
Ketika fajar telah membentangkan sayap cahaya keemasan nya ke atas kubah lembayung malam, sementara matahari setelah terbangun dari tidur nya, mengecat cakrawala dengan warna merah mawar. Peri tidur akhirnya melepas kan belengguku membangunkan ku di subuh yang dingin..
Setelah melaksanakan kewajiban ku kepada tuhanku, aku bangkit dari tempat sembahyang dan persiap-siap untuk bersih-bersih rumah lamu bersiap diri untuk pergi ke kantor.
Setelah semua nya beres, Aku pergi mandi dan bersiap. Ketika di depan cermin, aku membenarkan Inner ku lalu membalut kepalaku dengan Fasmina bewarna biru Soft kesukaan ku, dan seperti biasa tanpa peniti. Dengan Styl ku yang jadul, tapi memberikan kesan anggun klasik dan berbeda, di mana gadis lain berlomba-lomba memakai baju kekinian dan modis.
Setiba di kantor aku mendapatkan tamu, dan itu Diya.
"Hay kak... apa kabar?? Wah.. kakak makin terlihat imut aja dengan styl kakak yang seperti ini" Godanya.
"Ada perlu apa kamu kesini, Di?"
"Kan aku udah pernah bilang sama kakak, kalo aku tunangan atau nikah, aku mau kakak yang make'upin nya hehe"
"Oh jadi kamu mau tunangan?"
__ADS_1
"Iya kak, dan itu minggu depan, yaudah cuma gitu aja, aku tunggu ya kak. Kalo gitu aku permisi" Ucap nya sembari pamit pergi.
Baru jugak Diya keluar, Handphone ku sudah berdering. Kupikir itu dia, tapi ternyata itu panggilan Zahwan.
"Halo... ada apa pah?" Jawab ku simpel.
"Si Hilya main lagi gak?" Tho the point
"Nggak.. emang nya kenapa?"
"Emmmhhh" Tanggapan ku simpel
"Sayang nya dia bekas sepupu aku, kalo bukan.. udah aku nikahin deh.. mana tinggi, cantik, dada montok lagi... kamu jugak rawat dong.. biar montok. Kan nanti aku bisa betah sama kamu." Ucap nya.
"Emmm... yaudah, udah dulu ya.. aku mau kerja. Ada yg mau di make'upin hari ini." Alasan ku, lalu aku menutup telpon nya tanpa pamit.
__ADS_1
Harus nya dia peka dengan reaksiku barusan. Lalu aku berdiri, di depan cermin besar yang ada di dalam ruangan ku. Kulihat lekuk tubug ku yang memang tidak menarik, kecil, pendek, dadaku pun datar, di tambah bokong yang tidak besar. Rasanya semakin putus asa jika harus berharap menjadi wanita Zahwan satu-satunya.
Tiba-tiba aku mendapatkan pesan dari Zahwan, jika dia ingin mengajak ku ketemu di kedai kopi seperti biasa siang nanti.
Siang pun tiba, aku sampai duluan di kedai, hampir 20 menit menunggu tapi dia belum terlihat jugak. di menit ke 50 akhirnya dia datang. Tanpa rasa bersalah dia langsung duduk dan memesan secangkir kopi.
"Panas banget ya cuacanya, mentang-mentang kemarau." Ucap nya.
"Iya!!" Jawab ku seadanya.
"Oh ya, soal si Hilya.. kapan katanya dia nikah?"
"dua bulan lagi.. emang kenapa?"
"Hadeeehhh... si bungsu ngedahuluin mas Edward. Pasti si Edward sekarang nyesel banget deh udah ninggalin Hilya. Mana cantik... baik.. dan belum di sentuh laki-laki manapun selain mas Edward."
__ADS_1
Apa dia hilang ingatan? aku pun hanya di sentuh oleh dia. Ntah apa yang membuat hatinya buta. Sehingga tidak melihat dengan jelas apa yang sudah aku berikan untuk nya.