
Aku terus memandangi pemandangan di luar dari balik jendela. Morgan asyik menikmati sigarett nya sambil sesekali meneguk kopi yang ku buatkan. Bibi Rossy sudah tidur duluan bersama anak-anak. sudah dua jam kami menunggu di dapur, tetapi hujan tak kunjung reda malah semakin lebat dengan halilintar yang sesekali datang.
“Sudah jam 11 malam. Kalau begini terus Bagaimana kita pulang?” tanyaku pada Morgan.
Morgan meneguk kopinya kembali, Lalu menaruh cigaretnya ke piring alas gelas kopi. “Kalau di tunggu terus begitu, ya pasti tambah deras.” Jawabnya dengan gaya yang santai.
“Kamu bercanda terus, padahal aku serius. Bagaimana kalau hujannya tidak berhenti? Kan kita tidak bisa pulang. Kamu juga kenapa tidak pakai mobil kemarin saja?”
“Kamu tidak nyaman kalau pakai mobil itu! Kalau masih deras ya sudah menginap di sini saja.”
Sekali lagi aku memandang ke luar jendela. Ku pikir ide Morgan tak ada salahnya. Menginap di hari pertama di tempat tinggal baru tidaklah buruk, lalu tiba-tiba halilintar kembali datang, berkali-kali lipat lebih besar sampai langit memutih sekejap. Aku yang terkejut hendak memekik memanggil Morgan, namun sebelum itu terjadi, tiba-tiba dengan gerakan tak terduga Morgan meraih pergelangan tanganku hingga aku kehilangan kontrol diri dan tenggelam dalam dadanya.
JEGAR!!
Halilintar besar itu akhirnya datang, mataku langsung memejam ketakutan. Namun, seperti biasa pelukan Morgan tetap menjadi pelindung yang membuatku selalu merasa aman. Tenang sekali.
__ADS_1
“Mor..”
“Papa...Kakak...”
Belum selesai aku meneruskan ucapanku, rupanya di muka pintu sudah ada Lily yang menangis memeluk boneka kelinci miliknya. Menyadari itu, Aku cepat mendorong tubuh Morgan dan Morgan pun alngsung melepaskan dekapan tangannya di punggung dan kepalaku.
Aku memutar posisi dan menghampiri Lily, “Ada apa, sayang?”
“Lily takut, tidak bisa tidur!”
“Oh, ya? Itu hanya halilintar biasa, datangnya Cuma sebentar dan sekarang sudah pergi. Lily jangan takut lagi ya? Mau kakak antar kembali ke kamar?”
“Hah?”
Ninu ninu ninu....
__ADS_1
Sirene peringatan otak dan jantungku seketika berbunyi kencang, ini bencana besar. Baru tadi aku meyatakan akan berjuang secara sehat setelah dia menolakku, lalu semesta seakan akan memberi restu lewat Halilintar yang membuat Lily terbangun dan ingin tidur di temani oleh aku dan Morgan. Terpujilah nasib baik yang berpihak padaku malam ini.
Ku tatap Morgan sedikit-sedikit mencuri pandang dengan wajah merah. Malu sekali, tapi aku ingin...tapi juga tidak ingin. Begitulah..
“Kemari anak pintar. Biar papa temani.!” Ucap Morgan sambil menggendong tubuh kecil Lily.
“Kakak juga, ya?”
Lily memandangiku dengan tatapan memelas, air matanya masih bersisa di pelupuk mata mungilnya. Tentu saja aku tidak keberatan, aku langsung mengangguk meskipun dadaku berdetak kencang tidak karuan.
...****************...
Morgan menarik selimut menutupi tubuh kami, Lily tidur di tengan dan aku di sampingnya. Suatu moment langka yang seandainya bisa ku abadikan. Ingin rasanya ku hujani Lily dengan ciuman bertubi-tubi, terima kasih wahai anak baik.
“Papa dan kaka sudah tidur di samping Lily, Boleh tidur sekarang?” kataku.
__ADS_1
Lily mengangguk semangat. “Ngh, terima kasih Papa..Mama”
Oh jiwaku melayang seperti sudah menyusul ayah di pembaringan. Mama? Sederhana sekali Serasa diriku sekarang memiliki peran seutuhnya sebagai seorang ibu dan pasangan sejati Morgan. Teruskan Lily, kita berjuang bersama agar yang kau ucapan menjadi kenyataan.