
Dua hari setelah kepulangan Zahwan, ibunya datang ke rumah ku. Dengan rawut wajah yang sangat tak senang dan kesal, di depan rumah ia langsung mencaci maki ku dan memperingatkanku agar tidak mendekati Zahwan lagi.
..."Kamu harus nya tau diri, kamu tuh gak pantes buat anak saya.. apa maksud kamu nyuruh dia buat nginep di sinih, hah? Inget yah, dia itu sudah punya anak dan istri. jadi kamu gak usah ganggu-ganggu dia."...
"Tapi bu, aku gak pernah nyuruh mas Zahwan nginep di sini....!!"
"Yaudah lah.. aku udah gak mau dengar omong kosong kamu lagi,aku tanya sama kamu, dimana cucu ku?"
"Ibu mau apah?? "
"Orng dia cucu ku, aku mau bawa dia pulang ke kota C, dan dia harus jadi orang yang sukses dan tau diri gak kaya kamu."
"Nggak bu, dia anak aku, aku yang ngandung dia dan ngerawat dia sampai saat ini. Jadi aku gak akan pernah ngasih dia ke ibu."
"Hoh... begitu ya? , oke kalo gitu, tapi awas... kalo ada apa-apa.. jangan pernah nyari Zahwan. Dan anak ini gak ad hubungan apa-apa lagi sama Zahwan. Awas aja ya..."
__ADS_1
"Baik bu!!" Tegas ku.
Setelah puas mencaci ku ibu pun pergi, tetangga yang sedari tadi sudah menguping ku di samping rumah datang menghampiri guna menenangkan ku.
"Sabar ya mba, dunia emang kejam. Selagi kita berusaha dan berikhtiar, semoga tuhan memberi mba kebagiaan setelah kepahitan ini." Imbuh buk Leni.
"Makasih ya buk!!" Seru ku.
Suara tangis pun terdengar dari dalam membuat ku berlari untuk masuk.
Akupun mengeluarkan payudaraku lalu menyusukan nya. Terlihat ia yang semangat menyedot karna merasa lapar.
"Mbu, Ay-yah ana?" Tanya nya.
Sontak pertanyaan itu membuat ku bingung karna tidak tau harus jawab apa.
__ADS_1
"Ayah.., ayah kerja buat beli mobil-mobilan Atta, ya!!" Jawab ku.
"Howeee... Atta una mbem!!" Tawa nya girang.
Setelah selesai, kamipun pergi ke restoran untuk mengontrol perkembangan nya. Setiba nya di sana, aku langsung mendatangi pegawaiku untuk melihat jurnal penjualan. Dan alhamdulillah tingkat penjualan nya tetap sama. Walaupun tidak ada peningkatan, tapi setidak nya tidak menurun.
"Oh ya.. man!!, kalo nanti bahan pokok udah habis kamu kasih tau saya aja ya. biar saya yang belanja." Pintaku.
"Iya mba, siap!" Serunya.
Iman adalah manager ku, walaupun usia nya 11 tahun di atas ku, tapi tidak membuatnya berprilaku tidak sopan padaku, mestipun aku berulang kali menyuruhnya untuk bersikap seperti rekan saja terhadapku.
Selain iman, ada dua pelayan, pk epul dan mba sri. Sedang untuk memasak di pegang oleh istri dari Iman, mba devi.
Baru berjalan Hampir dua tahun, namun sudah bisa memberi perekonomian yang baik untuk mereka ber 4. Hal yang menjadi motifasi adalah untuk mempertahankan ekonomi ku yang sebagai wanita muda dengan banyak kebutuhan, dan membantu perekonomian ke 4 pekerja ku untuk mendapatkan ekonomi yang lebih baik.
__ADS_1
Aku berusaha memberi kenyamanan, dan memberi mereka kesempatan untuk mengeluh jika ada hal yang membuat mereka merasa sulit dalam bekerja. Selain sebagai pekerja, akupun sudah menganggap mereka sebagai sodara sendiri, mengingat diri ku yang hanya tinggal sendiri di sini.