
“Belum bukan berarti tidak, kan Morgan? Kalau kamu menolak ku, kamu tak akan mengatakan tentang jalan kita di depan bila kita bersama.” Jawabku.
“Aduh, kamu salah paham lagi!”
“Tidak, aku benar kok. Pokoknya aku akan terus berjuang. Akan ku temani kamu sampai memiliki perasaan itu.”
Morgan menepuk keningnya pelan, sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Dengar ya, aku tidak akan memaksa kamu memilih jalan hidup yang kamu pilih. Kalau memang mau berjuang, terserah silahkan saja. Tetapi bukan berarti aku sedang menyuruh kamu untuk berbuat apa saja sekadar agar aku menerima cintamu.”
“Cinta yang sebenarnya itu lebih banyak di dukung sikap penuh kehormatan ketimbang kegilaan. Sekalipun kegilaan lah yang sering membuktikan kemurniannya.” Sambungnya kembali.
“Seperti aku yang rela menyerahkan diri untuk kamu? Mengajak kamu tidur bersama?”
“Kalau itu sih, namanya Bodoh. Lebih dari pada gila!” balasnya cepat. Wajahnya yang kesal seperti biasanya kalau aku mulai menggodanya jadi favorit ku untuk memecah suasana.
__ADS_1
“Sungguh aku kagum. Tidak ku bayangkan bahwa kamu bisa berpikir sedalam itu Morgan.”
“Kamu saja yang pikirannya dangkal! Kedalaman itu bukan untuk dikagumi atau dipikirkan, tapi untuk dialami.”
“Oh, semoga demikian juga dengan cinta : tidak untuk dikagumi atau dipikirkan, melainkan untuk di alami!”
“Hush! Pelankan suaramu, Isabella,” katanya mengingatkan.
Kami mulai bersikap lebih tenang, tidak lagi hanyut dalam perasaan kami masing-masing. Aku pun merasa lega, karena telah mengungkapkan perasaanku padanya. Kami duduk santai seperti biasanya, di bawah gazebo rooftop. Kami memandangi langit lebih nyaman, panorama malam menjadi lebih tenang dan bintang-bintang mulai bermunculan lebih banyak, meskipun angin berdesir juga lebih sering. Aku bercerita tentang film terakhir yang aku tonton di ponsel, **U**nconditional Love, yang di angkat dari Novel Sanskeh dengan judul Istri CEO Jahat.
“Padahal itu Cuma fiksi, tapi kamu sangat menghayati,” imbuhnya “Dalam realita sehari-hari, mana ada seorang pria dan wanita dengan status sosial berbeda, pemimpin dan perempuan biasa bisa hidup bersama karena kesalahan satu malam.”
“Morgan! Itu kan namanya cinta tanpa syarat, Unconditional Love! Protagonis pria yang menerima latar belakang protagonis wanita, dan protagonis wanita yang menerima diri protagonis pria apa adanya, sifat, karakter dan segala yang sudah melekat padanya!” tegas ku.
“Tidak, tidak. Begitu tidak masuk akal kalau itu sungguh terjadi,” ucapnya.
__ADS_1
“Kalau kamu bilang begitu, lalu bagaimana dengan kita ini?”
Kami kembali terdiam dan tenggelam dalam perasaan masing-masing. Malam kian meraja dengan bintang-bintang yang berkedipan. Angin malam berdesir kencang. Ku lihat Morgan mulai menggigil. Aku menatapnya sambil menggigit bibir, merasa bersalah dengan ucapanku sehingga membuat kami jadi canggung. Lambat laun, suasana jadi sepi.
“Papa! Kakak Bella!”
Tiba-tiba anak-anak muncul di pintu Rooftop. Mereka beramai-ramai menghampiri kami, sambil membawa bagian makan malam aku dan Morgan.
“Kakak dan Papa sedang apa? Padahal kami menunggu di ruang makan. kami mau susul dan cari kalian, tapi Bibi Rossy bilang : Hush! jangan, Urusan orang dewasa.”
ucap Erika polos, begitu polosnya sampai memperagakan cara bibi Rossy berkata. jari telunjuknya di pasang depan bibir, kemudian telapak tangannya bergoyang kiri kanan tanda melarang. tak hanya itu, nada bicaranya pun juga di tiru semirip mungkin.
“Ha ha!”
Morgan hanya menanggapi mereka dengan tawa, sedangkan aku? Wajahku memerah Malu sekali. Tetapi aku beruntung, kami jadi lebih hangat sekarang.
__ADS_1