
“Sepertinya tidak perlu, deh. Ayo kita pulang saja Morgan”
“Kamu butuh apa saja? Tidak usah malu!”
“Kamu tidak punya pakaian, Cuma punya gaun seksi itu saja, loh” sambungnya.
Aku sangat menghargai kebaikan Morgan, Cuma yang jadi masalah itu bukan karena malu-malu, tapi aku khawatir kalau bertemu ibu, David, atau orang-orang yang mengenalku. identitasku bisa ketahuan. Tapi aku tidak punya pilihan, selain mengikuti kehendak Morgan. Yang bisa ku lakukan adalah bergegas memilih barang agar bisa cepat pulang.
“Makanya, kamu harus beli beberapa baju baru, dan aku juga mau beli kasur lipat”
Morgan lalu menoleh ke belakang menatapku yang sibuk memegangi jaketnya, “Tiap pagi, kamu selalu bangun sambil mengeluh sakit, nyeri, pegal, kan?”
“Eh, memangnya aku bilang begitu?”
“Setiap Hari, bos” timpalnya kembali.
“Ta... tapi kalau kamu beli barang sebanyak itu, memangnya ada uangnya?” aku menatapnya sedikit iba, pasti aku telah menjadi beban untuknya.
Morgan mendekatkan wajahnya padaku, lalu berbisik. “Dompetku tebal, jangan khawatir”
“Kalau kamu baik begini, aku tidak tahu bagaimana cara membalasnya nanti. Bagaimana kalau Om, Nikahi aku saja ya..!”
__ADS_1
Morgan langsung menyentil keningku, “Omong Kosong! Sudah ku bilang aku bukan paman kamu... haish! Bikin kesal saja, kita langsung cari pakaian dulu”
“Ya, kalau Mas Morgan tidak keberatan, aku sih mau saja”
“Mengerikan, jangan panggil aku dengan sebutan itu lagi!”
Sepanjang jalan, Morgan terus memasang muka kecut, tapi lucu sekali. Dia membelikan aku beberapa setel pakaian, dan pakaian dalam. Dia juga benar-benar membeli kasur baru, bukan itu saja, dia juga membelikan aku sebuah ponsel agar memudahkan kami bertukar kabar saat dia sedang di luar.
Rasanya lelah sekali berkeliling toko sambil menggotong barang-barang belanjaan. Tapi yang lebih membuat lelah adalah saat kami sudah sampai di tempat parkir, ku perhatikan mobil tua Morgan, benar-benar tak layak lagi di sebut kendaraan. Kuda besi itu, Sudah seperti kaleng rongsok.
Dengan cepat kami meluncur, dan berangkat kembali menuju rumah kami di ujung utara kota. sialnya, kali ini bukan Cuma masalah mobilnya saja, tapi kami juga harus himpit-himpitan dengan barang. Tempat duduk bagian belakang sudah penuh oleh kasur lipat yang di beli Morgan. Dengan jalan yang mendaki dan berkelok-kelok. Mobil ini terus berjuang dengan keras, terengah-engah, hampir pingsan. Mobil tua Morgan terseok-seok menuruni jalanan yang berkelok, terantuk-antuk seperti kakek tua yang menyusuri jalan dengan tongkat. Namun, rupanya ia mengerti tujuan tuannya tidak main-main, sehingga ia terus berjuang untuk sampai di rumah.
...****************...
Hiyatt...
Aku melompat menuju bantalan empuk itu, menenggelamkan tubuhku di busanya
“Haaaa... Empuknya” rasanya aku sangat merindukan nikmatnya kelembutan kasur untuk tidur, aku mengambil bantal lalu menggosok-gosok wajahku di atasnya.
“Lebih enak kalau ada, kan?” celetuk Morgan yang menatapku dari atas ranjang.
__ADS_1
“Em, Ya! Aku bisa tidur nyenyak malam ini”
Morgan menatapku terus sambil sesekali menghirup cokelat panas yang aku buat, ujung bibirnya naik ke atas membentuk senyuman.
“Morgan.”
“Apa?”
“Tidur denganku, yuk”
“ISABELLA!! Sudah ku bilang kamu akan ku usir kalau masih bicara sembarangan”
Aku langsung tertawa, saat Morgan hampir tersedak. Dia seperti kehilangan wibawa saat begitu, karena aku menggodanya. “Kan tinggal tolak saja, Ha ha ha Morgan lucu sampai salah tingkah begitu! Ha ha”
“Kamu ini... kamu cantik kalau tertawa”
Pupil mataku langsung melebar sesaat dia memuji ku, “Kenapa malah kamu yang menggoda?” kataku memalingkan muka.
“Sudah ku bilang kamu bukan seleraku!” timpalnya kembali
Dia bilang aku cantik? Aneh, aku sering mendapat pujian itu, tapi saat dia yang mengatakan, rasanya hatiku ingin langsung menyebar ke langit gelap di atas sana, pecah menjadi bintang bintang di atas cakrawala.
__ADS_1
“Morgan...” aku diam sejenak, menggantung ucapanku. “...terima kasih ya!”
Morgan kembali tersenyum simpul, “Ya!, sama-sama”