Dendam Sang CEO Tampan

Dendam Sang CEO Tampan
Bab 10. Hilang lagi


__ADS_3

Kembali Rena dikecewakan. Raka tidak bisa ia hubungi, lelaki itu seolah menghilang. Lagi.


Mendung kelabu menaungi paginya. Raka tidak pulang. Rena membiarkan sotonya begitu saja. Ia beranjak ke kamar dan bergegas ke kantor.


Sendu dan lesu. Jam makan siangnya terlewat begitu saja. Nami menghampiri meja Rena. Ia baru saja kembali dari makan siang bersama suaminya. Ia khawatir dengan Rena. Ia menebak jika Rena melewatkan makan siangnya.


"Ren, sudah makan?"


Rena mendongak sekilas, Nami tahu anaknya itu sedang tidak baik-baik saja. Pasti Raka. Apa yang lelaki itu lakukan pada anaknya. Geram. Tapi ia tidak bisa melakukan apapun. Sebelum Rena meminta bantuan darinya.


"Rena kamu baik-baik aja kan Nak?" Usapan hangat pada tangan Nami, menyadarkan Rena.


"Bunda selesai makan siang?"


"Iya barusan pasti kamu belum.makan siang kan? Sana kekantin, Bunda nggak mau ya kamu sampe sakit karena lupa makan siang. Masa udah nikah harus diingetin terus kalau mau makan?"


Nami menyerempet pembahasan tentang pernikahan. Hanya itu. Bikin kesel sebenarnya tapi kembali mengingat perkataan sang suami untuk tidak ikut campur, Nami menahan dirinya.


"Iya Bunda sayang, Rena sekarang di kantin" Rena mendapatkan dorongan semangat, lebih tepatnya pecutan omelan yang kalau tidak ia lakukan akan panjang dan lama.


"Rena bakal balik 15 menit lagi"


"Makan apa kamu cuma 15 menit? Jangan bilang ngopi sama jajan, No! Kamu harus makan berat, Bunda nggak mau ya dapat laporan kalau kamu cuma ngopi aja!"


"Ingat! Mata Bunda dimana-mana" Setelah mengatakan peringatan pada Rena, Nami melenggang masuk keruangan Ibrahim.


Rena mengantri di depan penjual kebab. Ya pilihannya jatuh pada makanan cepat saji yang mengenyangkan ini. Wangi daging yang tergoreng nikmat membuatnya ikut melipir dan mengantri.


Asik mengunyah, ia mendengar isakan tangis di meja sebelah.

__ADS_1


"Dia memberikan pil sialaan ini, katanya ingin berdua dulu dengan ku, untuk beberapa tahun kedepan menikmati masa pacaran dalam pernikahan, taunya dia selingkuhi aku"


"Selingkuhannya hamil! Saat kepergok dia sedang berbelanja perlengkapan bayi, wajahnya sangat sumringah dan bahagia" kembali isakan terdengar kencang.


"Alasan dia tak ingin aku punya anak, karena memang oa tak pernah mencintaiku" Miris. Rena melirik meja sebelahnya.


"Dia terlihat sangat cinta padamu, aku benar-benar tak percaya dia begitu kejam padamu" Ucap teman yang memenangkan.


"Itu hanya sandiwara nya dengan sahabatnya, bodohnya aku" kembali ucap wanita dengan mata sembab.


"Pil sialaan ini! Dasar lelaki bRen gsek!" Wanita itu melempar kotak tipis kesembarangan arah lalu pergi bersama temannya.


Kotak tipis itu terlempar di dekat kaki Ran. Mata Rena membulat. Mendapati pil yang kedua orang tadi bicarakan. Meletakkan kebabnya, Meraih benda itu tangan Rena bergetar. Ini Pil yang Raka berikan padanya.


Apa tadi obrolan keduannya. Kekasih atau suami mbaknya selingkuh. Biar dia nggak ada anak sama mbaknya, juga sandiwara? Kembali nafsu makannya kembali hilang.


Tanpa sadar Rena meremas kotak pil itu. Rena itu bukan kehidupanmu! Peringatannya pada dirinya sendiri.


Tapi mengapa otaknya langsung tertuju pada suami dan asistennya itu. Mengapa ada pikiran seperti itu. Rena menggoyangkan kepalanya, mengenyahkan segala pikiran buruk.


Rena, Raka nggak mungkin gitu! Dia pasti lagi sibuk aja!


Rena sekuat tenaga menyakinkan dirinya. Walau tangannya tetap mendial nomor Raka yang tak tersambung.


"Ayo jawab Raka! Jangan buat aku kembali khawatir" gumamnya.


Hingga ia melihat Ibrahim yang berjalan di lobby perusahaan bersama rombongan rapat dan Nami disana. Untuk mengantarkan rekannya kembali setelah rapat.


Rena menggigit bibirnya ia melihat jam tangan. Dan ia melupakan rapat penting. Dengan tergesah turun dari lantai tiga dimana kantin perusahaan berada.

__ADS_1


Dengan nafas memburu. Rena sampai di dekat kedua atasanny.


"Ma-maaf Bu, Pak Ibrahim, saya … sa …" tangan Nami menepuk punggungnya.


"Tarik nafas dan jangan panik, semua berjalan lancar kok" tepukan pada punggung Rena membuat tubuhnya sedikit tenang.


"Maaf Pak Ibrahim, Saya—"


"Udah beres, tadi Saya ajak Lando, jadi nanti kamu minta salinan rapatnya sama Lando, kalau begitu saya dan Istri saya pulang dulu ya Rena, selamat sore"


"Bunda pulang kamu juga, boleh minta laporan rapat tadi, tapi kerjakan besok saja" Nami mengusap kepala Rena.


"Sore pak Ibrahim" Rena mengangguk masih mengatur nafasnya. Ia menggigit bibirnya kesal dengan dirinya sendiri. Malu, mengapa ia begini! Sangat tidak profesional!


Kembali Rena berjalan lesu menuju ruangannya. Di lift ia berjumpa dengan Lando.


"Sori ya Ndo, aku lupa" Rena menceritakan dirinya sedang tidak fit untuk ikut rapat.


"Kok bisa kamu lupa? Untung pak Ibrahim baik. Dia bilang, Biarkan Rena sedang melakukan tugas lain" Rena hanya nyengir.


"Nih! Jangan diulang" Lando menyerahkan flashdisk tentang rapat penting yang Rena lupakan tadi.


Rena pulang, namun ia menyibukan diri dengan pekerjaannya yang berantakan hari ini. Meraih ponselnya. Tidak ada pesan, tidak ada panggilan, jam menunjukkan pukul 10 malam. Ini pernikahan apa sebenarnya.


Sudah menikah malah kayak jomblo aja. Nggak ada yang berubah seperti saat ia masih sendiri.


Kembali Rena mendial nomor Raka. Tidak tersambung. Pesan Pun hanya centang satu. Rena merebahkan kepalanya di meja. Rena tidak ingin mengakui tapi Raka seperti orang yang berbeda dengan yang dulu saat mereka belum terikat.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2