Dendam Sang CEO Tampan

Dendam Sang CEO Tampan
Bab 46. Kenan


__ADS_3

Semua bersukacita atas sadarnya Rena. Bahkan saat ini ia menggendong anak lelakinya yang ia tinggalkan tiga bulan.


Anaknya berusia tiga bulan, Kenan Delino. Nama yang sudah Raka persiapkan.


Rena koma selama tiga bulan. Dokter mengatakan ini sebuah mukjizat, juga doa dari semua orang. Tak sekalipun Rena melihat kedatangan suaminya.


Setiap kali Rena menanyakan keberadaan sang suami. Ia tidak mendapatkan jawaban pasti dimana keberadaannya.


Ia masih harus menyelesaikan masalah yang belum selesai. Tentang maksud omongan Kila. Saat menanyakan Kila pada Doroty, wanita itu menjadi sendu, lalu meminta maaf pada Rena.


Rena bingung sangat bingung. Meminta bantuan pada Siwa pun mustahil. Lelaki itu selalu mengelem bibirnya jika nama Raka keluar dari mulut Rena.


Bukan hanya Siwa. Tapi Isak, Davis, Nami, Ibrahim, Jum. Semua tidak ada yang akan menjawab apapun tanya Rena mengenai Raka.


Apa Raka meninggalkannya? Pergi bersama Padma? Rena akan bisa bertahan kok dengan keputusan Raka.


Dua tahun berlalu,


Rena ditinggalkan dengan ketidak jelasan. Ia kembali menjadi asisten dan sekretaris Isak di Lewi Corp.


Menjalani hidup berdua saja dengan Kenan. Rena masih tinggal di rumah Doroty. Dengan Jum yang selalu membantunya.


Keadaan kembali seperti semula. Tapi ada yang tidak sama, Hatinya. Jika semua orang bisa menutup mulutnya. Ia pun juga bisa tidak lagi peduli pada nama itu. Raka Delino.


Bukan hanya Raka saja yang menghilang namun Padma juga Kila. Walaupun sudah beberapa kali Rena diajak Doroty ke Amerika ia hanya bertemu dengan Andruw juga Roseline. Entah mengapa wanita itu, ibu Kila sangat tidak bersahabat dengannya.


Rena tidak peduli, karena selama ini Roseline tidak sedikitpun mengusiknya. Tapi liburan terakhirnya di Amerika Rena tahu jika Raka masih hidup, sehat di suatu tempat. Mungkin dengan Padma atau dengan wanita lain.


Tetapi jika memungkinkan mereka bertemu, Rena akan meminta cerai. Rena baru tahu jika Raka mendaftarkan pernikahan ke KUA.


Saat ini Rena membantu di Ibrahim beberapa bulan. Mereka akan menggelar ulang tahun perusahaan. Melihat betapa indah pesta peresmian Lewi Crop. Dengan seenaknya Nami meminta Rena untuk menjadi ketua tim untuk Ibrahim Crop.


Dan disinilah Rena, di salah satu rumah mungil di pinggir pantai. Dia juga mengajak Jum ikut untuk menjaga Kenan.


"Bok … ibok … mau mam" Kata Kenan yang berlari agak terhuyung dan menubruk kakinya.


"Ish anak Ibok bau matahari ih, sama mandi dulu sama Mbok Jum baru mam" ia menggendong Kenan dan menggelitik perut gembul anaknya itu.


"Main lagi di taman ya Mbok?"


"Iya Bu bos, kalo nggak gitu nangis terus minta main sama Elgar."


"El Bok tadi abang main sama mam" 


"Hah kamu udah mam?" Kenan mengangguk cepat, pipi gembulnya yang memerah karena kepanasan ikut mentul-mentul menggemaskan.


"Mam apa nak Ibok?"


"Yam, nasyi, papprrikaa" ucapnya lucu.


"Duh pintar nak ibok makan banyak vegie, kalo udah mam kenapa mau mam lagi?"


"Donat, mam donat" Rena tahu Kenan ingin makan cemilan pasti nggak akan mau makanan berat lain.


"Okey, Mister Sunshine mandi dulu oke" Rena menggoda anaknya yang ada di gendongan Jum. Anak gemoy-nya itu berontak dan Jum agak susah memenganginya.


"Kei" setelah menciumi pipi tembamnya. Kenan dan Jum menghilang disalah satu pintu kamar.


Setelah menghabiskan susu dan donat. Kenan tiduran di karpet dan sibuk menggambar dan mengoceh.


Ia mencoret-coret buku ceritanya. "Bok, ini Oom duduk, Oom duduk baik, mam enak paprriikaaa" Ocehnya.


Rena mengambil coretan garis tidak beraturan juga lingkaran-lingkaran. "Ini siapa?" Rena menunjuk satu gambar berwarna krayon merah.


"Pappprikaaaa" suka sekali Kenan dengan paprika.


"Terus ini" ada garis biru disebelah coretan merah.


"Enan"


"Oh ini Kenan makan paprika?"


Bocah lelaki itu mengangguk, membalikan badan dan tidur terlentang menjadikan paha Rena bantalnya.


"Ini Oom duduk, ini Ibok sama Jum"

__ADS_1


"Oh, kita dimana ini? Tamannya?" Terdengar Kenan menguap lebar. Dan menjawab iya, berkali, menguap. Rena melihat jam, pantas sudah waktunya anaknya itu tidur.


"Kenan mau bobo sama Mbok Jum apa Ibok?"


"Bok"


"Okeh kalau gitu, kita sikat gigi dulu, cuci kaki dan tangan, Okey?"


"Kei" Rena menggendong Kenan yang sudah mengantuk ia merebahkan kepalanya di bahu Rena. Rena menepuk pelan untuk membangunkan anaknya. 


Kenan termasuk anak yang pintar, ia tidak merengek waktu Rena menyodorkan sikat gigi dan menggosok giginya dengan mengantuk sangat kiyuuut … Rena menyalakan ponselnya memvideokan setiap momen dengan Kenan.


"Ayo sekarang cuci laki dan tangan" dengan perlahan Kenan mendekati kucuran


"Ibok dingginn …" kagetnya. Rena terbahak melihat wajah kaget sang anak.


"Ayok kita bobok, mau dongeng?"


"Yayaya" Kenan naik ke ranjang. "Doa dulu ya,"


"Tuhan Enan main Oom duduk, El Enan mam roti, mam donat Ibok makasi Tuhan hari ii Amiiiinnnn"


"Kapten kita berburu siput raksasa."


"Siap siap!"


"Bagus! Kita harus menaiki kapal siapkan pedang dan perisai ya,"


"Yaaahooaammm …"


"Kita berangkat, kapten lihat itu siputnya dia akan menyerang kita. Ayooo kita mendekat ke pu—"


"Ooh kaptennya sudah nyampe di pulau kapuk guys, selamat malam ya mimpi indah jagoan Ibok." Rena mengecup kepala dan mematikan videonya.


Rena turun dari ranjang, untuk minum. Ia masih melihat Mbok Jum yang sibuk menonton web drama.


"Mbok Jum makanan itu dari Oom duduk lagi?" Rena menenggak minumnya.


"Iya Bu bos"


Bukan apa-apa mereka baru beberapa bulan di Doha. Dan lelaki ini sangat baik dengan anaknya.


***


"Enan mau mam atau mau main ditaman?" Jum masuk dan menemukan Kenan yang terhuyun namun sambil duduk. Jum mengira Kenan ketiduran sambil duduk.


Ia meraih tubuh bocah itu. Namun tubuh yang ia gendong itu sangat panas. "Jum sakit dicini" Kenan menyentuh tenggorokannya.


"Ya Tuhan, Kenan, Kenapa sayang?" Jum dengan panik membawa Kenan keluar. "Cakit cini," Kenan merengek dan menangis.


"Cup … cup sayang" wajah Jum panik dan hampir menangis. 


"Mbok Jum kenapa?" Sosok lelaki melihat Jum yang berlari keluar rumah masih dengan sendal rumah, wanita itu menggendong bocah lelaki gembul yang akhir-akhir ini dekat dengannya.


"Pak-pak … Kenan panas tinggi" suara Jum mulai bergetar.


"Mia keluarkan mobil, Berikan Kenan padaku," Jum menyerahkan Kenan yang lemas, wanita gempal itu menangis. Ia panik dan cemas juga takut.


"Nggak apa Mbok Jum, Jagoan Oom mana yang sakit sayang?" Mata Kenan terbuka. "Dicini" ia menunjuk ke tenggorokan.


"Jagoan Oom kan kuat, jadi tahan ya, tunggu sebentar lagi kita akan cari ramuan ajaib ya" ucap Sosok itu. Kenan menangguk.


Dokter dengan cepat menangani Kenan membuat Jum lega.


"Ini hubungi ibunya, pakai ponsel saya, nomornya sudah ada disana."


"Pak, apa tidak apa?" Jum menatap Oom Kenan itu ragu, pasalnya selama ini ia hanya disuruh diam.


"Telponlah, tapi bilang Kenan sekarang tak apa sedang tidur. Jangan sungkan mungkin ini sudah waktunya." Ia tidak bisa sembunyi selamanya. Selama ini menjadi Oom Kenan sudah cukup menyakitkan.


***


Ponsel Rena bergetar, ia sedang rapat, hanya melirik, membaca nama yang muncul di ponselnya membuat tubuh Rena dingin.


Jantungnya berdetak kencang. Ia mengepalkan tangannya. Meremas bolpoin di tangannya erat.

__ADS_1


Ia meraih ponselnya. Namun tak lama layarnya menggelap. Apa dirinya menghayal Raka menghubunginya? Tidak mungkin. Lelaki itu telah mati untuknya. Amarah menjalari hatinya.


Lagi ponselnya bergetar. Nafasnya tiba-tiba saja terengah. Serasa tidak ada lagi oksigen di sekitarnya. Sesak.


Ternyata pengaruh Raka masih sebesar ini di hidupnya. "Halo" suaranya pelan bergetar.


"Bu bos ini Jum, Bang Kenan panas tinggi, kita dirumah sakit ibu dan anak" Seketika tubuh Rena bergerak dengan sendirinya keluar ruang, meninggalkan rapat.


"Rena? Ada apa nak?" Ibrahim menegurnya. Nalen sedari tadi melihat gelagat aneh mengejar Rena.


"Aku aja Yah yang nysul Rena" Nalen sudah keluar ruangan. Ia bisa melihat Rena dengan panik memencet tombol lift.


"Ren kenapa? Hoi!" Rena tidak peduli. Ia terus menekan tombol itu. "Ini kenapa nggak bisa kebuka sih?" Suara Rena meninggi.


Nalen memegang bahu Rena. "Rena, liat aku! Rena! Rena!" Menggoyang bahu Rena.


Mata Rena yang terlihat kosong dan bingung. Menemukan Nalen di depannya.


"Nalen?"


"Nalen-Nalen, Kenan-Kenan demam dirumah sakit" Mata Rena berembun. Tubuh Rena bergetar.


"Oke kamu tenang, kita kesana aku anter" Air mata Rena menganak sungai. Ia mengangguk.


"Tenang tarik nafas. Sekarang jawab dirumah sakit mana?" Nalen merangkul Rena. Wanita itu lemas.


"Ibu anak" suara sesenggukan.


Rena membuka mobilnya saat Nalen belum siap untuk berhenti. Nalen yang terkejut memaki Rena. Wanita itu kalau panik benar-benar serampangan.


Rena berlari ke lobby rumah sakit dan berhenti di resepsionis. "Permisi atas nama Kenan Delino dimana?"


"Sebentar nyonya," pekerja itu menemukan nama Kenan Delino. "Poli anak disebelah kanan, ruang Dino 3-12"


"Terima kasih" Nalen melihat kemana Rena berjalan lelaki itu mengikutinya. Didepan sana Rena melihat sosok Jum.


"Mbok-mbok mana Kenan? Mana Mbok?" Rena berjalan menghampiri Jum bertanya dengan tidak sabar. Panik, Cemas dan takut,  saat melihat tampang Jum yang berantakan.


"Di dalam Bu bos" ucap Jum perlahan. "Sedang tidur, kata dokter sudah tidak apa, untuk cepat dibawa kemari, maafkan Mbok Jum Bu bos," kembali tangis Jum terisak.


"Iya, nggak apa, Mbok Jum sudah bertindak cepat Mbok Jum, aku masuk dulu" 


"Iya Bu bos." Rena melangkah masuk. Didalam ia melihat jagoannya terbaring di ranjang rumah sakit. Ini pertama kalinya, rasanya jantungnya jatuh ke perut. Tangis Rena mengiringi langkah cepatnya menuju sang anak.


"Jagoan ibok, kenapa sayang? Mana yang sakit?" Rena memeluk ia melihat miris tangan mungil roti sobek anaknya tertancap jarum infus.


Robek hatinya. Ia mengecupi kepala anaknya. Yang masih panas. Rasanya sakit melihat anak yang selalu aktif itu terbaring lemah. Tangis Rena semakin sesenggukan.


Rena tidak menyadari disana juga ada seseorang menatap dirinya dengan rasa rindu mendalam.


"Bok" tangis Rena membangunkan jagoannya.


"Eh jagoan Ibok sudah bangun, sakitnya dimana?"


"Dicini" tunjuknya dengan tangan, yang mengenakan infus. Ia melihat infusan itu bingung. Tangan yang satunya ingin meraih infusan.


"Abang, nggak boleh ya?" Rena menghentikan tangan Kenan.


"Mana yang sakit?" Kenan menggerakan tangan yang diinfus menunjuk tenggorokannya.


"Nah ini buat melawan kuman raksasa yang nakal di sini, jadi abang nggak boleh pegang ya?" Kenan mengangguk.


"Pintar, jadi kapten harus bersabar ya tunggu ini sedang melawan kuman raksasa," Kenan mengangguk lagi.


"Pinternya jagoan ibok" kembali Rena mengecup wajah Kenan.


"Oom duduk" panggil Kenan lemah. Rena mengurai pelukannya dengan sang anak. Ia menengok mengikut arah pandang anak gempalnya.


Wajah Rena pias, darahnya seakan disedot habis. Mata mereka bersiborok, lelaki itu, lelaki yang menghilang dirinya dan anaknya. Lelaki yang tega meninggalkan dirinya dengan anaknya.


Lelaki kerdus! Lelaki bren gsek! Ba jingan! Sialaan! Umpatan itu tidak bisa ia keluarkan saat lelaki itu mendekat dengan sebuah kursi beroda yang membawanya. Rena hanya tertegun dengan menatap lurus pada lelaki itu.


"Hai jagoan Oom" Suara lembut yang lama Rena ingin dengar.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2