
"Udin?!" Pekik Jum.
"Maaf Bu, sebaiknya ibu menunggu diruang tunggu, kami akan memeriksa pasien"
"Maaf sus," ucap Jum, wajahnya pucat, ia melangkah kembali ke tempat Rena. Namun saat akan mendekat dan melihat rena yang lemas ia mengurungkan niatnya. Memberitahu keadaan Udin.
"Jum, kamu sudah tebus obatnya?" Jum yang bengong, lalu kemudian tersadar. "Ah belum Yang, uangnya kurang," ucap Jum yang mendapat kernyitan Doroty.
Ia memberikan uang satu juta untuk Jum. Doroty yang peka, memanggil Siwa.
"Siwa kamu dampingi Jum" ucap Doroty tanpa dua kali perintah Siwa mengangguk.
"Ayo mbok Jum, Siwa antar" ucap lelaki muda itu mengiring Jum kembali ke apotik.
"Sebenarnya ada apa Mbok?" Tanya Siwa setelah mereka jauh dari tempat Doroty dan Rena.
"Itu Mas, Udin yang akan datang kerumah, dia pingsan dan ada di ruang UGD. Saya tadi mau bilang Eyang tapi kondisi Mbak Rena lagi drop, jadi saya urungkan"
"Baik, Mbok Jum antri di apotik, nanti masalah Udin saya akan urus."
"Kayaknya dia korban kecelakaan" ucap lanjut Mbok Jum.
"Baikalah, Mbok Jum sekarang ke apotik saja ya"
"Ya mas Siwa"
***
Mereka telah tiba di rumah, Doroty menggantikan Siwa yang sibuk dengan Udin. Mereka sampai rumah dengan selamat. Mbok Jum mengantar Rena dan memberitahukan di mobil jika Udin tidak bisa datang hari ini, karena memiliki urusan mendesak.
Rena kecewa tapi tak apa tubuhnya juga sedang drop. Jum menyiapkan semua keperluan Rena. Rena memakan buburnya yang sudah Jum buat sebelum mereka pergi.
Dan meminum vitamin menguatkan kandungan dan menekan mualnya. Rena lalu tertidur.
Doroty sudah tahu apa yang Jum simpan. Siwa sudah melapor padanya. Untuk Herman lelaki itu sedang dalam masa cutinya. Herman memiliki keluarga di indonesia. Ia mendapatkan cuti dua minggu dan mengalihkan tugasnya pada Siwa.
"Saat ini bagaimana keadaannya?" Tanya Doroty.
"Sedang tertidur Yang, katanya hanya kelelahan dan kurang tidur,"
"Baik, tetaplah disana hingga keluarganya datang." Ada kelegaan yang Doroty rasakan.
"Baik Eyang" Doroty memutuskan sambungannya.
"Tak perlu khawatir Jum, Udin hanya kecapean dan kurang tidur, saat ini ia sedang ditunggu oleh Siwa sampai ada keluarganya yang datang"
"Lega aku Yang, itu bocah, minta digebuk!" Ucapnya ingin memaki,
"Hush kamu istirahat sana, masih Ina dan Diah untuk menyiapkan makan siang" perintah Doroty.
"Makasih Yang, aku pusing sedari tadi. Aku akan tidur sebentar mungkin," pamit Jum. Doroty paham, lantas mengangguk, Hari ini cukup melelahkan bagi mereka.
***
__ADS_1
Siwa duduk di sebelah brankar, ada Udin yang masih tertidur di atas brankar.
"Udin?"
"Udin?" Suara cempreng, terdengar dari wanita yang menatap brankar dari pintu. Siwa berdiri. Ia akan berkata. Namun wanita itu berlari cepat dan mengguncang bahu Udin.
"Udin bangun lu! Bocah gemblung! Woi! Ngapa lu tidur begini dah, katanya kerja malah gue dapet telpon lu di rumah sakit!"
"Woi bangun lu! Melek! Melek! Jangan pura-pura lu!" Wanita itu membuka mata Udin dengan paksa. Ia menahan kelopak mata Udin lebar-lebar.
Siwa melihat itu ikut ngeri. Heboh dan bar-bar sekali wanita ini. Pikir Siwa.
"Hmm … Nona … "
"Udin! Bocah gemblung jan mati P.A. utang lu masih banyak noh diwarung!" Ucap wanita itu dengan sesenggukan,
"Permisi mbak?" Siwa mencoba menegur wanita itu. Mendengar ada yang menegurnya. Wanita itu menengok ke arah Siwa. Wajah penuh dengan air mata, yang membasahi wajahnya.
"Mbak siapa ya?"
"Saya … hiks … sa … hiks hiks, Le, Leha, Masnya siapa?" Tanya Leha menatap lelaki necis yang tampan rupawan di hadapannya.
Ia mengelap asal wajahnya. Lalu menjulurkan tangannya. Siwa menatap tangan bekas menghapus air mata itu enggan.
Namun tetap saja Siwa meraih tangan Leha.
"Saya Siwa, saya yang menunggu Pak Udin untuk bangun"
"Saya Sholeha Badrun Binti Hamid Badrun" cengkraman tangan Leha mengerat. Siwa ingin melepaskan namun susah.
"Bapak Udin" Siwa menunjuk Udin setelah dapat melepas cengkraman tangan Leha. Leha mengikuti apa yang Siwa tunjuk.
Ia tersadar, kemari karena mendapat telepon yang mengatakan Udin kecelakaan dan tidak sadarkan diri.
"Udiiiinnn … " pekiknya lagi. Dahi Siwa mengerut dalam. Mengapa wanita itu kembali meraung.
"Maaf Mbak, Pak Udinnya hanya tertidur karena kelelahan dan kurang tidur" ucap Siwa. Semoga ucapannya bisa menenangkan Leha.
"Oh"
SRRRROOOTTTT …
Leha mengusap umbelnya pada slayer yang ia gunakan. Kernyitan jijik terlihat dari wajah Siwa.
"Leha?" Suara bisikan terdengar lirih.
"Udiiinn" Leha menubruk tubuh Udin. Sesenggukan,
"Ugh!" Udin merasa tubuhnya ngilu bertambah ngilu akibat tubrukan bison.
"Lu jangan mati dulu lu! Utang lu banyak dimana-mana, gua kagak mau ditagih, karna gua temen lu … huaaaa … " Udin tidak bisa berkutik itu melirik ada sosok lelaki yang tidak ia kenali.
"Iyak udah jan nangis lagi" ucap pelan Udin.
__ADS_1
Leha masih sesenggukan, ia melepaskan pelukannya dari tubuh Udin. Mata Udin melirik ada sesuatu yang tertarik memanjang dari bahunya.
Benda mirip slime berwarna kehijauan, "Apaan nih" tangan Udin menarik benda itu dan menariknya Siwa dan Leha yang menatap memiliki raut yang bertolak belakang. Siwa dengan raut wajah jijik dan ingin muntah, sedangkan cengiran lebar terpampang dari wajah Leha.
"Lu tuh anak gadis, joroknya … naujubillah" omel Udin, yang mengelap tangannya di syal Leha.
"Maap, kayaknya lu udah sehat," Leha menengok ke Siwa. "Mas Siwa, kata dokternya teman saya ini kapan bisa pulang?"
"Belum tahu lebih baik saya panggilkan dokternya" Siwa pamit pada Leha.
Rombongan Dokter dan suster, masuk kedalam. Ia memeriksa keadaan Udin. Suster melihat infus pada yang menancap pada lengan Udin.
Sudah kosong. "Bapak bisa pulang sekarang, Bu"
"Oh begitu dok, sus bisa antar saya ke ruang administrasi," Leha beranjak dari tempatnya. Ia mengikuti suster dan juga dokternya.
"Ini bu ruang administrasinya, saya tinggal ya," Suster itu mengangguk pamit.
"Permisi, mbak mau bayar kamar nomer 232 ruang anggrek."
"Sebentar ya bu" wanita itu menatap layar komputernya.
"Oh sudah dibayar lunas, Bu" ucap Si pegawai rumah sakit.
"Siapa ya mbak kalau boleh tahu,"
"Maaf Bu, saya menggantikan shift pagi, dan ini sepertinya dibayar saat siang"
"Kalau boleh tahu berapa ya biayanya,"
"Untuk kamar VIPnya 5 juta sehari, ditambah infus 250ribu, dan dokter dan obat, kurang lebih 487 ribu, totalnya, 5 juta 7 ratus 3 puluh 7ribu, Ibu,"
"Hah?!" Pekik Leha. Ia menelan ludahnya. Kamar VIP, bener-bener dah si Udin, jangan bilang yang namanya Siwa-Siwa itu yang menabrak Udin.
Baguslah jika dia yang bayar. Bisa rugi bandar dia 5 juta lebih buat si Udin tidur doang. Gerutunya sambil balik ke ruangan Udin.
"Udah Ha" Leha menjelajahkan matanya menyusuri kamar Udin yang ternyata sangat bagus. Layaknya hotel. Pantas saja sehari 5 jutaan.
"Udah Din kayaknye dibayar sama mas-mas tadi dah, Ntu Mas yang nabrak lu yak, lu tahu enih kamar harganye 5jutaan gile, gua gorok lu kalo harus gua yang bayar." Umpat Leha.
"Lima juta, edan pantes aje gue pules. Kasurnya empuk Ha, lu mau coba?"
"Kagak, Udah kita balik aje, lu udah enakan kan?"
"Iya"
"Gagal lu kerja hari enih?"
"Iyak, gue belom ngabarin Mbok Jum, henpon gue mane nih? Jangan bilang ilang?" Udin meraba dirinya. Ia tidak menemukan benda apapun dalam kantongnya.
Ia meraih tasnya. Ada getaran disana. Udin merogoh tasnya dan melihat ponselnya didalam sana.
"Alhamdulillah, aman Ha," ia memeluk ponsel ya, ponsel satu-satunya, untuk mencari pundi-pundi koin emas.
__ADS_1
Bersambung ...