
^^^Kami pun bertatapan satu sama lain^^^
"Udah liat-liatan nya... aku masih sakit.". Rengek Mangata
"Sayang kamu gak papa kan.?". Tanya Hamka.
"Aku gak papa ko mah..". Jawab Mangata.
Mendengar Mangata memanggilnya Papa, mata Hamka berkaca-kaca.
"Sayang kita pulang ya. ini udah sore nak!!". Seru ku.
"Iya!!"
"Emmmm makasih ya udah ngajak main Mangata kami pergi dulu.". Sambungku.
Sesampainya di rumah, aku melihat Ibu yang sedang memarahi Ethalia.
"Awas aja kalo kamu sampai kasih tau ini!!".
"Iya Bu...!! Aku janji."
"Ada apa ini Bu?, kenapa ibu marah?". Seling ku.
"Ehhh Asmara, kalian baru pulang... bukan apa-apa.". Jawab ibu sedikit panik.
Dua bulan setelahnya, aku mendengar Hamka akan bertunangan dengan wanita pilihan ayah nya, melihat aku yang murung membuat Ethalia merasa tak tega.
"Hai As, ada apa?".
"Ethalia.. aku gak papa ko..!!
"Boleh aku duduk di sini?"
"Silakan!!". Seru ku.
__ADS_1
"Aku merasa kamu terlihat sedih dan murung setelah ibu mengatakan jika Hamka akan bertunangan, apa kamu mencintai dia?, tolong jawab dengan jujur!!"
"Aku ... aku tidak tau..!!". Jawab ku ragu.
"Sebenarnya ada sesuatu yang ingin ku bicarakan pada mu, tapi aku takut ibu marah padaku."
"Ada apa, bicarakan saja!!"
"Aku nemu sebuah surat di kamar ibu saat sedang membereskan kamar ibu, dan kamu harus tau isinya, tunggu ya aku ambil dulu"
Ethalia pun pergi mengambil surat itu, lalu dengan segera kembali.
"Ini, bukalah...!!" Serunya sembari menyodorkan padaku.
Sontak air mataku pecah dari pelupuk setelah membaca isi dari kertas itu.
"Maaf aku nyembunyiin ini dari kamu!!, aku pinta kamu jangan kasih tau ibu ya!!"
"Iya, makasih ya.. aku gak tau harus berterimakasih seperti apa sama kamu. aku pergi dulu ke kamar ya."
(Maafin aku yah As, aku ngelakuin ini karena aku ingin memiliki Zahwan seutuhnyah. Kamu harus mengetahui kebenaran itu)
Siang itu Mangata pergi ke rumah nenek tertua untuk mendatangi Hamka tanpa meminta izin dulu.
"Mangata, kamu ngapain kesini?" Tanya Hamka.
"Aku mau ketemu sama kakak, aku mau ngasih sesuatu sama kakak!!". Ucap nya sembari mengajukan selembar kertas pada Hamka.
"Sebelum kesini aku ngeliat bunda Ethalia memberikan kertas ini ke mbu, mbu bahagia banget. Makanya aku penasaran dan ambil ini ketika mbu sedang mandi. Ada tulisan nama Kakak dan mbu di dalamnya".
Hamka pun langsung membukanya sebab sangat penasaran.
Dan, air matapun pecah di pipinya.
Sore nya Hamka mendatangi rumah Zahwan dengan membawa selembar kertas.
__ADS_1
"Mana Asmaraloka? aku mau bawa dia kembali!!". Teriak Hamka.
"Ada apa ini, Hamka? kenapa kamu teriak-teriak?". Tanya ayah Zahwan.
"*Aku mau bawa Asmaraloka kembali kek..!!"
"Memang nya ada apa*?". Tukas ibu Zahwan.
"Hey... Asmara sekarang adalah bibi mu!!". Sambung ibu.
"Bukan, anak yang ada dalam perut Asmaraloka adalah anak Hamka nek!!"
"Jangan sembarangan bicara!! mana buktinya?"
"Dari surat ini kita akan tau kebenaran nya!!"
Melihat kertas yang berada di tangan Hamka ibu langsung kaget.
"Da....dari mana kamu dapat hasil tes DNA itu?"
"Tidak perlu tau dari mana, yang jelas janin yang ada di perut Asmaraloka adalah anak ku.". Tegas Hamka.
Mendengar keributan di luar, aku Ethalia dan Zahwan pun mendatangi sumber keributan tersebut.
"Syukurlah kamu datang Asmara, ayo kita pulang..!!". Seru Hamka.
"Apa maksud kamu ?". Zahwan kesal
"Anak yang ada dalam perut itu anak ku, om. ini buktinya!! Hasil yang waktu itu salah. nenek kedua telah memalsukan nya"
Sontak aku berlari menghampiri Hamka, dan memeluk nya.
"Aku senang sekali kamu tau yang sebenarnya".
"Aku tarik ucapan ku.. kita rujuk ya!!". Seru Hamka.
__ADS_1