
Pagi itu aku sedang menjemur baby Ethalia yang di berinama Zahwa, ntah maksudnya mungkin supaya lebih mirip dengan Zahwan.
"Sayang... bunda Asma tingga sebentar ya, buat nyiapin air buat mandiin kamu."
Tiba-tiba dari arah belakang ibu Zahwan mengomel jika aku tak pantas mengurusi Baby Zahwa. Mendengar teriakan ibu membuat Zahwan datang melihat apa yang telah terjadi.
"Ada apa ini bu, malu sama tetangga. pagi-pagi udah ribut" Tanya Zahwan.
Tapi ibu menghiraukan nya lalu pergi.
Zahwan menghampiriku untuk melihat baby Zahwa, dan kami mengobrol.
"Bagai mana kabarmu ahir-ahir ini, pasti cape bukan?"
"Nggak kok, aku jugak seneng, sekarang ada baby Zahwa yang bisa ngehibur aku kala lelah beraktifitas."
"Bukan Zahwa, tapi aku paggil dia kusus dengan nama Asma kecil ya, hihi"
"Jangan, nanti Ethalia marah pah"
__ADS_1
"Oh ya, aku mau kamu jawab jujur, kamu beneran iklas gak si aku nikah lagi"
"Emmmm.. kenapa bertanya itu, tentu aku iklas."
"Sempet iri gak sih kalo aku lebih merhatiin dia dari pada kamu?"
"Tentu!! itu hal yang wajar."
"Yaudah, kalo dia udah sehat setelah melahirkan, aku talaq dia."
"Jangan pah, kasian... dari pada kamu talaq Ethalia, mending kamu talaq aku."
"Pah.. sejujurnya aku gak siap jadi istri tua, aku gak siap punya madu, aku gak siap kalo harus menahan cemburu stiap saat, jadi kamu talaq aku aja. Apa kamu ingat apa yang ku bilang dulu?, aku tidak ingin jadi orang ketiga atw di duakan. Aku gak mau bersaing dengan madu ku, mumpung aku msi belum ngandung anak dari kamu, jadi sebaik nya kamu talaq aku sekarang sebelum semuanya terlambat."
"Ide bagus!! Denger tuh apa kata istri kamu Nak!!" Tiba-tiba dari belakang ibu menengahi ucapan ku.
"Tapi.. aku sayang sama kamu"
"Sayang bisa hilang."
__ADS_1
Saat itu jugak Zahwan menalaq ku, ku pikir Zahwan akan mempertahankan ku, tapi ternyata, aku yang telalu berharp.
Dua hari setelah kepergian ku dari rumah Zahwan, aku selalu merasakan mual, mungkin hanya karna masuk angin. Hingga masuk bulan ke 2, aku sadar kalo aku telat datang bulan, dan saat di cek, ternyata aku sedang mengandung. Aneh sekali, tidak ada tanda-tanda kehamilan sebelum nya. Betapa aku sedih saat mengetahui hal itu.
Setiba di rumah, ibu tak henti memarahi ku.
"Lihat... apa yang kakak kamu katakan, Zahwan bukan laki-laki yang pantas untuk kamu, dia tidak bertanggung jawab, dan tidak punya pendirian. sejak awal ibu udah bilang kan, kalo omongan orang tua itu nyata. Lihat sekarang.. kamu harus ngejalanin masa kehamilan tanpa suami."
Benar apa yang ibu katakan, aku pun termenung memikirkan segalanya yang sudah ku lewati.
4 bulan kemudian, perut ku semakin membuncit, saat aku hendak pergi bekerja, di jalan aku berpapasan dengan Ethalia.
Dia heran melihat perut ku yang membesar, anak dari siapa itu.
Melihat dia, aku langsung memacu langkah ku, dan tiba di kantor dengan sangat lelah.
Siang nya, phonsel ku berdering, tertera panggilan masuk dari kontak yang ku beri nama Pak.Bos, itu adalah Zahwan.
Tapi sengaja tak ku angkat. Kenapa dia menelpon ku stelah sekian lama, apa mungkin karna ia di beri tahu Ethalia jika aku bertemu dengan Ethalia yang tak di sengaja tadi.
__ADS_1