
Merasa sudah memiliki tanggung jawab, Hamka bangun sepagi ini.
"Ka, kamu mau kemana?." Tanya ku.
"Aku mau mandi dulu!!." Jawab nya.
Diapun pergi mandi, setelah selesai Hamka keluar dengan hanya memakai handuk di pinggang saja. Terlihat tubuh nya yang sedikit kurus namun memiliki 6 kotak kecil di perut nya, dadanya nya yang bidang seakan siap merengkuh siapapun ke pelukanya, bibir nya yang merah seperti apel wasington tersenyum merekah ke arah ku. Aku yang melihat nya sontak salah tingkah dan di buat nya malu sehingga menutup mata.
"Hey... kita kan udah sah, kenapa kamu malu!!" Seru nya.
"A..aku.. aku..!!" Jawab ku terbata-bata.
Hamka yang merasa gemas, seketika mendejati ku lalu memeluk ku dan menenggelamkan wajah ku di dadanya.
"Hey pendek...!! aku suami kamu, kenapa harus malu seperti itu, lagian yang bisa nyentuh tubuh aku kan cuma kamu" Jelas Hamka sembari mengecup kening ku.
Karna nya aku pun menengadah ke atas, terlintas di benak ku, andai saja dia orang pertama yang datang di kehidupan ku, maka akan ku berikan sepenuh hati ku untuk nya. Tapi, hati ini masi untuk dia yang terus menyakiti ku.
Melihat ku yang tertegun, Hamka pun mencium bibir ku dengan lembut membuat lamunan ku pecah.
"Ka...kamu!!" Seru ku sembari melepaskan diri dari dia.
__ADS_1
"Ma..maaf As, aku gak tau kenapa bisa lepas kendali."
"Yasudah, aku mau nyiapin baju buat kamu dulu ya!!" Seru ku.
"Tunggu, bisa bantu aku keringin rambut !!" Pintanya.
Aku mengangguk dan mengambil hair dryer di meja rias. Kemudian aku duduk di sofa, dan dia duduk sambil memeluk lutut di bawah, perasaan itu terlalu dejavu untuk ku. Merasakan ku yang tak pokus, Hamka berbalik badan menghadap padaku dan menenggelamkan kepalanya di antara pahaku.
"Heyy.. ko ngeringin nya gak fokus, kamu keberatan ya??" Tanya nya manja.
"Hng..nggak ko!!"
"Kamu kenapa sih As, kamu nyesel ya nikah sama aku??"
"Kamu masi belum bisa lupain Om Zahwan ya?"
Mendengar itu akupun seketika terbungkam. Dengan wajah sedih dan kecewa Hamka bangun lalu memakai baju nya dan cepat-cepat pergi. Aku yang melihat nya merasa sangat bersalah.
Tiba-tiba nenek masuk ke kamar ku.
"Asma, nenek mau ke rumah ade nenek dulu ya, dia sakit. Kalo kamu takut bosan, kamu boleh ikut"
__ADS_1
Apa yang di maksud nenek adalah ibu Zahwan, merasa cemas aku pun pergi bersama nenek.
Setiba nya di sana, ternyata benar. Ibu Zahwan sedang sakit keras. Semua yang ada di ruangan menatap ke arah ku, tau akan hal itu, nenek pun menjelaskan nya.
"*Oh ya.. Hamka pergi cari kerjaan, jadi u*wa bawa Asmaraloka kesini" Jelas nenek.
Mengetahui kedatangan ku, Zahwan masuk ke kamar ibunya dan menarik tangan ku ke ruang tengah.
"Kamu, kenapa kamu di sini?, kamu mau balik sama aku kan, As!!" Serunya senang.
"Mas, aku cuma ikut nenek besar untuk melihat ibu." Jelas ku.
"Kalo bukan karna masi sayang sama aku, kenapa kamu kawatir dengan ibu?"
Mendengar itu aku terdiam. Namun di pecahkan oleh suara ka Zahra dari dapur, membuatku pergi menghampirinya.
"Ka.. kakak kenapa?"
"Kamu.. ngapain kamu kesini, pergi!!" Seru ka Zahra.
Melihat dapur yang berantakan, terlihat jika ka Zahra hendak membuat bubur.
__ADS_1
"Kalo boleh, biar Asmara aja yang buatin bubur!!" Seru ku.
"Kamu yakin?, oke.. tapi awas kalo kamu kasih racun ya" Amcam nya sembari pergi.