
Aku menelpon ibu memberitahukan dia kalo aku sudah melahirkan, dia sangat cemas. Terlebih kakak laki-laki ku satu-satunya itu. Mestipun dia cuek, dia paling memanjakan ku dan orang yang paling tidak rela jika aku di sakiti.
Aku menyesal sekali dulu tidak menerima laki-laki yang di tawarkan nya. Aku jugak sangat menyesal tidak mendengar nasihat nya untuk tidak memaksakan diri dengan Zahwan.
Lalu ku namai bayi kecil ini dengan "Muhammad Mangata Safii" aku berharap dia menjadi orang yang berbudi luhur, indah seperti bayangan bulan di atas permukaan air laut, dan taqwa kepada rob nya seperti imam besar As-Syafii.
Kali ini aku benar-benar bulat untuk meninggalkan Zahwan, aku bahagia, walau harus memikul beban sendiri bayi ku ini. Melihat nya aku sangat bahagia.
***
2 Tahun berlalu setelah kepergian ku, kini Mangata tumbuh menjadi balita yang lucu dan cerdas, sesekali raut wajah nya terlihat sangat mirip dengan ayah nya, itu membuat ku sulit melupakan Zahwan.
Saat aku berjalan menyusuri tlotoar , aku melihat balita sekitar tiga tahunan hampir tertabrak bus, seketika ku berlari menghampirinya dan menarik nya ke pelukan ku.
"Ibu....huhuhu" Rengek nya.
"Wah... sayang, jangan menangis!!. Aku hanya ingin menyelamatkan mu, sudah.. sudah.. nanti orang lain mengira aku ingin menculik mu, lagi."
__ADS_1
"Atu tau, api atu ingin ibu..."
"Anak ini begitu pintar... usia berapa dia? jangan2 usia nya sudah tua tapi memiliki tubuh yang kerdil ... ahhh ngomong apa sih aku" Dalam benak ku.
"Tante olong cayikan ibu ku, nenek ku oang tewpandang dan tukup kaya, anti ia akan membewi mu uang kalna tudah membantuku."
"Wahhhhh anak sekecil kamu sudah pintar dengan uang ya..., tadi terahkir kali ibu mu dimana?"
"Dia pelgi uyu te alam oko ue di seblang canah dan menuluhku tunggu di dayam obil. api atu bocan, maan na au menucul"
Anak ini benar-benar menggemaskan. Sudah pintar bersilat lidah mestipun masih cadel.
"Sayang... kamu kok keluar, kamu gak papa kan?" Tanya nya.
Betapa kaget nya saat aku melihat jika ibu muda itu adalah orang yang ku kenal.
"Ethalia?"
__ADS_1
"As...Asma?, kamu kenapa ada disini?, dan kenapa Naila ada dengan kamu?"
"Oh... ini anak kamu, tadi dia hampir tertabrak. Harusnya kamu jangan meninggalkan nya sendiri."
"Tadi aku beli dulu kue buat ibu Zahwan, oh ya.. kamu belum jawab pertanyaan aku, kamu ngapain di sini?"
"Aku udah dua taun tinggal di sini, dan bekerja sebagai pemilik rumah makan sederhana. sehingga bisa membeli rumah kecil di daerah sini."
"Pantas aku tidak pernah melihat mu lagi."
"Ohh ya, kalo gitu aku mau cepet-cepet pulang. mangata Sendiri di rumah"
"Mangata? siapa dia..."
Namun aku cepat-cepat pergi dan tidak menjawab pertanyaan terakhir Ethalia.
Setiba nya di rumah, ku dapati Mangata yang tertidur di atas sofa, sembari mengempeng susu Asi nya.
__ADS_1
Melihat pekerjaanku yang tidak mungkin menyusui nya setiap ia lapar, membuat ku berinisiatif untuk memeras susu ku dan di simpan dalam botol susu untuk ia minum jika aku sedang bekerja.
Ahhhh... si kecil ini, aku bahagia punya kamu, sayang.