Dendam Sang CEO Tampan

Dendam Sang CEO Tampan
Bab 48. Berakhir


__ADS_3

Raka dibuat kikuk, ia juga tidak menyangkan jika anaknya akan memanggilnya begitu dan menjadi kebiasaan.


Dan melihat reaksi keluarga Rena sama seperti reaksi Rena. Rasa bersalahnya semakin besar. Bermula dari kecelakaan Raka dengan Padma. Padma meninggal ditempat. Dan hebatnya Raka selamat, padahal ia tidak mengira akan selamat.


Ia terguling di dalam mobil terbuka lalu mencoba menyelamatkan diri. Raka melompat dari dalam mobil. Dan naasnya malah terjun bebas masuk ke jurang.


Tersangkut di dahan-dahan pohon, ia terjatuh duduk menyebabkan kakinya lumpuh. Kata dokternya bisa sembuh tapi perlu waktu. Raka dengan tekad kuat untuk anak dan istrinya ia fokus penyembuhannya.


Tetapi pilihan Raka itu salah, sangat salah. Ia sama saja dengan meninggalkan lagi Rena tanpa kejelasan.


Keputusannya sebenarnya bukan hanya ia fokus penyembuhan tapi ia merasa akan menjadi beban Rena. Dimana harusnya ia juga ikut merawat anak mereka tapi Rena harus merawat dirinya.


Juga ia minder jika nanti Rena lebih memilih untuk meninggalkan dirinya. Bahkan Raka menganggap kalau ini sebuah karma yang harus ia bayar. Karmanya pada Rena.


Menyalahkan wanita itu untuk sesuatu yang bukan salah Rena. Ia masih saja bersikeras melanjutkan dendamnya disaat jelas-jelas ia melihat bagaimana keluarga Rena memperlakukan wanita itu dengan tidak adil.


Ia benar-benar ba jingan bi adap. Yang membuat suatu pernikahan sakral menjadi sebuah lelucon. Ia sudah mendapatkan balasannya.


Para karyawan yang ada disana seakan sadar ini adalah masalah keluarga mereka pamit. Walau baginda pangeran keberatan dan merengek. Mereka bisa pergi dari ruangan yang terasa seperti medan perang.


"Kenapa kau kembali Raka?" Nami membuka suara setelah Kenan tertidur akibat obat yang diminumnya.


"Raka minta maaf Bunda" Raka menunduk. Ia bertekad untuk meminta maaf.


"Salah terbesarmu bukan dengan kami, tapi dengan anak dan istrimu"


"Dan apa-apaan Kenan memanggilmu dengan sebutan Om? Kalau kamu tidak mau mengakui Kenan sebagai anak, kamu tidak perlu khawatir, karena masih banyak yang ingin menjadikan Kenan anak. Kau tinggal siapkan saja surat cerai, agar Rena cepat mendapatkan ayah untuk Kenan"


"Aku lho nggak ngerti kok bisa ada yang mau membuang bocah lucu, cerdas dan pintar seperti cucuku ini"


"Tapi kami nggak rugi juga, kehilangan seseorang yang memang tidak pantas berada di tengah-tengah kami!"


Brak!

__ADS_1


"Kalian tahu apa? Hah! Kalian tidak tahu seberapa terpuruk juga menderita Raka selama dua tahun ini!"


"Mia!" Peringat Raka.


"Kalian orang paling tidak punya hati, bagaimana jatuh bangun Raka harus berjuang!"


"Mia cukup!"


"Hei wanita muda kau siapa? Pacar Raka? Mungkin dirimu yang tidak tahu apapun disini!" Sara ikut maju, 


"Jangan dikira aku tidak tahu, wanita busuk sepertimu! Aku tidak akan melepaskan kuman-kuman busuk sepertimu yang suka sekali merusak pernikahan orang lain,"


"Dengan mengatasnamakan cinta! Tahik kucing!"


Mia beringsut ke belakang kursi roda Raka. Menggeser Rena.


"Kalau nyalimu hanya seupil tolong jangan jadi pahlawan kesiangan!" Bisik lirih Rena pada Mia, dan itu terdengar Raka.


Mia menggeleng. Wanita itu mencengkram erat pegangan kursi roda Raka. Ingin sekali membawa Raka keluar dari sini.


"Keluar Mia, ini bukan urusanmu!" Suara Raka meninggi. Ini pertama kalinya Mia dapatkan. Hati Mia mencelos. Ia menunduk dan keluar. Raka menghela kasar nafasnya.


"Raka mungkin kita perlu bicara berdua. Maaf kesayangan, Rena selesaikan dulu berdua. Ayo kita ke taman saja." Rena mendorong kursi roda Raka. Mereka melewati Mia dengan mata sembab.


Raka merasa bersalah. Ia membentak Mia. "Kenapa kau mau menenangkan dia dulu?" Raka menggeleng. Kembali Rena mendorong kursi roda Raka. Meninggalkan Mia dalam kesenduhan. 


"Raka kau tahu apa yang aku nggak suka darimu? Kau terlalu baik pada wanita lain. Baik boleh tapi jika itu menyakiti pasangan berarti itu kebodohan"


"Dan itu kamu, kebodohan, khasus ini sama seperti dengan Almarhum Padma. Kau mau saja diancam dengan dendam masa lalumu padaku, disitu aku yang merasa tidak pantas mendampingimu. Karena orang tuaku kamu kehilang orang tuamu."


"Aku yang akan merelakanmu jika saat itu kamu melepasku karena aku merasa berdosa atas kelakuan orang tuaku. Dan kamu harus tahu mereka bukan orang tua kandungku"


Raka melebarkan matanya. Ia tentu terkejut dengan fakta sesungguhnya.

__ADS_1


"Aku pun tak terlalu peduli jika mereka sayang atau tidak denganku, karena kau aku mengenal seorang nenek baik hati dan sangat menyayangiku. Eyang Doroty."


"Saat aku melahirkan Kenan aku sempat koma selama dua bulanan. Eyang memanggil semua keluarga dan orang tuaku datang hanya melihatku sebentar dan pergi. Mereka memang tidak sayang padaku, maka aku tidak bisa memaksa."


"Sakit tapi setelah mengetahui kebenaran aku bisa mengerti mengapa mereka begitu. Eyang yang murka saat itu perusahaan Joel yang terimbas."


"Jika Bang Davis tidak turun tangan maka entah bagaimana nasib kedua orang tuaku. Bang Davis ia sekarang menetap di indonesia. Pada Padma ia sama sepertimu padaku. Balas dendam"


"Maaf"


"Aku yang harusnya minta maaf atas nama orang tuaku, juga Bang Davis, kami meminta maaf sebesar-besarnya pada Raka Delino Imam."


Raka tergugu, entah mendengar permintaan maaf dari Rena merasa beban beratnya selama ini terangkat. Lepas.


"Saat kamu pergi dan hilang, aku pikir kamu sudah muak, tak mau melihatku, aku bahkan bertemu denganmu di ladang chamomile, tapi kamu malah meninggalkan aku. Aku pikir itu pertanda kamu ingin lepas dari kami."


Air mata Rena mengalir, mengusap berkali pun tidak berguna, karena semakin lama semakin deras.


"Aku tidak tahu dua tahun ini bagaimana kamu berjuang dan kamu tidak tahu bagaimana aku berjuang, ini menyakitkan. Sangat menyakitkan Raka." 


Mereka menangis Raka membenarkan semua perkataan Rena. Ini menyakitkan.


"Jadi apa keinginanmu?" 


"Lepas. Memperbaiki diri, dan jika takdir mempertemukan hati kita kembali, maka kembali, tapi jika salah satu dari kita terpaut dengan yang lain, maka bahagia sendiri-sendiri."


"Untuk Kenan aku akan persilahkan kamu temui kapanpun, aku tidak membatasimu, karena aku ingin Kenan mendapatkan kasih sayang yang melimpah"


Raka tidak terlalu setuju sebenarnya, melepaskan Rena adalah hal yang berat. Dia mungkin bisa menjauh.


Tidak masalah jika harus kembali memantau mereka, bedanya saat ini ia bisa berdekatan dengan anaknya. Dan dia akan berjanji untuk menjaga hatinya untuk Rena. Raka yakin kali ini mereka berjodoh.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2