Delima

Delima
Terancam.


__ADS_3

Zahwan tertipu oleh klien nya, dia yang menawarkan bekerja sama dalam menjual properti malah mengambil uang dp yang Zahwan transper ke rekening nya, dan itu bukan uang sedikit.


Sehingga prusahaan properti kakak nya terancam bangkrut. Dia stres dan kebingungan.


"As, boleh saya peluk kamu. Saya akan merasa baikan setelah memeluk kamu."


Aku ingat, Zahwan selalu datang ke padaku jika dia banyak pikiran atau masalah. Dan sebagai istri, dulu untuk menekan kegundahan nya itu aku selalu memberikan tubuh ku, cara itu efisien untuk menghilangkan segala kegundahan sehingga membuatnya mudah mendapatkan jalan keluar.


Namun sekarang berbeda, kita bukan siapa-siapa lagi.


tiba-tiba ia memeluk ku, aku yang kaget mencoba untuk berontak, tapi tidak bisa.


"Tolong ijin kan saya untuk memeluk mu sebentar saja, ya.. saya mohon!!". Pilunya.


"As, makasih ya.. kamu udah ngertiin aku, aku janji sama kamu, aku gak akan pernah lagi buat kamu nangis jika bukan karna bahagia dan bangga dengan aku."


Aku hanya mengangguk lalu membelai rambut nya, kemudian ia pun tertidur dengan posisi yang masi sama.


Hari semakin sore, Nathali dan Mangata masuk dengan tibak-tibak, kami yang masih saling peluk tak menyadari kedatangan mereka.

__ADS_1


"Suttttt.... Mbu sama papa lagi sayang-sayangan dek, oyah.. nenek bilang, kalo orang dewasa tidur dengan keadaan seperti itu, berati mereka baru bikin dede bayi." Jelas Nathali sembari mengecilkan suaranya.


"Oyah, tapi mba Devi bilang, kalo mbu sama ayah tidur kayak gitu, mereka kelelahan abis nangkep kecoa" Timpal Mangata polos.


"Oyah, bisa jadi sii.." Jawab Nathali tak yakin.


"Aku dugak sebelum nah pelnah liat ayah sama mbu tidul gak pake baju di sofa, aku sama mba devi ngeliat nya. Mba devi bilang kalo meleka habis nangkep kecoa."


"Iya..iya.., pantesan aja bunda gak punya dede, soalnya aku gak pernah liat papa tidur kayak gini sama bunda" Jelas Nathali kecewa.


Bendengar keributan itu aku pun tersadar, lalu melepaskan pelukan Zahwan.


"Ada anak-anak kita, mas!!"


Mendengar itu Zahwan sontak terperanjat dan salah tingkah.


"Sa..sayang? ko kalian ada di sini??" Tanya Zahwan panik


" Tadi pak iman ke sini buat ngasi kunci lestoran mbu" Jelas Nathali.

__ADS_1


Mendengar penjelasan nya wajah kami memerah.


"Mbu takit ? mau minum obat?" Tanya Mangata.


"Hng..nggak!!"


"Ayuuu tiidurrr!!" Seru Nathali dan mangata sembari tidur di samping kami, aku memeluk mereka berdua dari samping, dan Zahwan memeluk ku dari samping belakang.


"Hey... kita bukan siapa-siapa lagi... pergi kamu, aku cuma mau tidur sama anak-anak!". Seru ku.


"Tapi... aku jugak kan ayah nya mereka". Ucap Zahwan.


"Memang benar, tapi kita bukan suami istri lagi". Jelas ku.


"Oh... iya, maaf aku lupa". Jawab nya murung.


Lalu Zahwan pun pergi dari kamar. Sementara Mangata dan Nathali mulai tertidur pulas.


Ku tatapi kakak beradik sambung ini, begitu akur dan saling menyayangi membuat aku terasa tenang melihat nya. Semoga mereka akan saling menyayangi dan menjaga sampai mereka dewasa kelak. Karena jika aku tak ada, orang yang dekat dengan nya selain aku, adalah Ethalia.

__ADS_1


Setelah terlelap dengan sangat, barulah aku pergi meninggalkan mereka, mematikan lampu nya dan mengecup selamat malam.


__ADS_2