, bahwa bukan hanya dia yang tersiksa dengan caraku meresponnya sekarang.


"Ada yang salah di antara kita, Isabella. apa aku melakukan kesalahan yang membuat kamu jadi sedikit canggung begini?"


lalu, karena tak kuat mengintimidasi nya, ku ambil oven dari tangannya dan ku letakkan ke bawah. dia terus menatap ku, kemudian tangannya yang kekar ku pegang dan ku genggam erat-erat.


"Jika keadaan kita jadi aneh begini, ketahuilah ini bukanlah kesalahan mu Morgan. aku lah yang salah atas semua ini."


"Aku pikir aku begitu mencintaimu, tetapi kenyataannya aku tak memiliki kepekaan terhadap dirimu, Morgan. bahkan sampai kita menjadi pasangan pun, aku hanya fokus pada dirimu... " sambil terisak aku hanya bisa menunduk menahan kepedihan.


"Maksudmu apa? kamu sudah cukup memperhatikan aku, memangnya kepekaan macam apa lagi yang kamu kehendaki, Isabella?"


"Cukup, sudah cukup!" kataku dengan nada yang tinggi padanya.

__ADS_1


ku hela nafas, menahan emosi yang bergejolak, menyala-nyala dalam hatiku.


"Apakah kamu tidak sadar dengan apa yang selama ini ada di sekitar kita? setiap kata yang kamu ucapkan padaku. apakah kamu tidak menyadari bahwa itu semua terasa janggal dengan pengakuanmu sebagai kriminal?"


"Coba lihat! lihatlah sekelilingmu." kataku, merintih. ku arahkan jari telunjuk ku menuntun matanya untuk melihat tiap sudut isi kamarnya. "Kasur, Pakaian, bunga, bahkan oven yang sekarang kamu bawa! ini semua adalah barang kelas atas, dengan merk yang terkenal. harganya tidak murah, apakah bisa seorang kriminal biasa mampu membeli ini semua?"


"Aku mendapatkan itu semua dari merampok, sayang."


"Bohong, dasar pembohong! tempat macam apa yang kamu rampok sampai bisa membeli ini semua? bank? rumah pejabat atau pengusaha kaya raya? ha ha... aku mengakui bahwa aku terlalu mencintai kamu, Morgan. sampai aku tidak perduli apapun yang kamu lakukan. aku mempercayai kamu. tetapi, jika kamu merampok itu semua, mengapa tak pernah ada polisi yang melacak mu? tak ada berita di televisi yang memberitakan kasus perampokan besar. bahkan tindak kriminal kita lakukan tidak lama ini, merampok swalayan di ujung jalan. sudah beberapa minggu tak ada satupun berita atau koran yang meliputnya!"


"Isabella... itu semua hanya kebetulan. tidak semua berita menayangkan tindak kriminal seperti yang kita lakukan!"


memang ku akui, berita yang di sajikan di televisi maupun media cetak sekarang hanya mengikuti selera jurnalistik yang buruk. wartawan yang suka membesarkan hal-hal sepele dan menganggap remeh hal-hal kecil yang prinsipil. karena semua itu lah aku sampai kehilangan minat.


"Baik, jika memang begitu sangkalan mu. lalu bagaimana kamu akan menjelaskan tentang ini?" kataku sambil mengangkat dessert eagle yang ada di atas nakas belakang badanku. "Kamu mengatakan; dessert eagle ini adalah pistol buatan luar negeri, tidak sembarang orang bisa memilikinya. barusan aku cari info di browser, mereka bilang ini adalah senjata laras pendek yang biasa di pakai oleh anggota pertahanan dan keamanan negara. lalu bagaimana seorang perampok seperti kamu bisa punya satu? merampok nya dari seorang prajurit?"


Morgan membisu, dia hanya bisa menyentuh pipiku untuk menghapus air mata yang jatuh mengalir. "Isabella, aku pernah mengatakan hatiku sakit jika melihat kamu menangis seperti ini."


lantas ku raih sentuhan telapak tangannya, dan ku tahan pegangannya di pipiku. hingga kembali ku rasakan kehangatan yang mengalir dari telapak tangannya, "Morgan, seandainya kamu sungguh mencintaiku. maka aku harap tak ada kebohongan di antara kita, jadi tolong katakan padaku, siapa kamu sebenarnya?" kataku.


Dengan mata berkaca-kaca tak kuasa menahan kesedihan, aku menatap Morgan penuh harap agar dia memberikan aku penjelasan untuk semua kejanggalan ini.


Tetapi, agak nya itu semua tak mudah. dia terus membisu, diam mematung. meski matanya tak lepas dari memandang diriku. dari mimik mukanya terdedah rasa duka karena menanggung beban rahasia dirinya.


"Morgan, jujurlah padaku sayang. bukankah kita adalah pasangan? mengapa harus ada yang di sembunyikan? siapapun kamu, apapun yang ada pada dirimu, tak akan pernah merubah apapun dalam hati ku ini. aku tetap mencintai kamu, dan selamanya akan tetap begitu."


"Jika benar yang kamu katakan barusan, mengapa harus tahu Isabella? bukankah kamu akan mencintai aku, jadi cukuplah cintai aku seperti sekarang ini."

__ADS_1


Pecah...


hatiku berkabut menyongsong rasa kecewa berat atas jawaban Morgan. jawaban yang dia berikan memang tak salah, tetapi nampaknya dia tak paham atas semua kejadian ini. dia tak mengerti apa yang dari tadi ku katakan.


"Terserah kamu saja, Morgan." kataku dengan nada lemas dan berbalik badan membelakangi nya, ku seka air mata yang menumpuk di pelupuk mataku. apakah aku tak berhak untuk tahu tentang dirimu, sayangku?


"Jangan menangis."


tak ku sadari pergerakannya, dia memeluk tubuhku dari belakang dan menopangkan dagunya di bahuku.


"Ku katakan, meskipun ini menyalahi aturan. ku relakan semua, ini sudah menjadi resiko saat aku memilih jatuh hati pada seorang wanita di sini." katanya berbisik, dengusan nafasnya dapat ku dengar dan kurasakan dengan jelas.


"Siapa Kamu Sesungguhnya?" kataku seraya membalikkan badan.


aku menatapnya tajam, kedua pasang mata kami kembali bertemu. jakunnya bergerak kasar karena memaksa menelan saliva.


"Aku bukan warga asli dari negara ini, mungkin jika kamu masih mengingat kejadian yang menimpa Chiko dan lainnya, para perompak itu mengatakan mencari seseorang, dan orang yang mereka cari itu adalah aku, Leandro."


"Jika mengatakan soal kriminal, ku rasa tidak sepenuhnya salah Isabella. aku memang melakukan tindak kriminal, kriminal kelas berat. jiwa ku ini tak bisa di katakan aman, karena itu berulang kali aku mengkhawatirkan tentang kamu. aku memang perampok, rampok informasi. aku adalah tentara elite dari negara lain yang melakukan tindak kriminal di sini, yang ku lakukan itu Spionase."


...****************...


📌 Sama Henny beli Besi,


mampir ke sini yuk bestie bestie.. ⬇️⬇️


__ADS_1


__ADS_2