Delima

Delima
Ternyata.


__ADS_3

Ibu Zahwan sangat menentang hubungan ku dengan nya. Namun itu tidak membuat hubungan kami terguncang. Hanya saja membuatnya menjaga jarak dan jarang bertemu seperti biasanya.


..."Ibu tidak setuju kamu dengan wanita itu, dia bukan perempuan yang tepat untuk kamu" Jelas ibu Zahwan....


"Bapa jugak sangat tidak setuju!" Tegas ayah Zahwan mengiringi.


"Kenapa alasan nya?" Tanya Zahwan membela.


"Karna dia bukan dari dunia kita... dia hanya gadis biasa yang tidak bisa apa-apa. Seharunya kamu menikahi wanita baik-baik yang bisa membantu posisi kamu kedepan nya. Sebaiknya kamu dengar ucapan ibu baik-baik. Jauhi dia, atau biar ibu yang turun langsung untuk menyuruh dia menjauh dari kamu."


"Kenapa kalian jadi perduli tentang masalah ku, pokok nya aku cuma mau nikah sama Asmaraloka.!" Tegas Zahwan.


Mengetahui kesungguhan Zahwan, membuat aku sedikit percaya jika mungkin dia memang mencintai ku, hanya saja tidak sebesar cinta dia pada Shelina dulu, atau sebesar cintaku terhadap dia.

__ADS_1


Karna hal itu, Zahwan di kucilkan dari keluarganya. Dia harus mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan nya, keluarganya enggan memberi sebab ia yang tidak mau menurut dengan keinginan orang tua nya untuk menjauh dari ku.


...Zahwan pergi kemana pun yang bisa membuatnya mendapatkan uang yang baik, seperti menangih hutang teman-teman nya dulu dan bekerja paruh waktu di kedai bubur ayam, memang upahnya tidak seberapa. Tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan nya sehari-hari....


Di sisi lain, ada rasa menyesal di hati nya, dia baru tau jika kehidupan di luar itu sangat susah. Tentu saja, selama ini ia di besarkan di lingkungan yang berkecukupan sehingga tidak tau bagai mana cara mencari uang selain menghabiskanya saja. Dan untuk itu aku terus menyemangati nya agar dia tidak menyerah dan terus bersyukur dengan segala hal yang terjadi padanya. Sebab dari sini kedewasaan dan harga dirinya nya di pertaruhkan.


"Pokok nya aku harus dapat uang banyak, menjadi kaya. Sebab kalo aku kaya, aku PD nikahin Asmaraloka mesti tanpa restu ibu ku, sebab menggunakan uang ku sendiri. dan yang terpenting, orang-orang tidak akan ada yang meremehkan ku. Sodara-sodara yang jauh pun akan mendekat jika aku sudah kaya." Ucap Zahwan.


Siang itu Zahwan menemuiku untuk makan siang bersama. Awalnya aku menolak nya, aku tau dia tidak punya uang cukup jika harus membayar makanan untuk kita berdua.


"Nggak sayang, tapi dari pada di pake buat nelaktir aku makan di tempat mahal, mending uang nya kamu tabung, kecuali kamu mau makan di tempat biasa, mau?" Jelas ku.


"Yaudah ayo!!"

__ADS_1


Kamipun pergi ke tempat makan kaki lima yang gak jauh dari kantor WO ku. Setiba nya di sana, kami langsung memesan dua mangkuk bubur ayam.


"Yah bubur ayam lagi, aku mau yang lain!!" Keluh Zahwan.


"Yudah.. kamu mau makan apa, biar aku batalin pesenan nya jadi satu mangkuk. Nasi kuning mau?, tuh belah sanah ada nasi kuning.. makan nya di sini, mau?"


"Aku mau..!!"


Terlihat jelas di wajah nya rasa letih, sembari menunggu pesanan aku memijat tangan nya yang kurus namun cukup kekar.


"Kamu capek banget ya... telapak tangan kamu sampe kasar dan banyak yang melepuh gini... Sakit gak?"


"Nggak, kan lagi di pijit manja sama kamu!!" Gombal nya.

__ADS_1


Pesanan datang, kami pun langsung menyantapnya.


__ADS_2