Criminal : Aku Mencintai Penjahat!

Criminal : Aku Mencintai Penjahat!
(Bukan) Ciuman Pertama


__ADS_3

Aku pasti akan selalu melindungi kamu...


Dari atas ranjang, aku masih terbaring menatap Morgan. Kelopak mataku membuka kecil sekali berpura-pura tidur, mengintip-intip apa yang sedang di lakukannya di meja sudut kamar, dia sedang menulis. Mungkin tentang rencana merampok untuk besok malam. Aku masih enggan bangkit, rasanya masih ingin terus tinggal dalam fantasi saat aku tidur dalam pangkuan Morgan tadi sore, betapa romantis dan syahdunya, hal yang begitu aku impikan sejak pertama kali tinggal bersamanya. Sayangnya, saat aku bangun tubuhku sudah tidak lagi dalam dekapannya. Dia bangun lebih dulu dan memindahkan aku di atas ranjang kamar.


Aku terus memperhatikan dia, kulit eksotisnya menyatu serasi dengan kaus hitam polos yang mengetat di tubuhnya. Aku memang tidak pandai menyembunyikan rasa kingintahuanku, jadi dengan membuka mulut lebar-lebar aku menghembuskan nafas sambil meregangkan tangan ke atas seperti orang yang baru bangun tidur pada umumnya.


“Sudah bangun?” katanya.


“Hmmm, seperti yang kamu lihat..” jawabku sambil menggosok-gosok mata.


“Aku sudah masak makan malam, makanlah dulu.”


“Loh, bukannya tadi aku sudah memasaknya?”


“Belum kelar bos! Kamu malah tidur.”


Aku turun dari ranjangnya. Entahlah, rasanya aku sedikit kecewa karena Morgan seperti biasa-biasa saja, tidak merasa ada yang spesial seperti yang aku rasakan. Aku berjalan pelan ke arahnya. Lalu ku tarik kursi kecil di samping meja.

__ADS_1


“Morgan..”


“Hm? Apa?”


“Itu... soal tadi sore... itu, yang itu.. kamu ingat tidak? Aduh bagaimana ya aku ngomongnya...”


Aku malu-malu sambil menggaruk-garuk kepalaku, Lalu secara tiba-tiba dengan jarinya yang tidak ada lentiknya sama sekali, dia menyentil keningku lembut. Mataku serta merta memejam ketika jarinya menyentuh kulit wajahku. Kemudian ketika aku membuka kembali mataku, kulihat Morgan menatapku dengan mata berbinar-binar, kedua ujung bibirnya naik ke atas membentuk senyuman.


Dia memutar kursi menghadap aku di sampingnya lalu tubuhnya yang tegap sedikit menunduk membuat tatapan matanya berada dekat di wajahku, dia terus tersenyum lalu berkata


“Memangnya tadi sore itu kenapa?”


“Ti-tidak ada,” kataku memalingkan muka.


“Besok kita tunda dulu ya.” Timpal Morgan, dia menaikkan tubuhnya kembali.


“Memangnya kenapa?”

__ADS_1


“Aku akan memindahkan anak-anak di panti ke tempat lain besok, aku sudah menemukan tempatnya. Tidak jauh kok. Masih di kota ini juga, tapi sudah beda jalan.”


“Tiba-tiba sekali? Kenapa tidak mengatakan padaku jauh hari sebelumnya. Biar bisa habiskan waktu lebih lama dengan mereka sebelum pindah.”


“Nanti masih bisa main kok, aku akan antar kapanpun kamu mau.”


“Serius? Ah,Tapi kamu pergi-pergi terus.”


“Aku kan sudah bilang, semenjak ada kamu di sini aku jadi merasa harus pulang terus. Begini, \Aku janji kapanpun kamu butuh, aku pasti akan selalu datang.”


Angin apakah yang merasuki jiwa Morgan? Mungkinkah angin sepoi-sepoi tadi sore? Dia sangat manis sekarang. Inikah kamu, si Kriminal? Begitu lembut di balik kenakalan dan kebengalanmu. Dimana kamu simpan semua sisi manis ini, sampai-sampai aku baru melihatnya sekarang? Dimana kamu sembunyi. Lantas Aku berdiri dari kursi tempat ku duduk. Dan dengan tanpa ragu, serupa seekor kuda lepas dari kendali, aku memeluk tubuhnya yang posisinya lebih rendah dari tubuhku sekarang. ku raih dagunya, sehingga kepalanya mendongak ke atas menghadap wajahku, lalu aku yang sedikit menunduk langsung mencium lembut keningnya.


“Terima kasih ya, Morgan.”


Morgan terdiam, tak menjawabku sama sekali. Namun, rupanya tanpa ku sadari tangannya telah meraih pergelangan tanganku. Aku menatapnya penuh heran, mungkinkah dia marah karena aku memeluk dan mencium keningnya begitu saja?


Kemudian dengan gerakan tiba-tiba Morgan meraih daguku persis seperti yang ku lakukan padanya sebelumnya, tubuhku kembali membungkuk, mendekat ke wajahnya. Namun kedua tanganku cepat berpegangan pada sandaran tangan di kursi putarnya agar tubuhku tak lepas kendali menimpa tubuhnya.

__ADS_1


Mataku terbelalak ketika Dia dengan sukarela mencium balik bibirku. Hatiku seperti terbakar oleh sentuhan lembut bibirnya. Apa yang ada di pikiranmu sekarang Morgan? Dia seperti menyalurkan gairah emosionalnya padaku lewat sentuhan intim yang erotis. Bibirnya masih bertahan di bibirku, menari-nari seperti hujan yang memandikan bumi yang tandus. Begitu lembut dan kenyal, namun juga penuh tenaga dan semangat. Rasanya seperti meneguk purnama, jiwaku merasa penuh.


“Ma-maaf, aku ambil minum dulu di dapur.” Katanya.


__ADS_2