Delima

Delima
Tiba.


__ADS_3

Hari dimana yang telah kami nanti pun tiba, Keluarga Hamka berkumpul untuk menyaksikan ijab qobul kami. Sedang dari pihak ku hanya datang kakak karna dia akan menjadi wali nikah ku.


**


Semua acara pun berjalan dengan hikmat, kini aku telah sah menjadi istri Hamka. Rasanya tidak bahagia seperti saat dulu Zahwan yang mengucapkan janji sucinya.


Malam pun tiba, di dalam kamar, aku terdiam dengan masi memakai gaun pengantin.


"Sayang, kenapa kamu melamun?, kamu gak bahagia ya??" Tanya Hamka.


"Hamka, Hng..nggak! aku cuma kepikiran aja sama Mangata, dia akan tinggal bersama ibu ku untuk beberapa hari ini." Sangkal ku.


"Kalo kamu kangen, besok kita ke rumah kamu, kan rumah kamu deket dari sini."


"Nggak perlu, oyah ... aku pamit tidur yah!!"


Aku pun menanggalkan gaun ku dan memakai drees tidur merah yang sudah disiapkan nenek Hamka yang memperlihatkan lekuk tubun ku.


"I..ini, baju nya terlalu terbuka, bukan?" Tanya ku malu.


"Nggak papah, kamu cantik pakai drees malam itu, seperti nya nenek sengaja memberikan nya" Jawab Hamka sembari terus menatap ku.


Lali-laki itu kemudian mendekatiku, ia merangkul ku, dan hampir mencium ku, namun ini sangat tidak nyaman membuat aku pun menghindar dari nya.

__ADS_1


"Kenapa ? apa kamu belum siap?, ya sudah, kalo kamu belum siap, toh aku jugak masi ragu, karna ini baru pertama kali nya untuk ku" Jelas Hamka.


"Dan aku tidak akan pernah menyentuh mu jika tidak kamu ijinkan" Sambung nya.


Hamka pun beranjak tidur, dan aku jugak tidur di ranjang yang sama. Apakah kejadian tadi melukai hati nya?.


Keesokan harinya, aku bangun begitu pagi untuk pergi memasak. setelah semuanya beres, aku pun pergi mandi.


Saat keluar dari kamar mandi, ku lihat Hamka yang belum jugak bangun.


"Emm... ka, bangun! udah siang, aku udah masak buat kamu, mau makan sekarang?"


Hamka pun bangun, dia tersenyum padaku lalu menarik kepalaku dan mencium kening ku.


"Yasudah, kamu bangun trus mandi. aku tunggu di meja makan ya."


***


Beberapa saat kemudian kamipun sudah berkumpul di meja makan untuk makan bersama.


"Wah..wah... cucu ku beruntung sekali mendapatkan istri cantik dan pintar memasak. makanan nya sangat enak sekali." Puji nenek


"Nenenk berlebihan. Ini kan sudah kewajiban Asmara." Jawab ku.

__ADS_1


"Masakan ini memang enak sekali, yakan pah!!" Seru ibu Hamka sembari menoleh ke ayah hamka.


"Oyah bu, aku sama Lili mau pergi ke kediaman Lili untuk mengurus toko kami." Ucap Ayah Hamka.


"Kenapa secepat itu, Marwan. kan kamu baru saja mendapat menantu, sudah di tinggal saja." Ucap nenek.


Mendengar itu respon ayah Hamka biasa saja mungkin dia sedikit tidak menyukai ku, hal itu memang wajar, dan aku tidak akan menyalahkan nya.


Ibu Lili dan ayah Marwan pun pergi, tinggal kami bertiga dengan nenek di rumah.


Setelah semua nya selesai, aku pun bersih-bersih rumah, dan betapa kagetnya saat tiba-tiba Nathali datang dan langsung memeluk ku..


"Mbu!!!... Aku kangen!!. Ko mbu nikah sama ka Hamka sih, ka Hamka kan keponakan nya papa."


Nenek yang melihat kejadian itu pun merasa kurang nyaman.


"Nathali.. lepas kan Ka Asmara.. kamu yang sopan ya!!" Seru nenek.


"Maaf nek, Nathali gak sengaja. Nathali kangen sama mbu!!" Ucap nya.


"Asmara, ko kamu dekat dengan Nathali.?" Tanya nenek


"Iya nek, Nathali beberapa kali nginap di rumah Asmara, jadi kami dekat. Dan Asma udah anggap Nathali kayak anak sendiri." Jelas ku.

__ADS_1


__ADS_2